Rembang – AswinNews.com — Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada periode 8–14 Januari 2026 menimbulkan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Selain kerusakan fisik, bencana tersebut juga memukul sektor ekonomi warga di wilayah terdampak.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rembang (BPBD Rembang), Sri Jarwati, mengungkapkan bahwa total kerugian akibat banjir dan longsor diperkirakan mencapai Rp 2 miliar.
Kerugian tersebut mencakup kerusakan rumah warga, fasilitas umum, serta dampak ekonomi pada berbagai sektor, antara lain pendidikan, pertanian, pekerjaan umum, perikanan, dan kesehatan.
“Secara umum penanganan darurat berjalan cukup baik berkat koordinasi lintas sektor yang solid.
Masa tanggap darurat berlangsung sejak 8 hingga 14 Januari 2026, dan BPBD terus bergerak melakukan penanganan darurat,” ujar Sri Jarwati kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (15/1/2026).
Untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak—mengingat selama bencana banyak warga tidak dapat bekerja—pemerintah menyalurkan bantuan berupa sembako, pakaian, terpal, dan kebutuhan dasar lainnya.
BPBD juga telah menyalurkan bantuan ke 23 desa yang rumah warganya terdampak langsung banjir dan longsor.
Selain bantuan logistik, BPBD bersama pemerintah desa melaksanakan sejumlah kegiatan pemulihan, seperti kerja bakti lingkungan dan permukiman, serta perbaikan darurat sarana dan prasarana. Beberapa fasilitas umum telah berhasil dibersihkan dan kembali difungsikan.
Sri Jarwati menambahkan, kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak banjir telah kembali berjalan.
Namun demikian, masih terdapat sejumlah siswa yang belum kembali bersekolah karena rumah mereka terdampak bencana.
Saat ini, sebagian warga masih mengungsi di rumah kerabat.
Ia juga menegaskan komitmen BPBD untuk terus mendampingi pemerintah desa selama masa darurat bencana.
Bantuan dan partisipasi dari para pemangku kepentingan hingga pemerintah daerah, kata dia, masih terus berdatangan.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Jarwati kembali mengingatkan warga yang tinggal di daerah perbukitan dan bantaran sungai agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan evakuasi mandiri bila terjadi kondisi darurat.
“Masyarakat perlu mengenali karakteristik dan potensi bencana di wilayah masing-masing, sehingga saat terjadi peristiwa mereka dapat segera menyelamatkan diri dan meminimalkan kerugian serta korban jiwa,” pungkasnya.
Terkait penanganan lanjutan, Sri Jarwati mengakui masih terdapat kendala akibat cuaca yang sangat ekstrem. “Penanganan dari dinas teknis belum dapat dilakukan maksimal karena faktor cuaca. Kami menunggu kondisi kembali normal untuk penanganan lanjutan,” jelasnya.
Berdasarkan data BPBD per Rabu (14/1/2026), banjir dan longsor di Kabupaten Rembang berdampak luas pada 23 desa yang tersebar di 10 kecamatan.
🖊️ Laporan Jurnalis: Wibowo
✍️ Editor: Abah Roy | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan
![]()
