Oplus_16908288
Penulis: Yoseph
Editor: Rahmat Kartolo
Redaksi Aswinnews.com
Bandung, Jawa Barat | Aswinnews.com —
Pertandingan sepak bola, khususnya di level turnamen daerah, merupakan fenomena sosial yang kompleks. Di dalamnya terdapat semangat persatuan, kebanggaan daerah, sekaligus potensi konflik. Ketika fanatisme tidak diiringi pemahaman etika dan sportivitas, sepak bola justru berubah menjadi ruang kekerasan yang mencederai nilai luhur olahraga itu sendiri.
Insiden kericuhan dalam pertandingan bukan hanya merusak citra olahraga, tetapi juga berpotensi menimbulkan korban jiwa dan kerugian material. Tragedi Kanjuruhan 2022 yang menewaskan 135 orang seharusnya menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan dalam sepak bola bukan persoalan sepele.
Fenomena ini kerap dipicu oleh ketidakpuasan terhadap hasil pertandingan, keputusan wasit, maupun provokasi antar suporter. Fanatisme yang seharusnya menjadi bentuk dukungan positif berubah menjadi perilaku agresif ketika tim kesayangan mengalami kekalahan.
Di Indonesia, rivalitas antarsuporter sering kali berkembang menjadi konflik sosial, bahkan meluas ke luar stadion dan media sosial dalam bentuk ejekan, provokasi, dan penghasutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat olahraga kita belum sepenuhnya siap menerima kekalahan secara dewasa.
FIFA sendiri berulang kali mengecam insiden kericuhan yang menghambat kemajuan sepak bola, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, upaya membangun persaudaraan antarsuporter dan komunitas pendukung perdamaian harus terus digalakkan secara serius dan berkelanjutan.
Ketua Organisasi Media DPC ASWIN sekaligus pemerhati sepak bola Purwakarta, Yoseph Hamdy, menyampaikan kekecewaannya atas keributan yang terjadi dalam Open Turnamen Mabes Cup di Cikalong Wetan.
“Turnamen sepak bola yang seharusnya menjadi ajang persatuan dan sportivitas justru berakhir dengan keributan. Ini bukan sepak bola yang kami cintai. Ajang yang seharusnya menjunjung tinggi fair play malah berubah menjadi medan tawuran,” ujarnya.
Ia mempertanyakan nilai-nilai sportivitas yang selama ini sering digaungkan.
“Di mana nilai fair play dan persaudaraan itu? Kekalahan memang menyakitkan, tetapi kerusuhan jauh lebih menyakitkan. Ini mencoreng nama baik tim, daerah, dan seluruh pencinta sepak bola sejati. Kami datang untuk mendukung, bukan untuk menyaksikan perkelahian, pemukulan, dan pengeroyokan. Perilaku oknum seperti ini justru merusak dan mencederai sepak bola itu sendiri,” tegasnya.
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, diperlukan pendekatan komprehensif dan konsisten dari seluruh pemangku kepentingan.
Sepak bola seharusnya menjadi ruang kegembiraan, persaudaraan, dan pendidikan karakter. Tanpa kedewasaan menerima kemenangan dan kekalahan, sepak bola akan terus menjadi sumber konflik, bukan kebanggaan bersama.
Aswinnews.com – Tajam, Berimbang, dan Ter-Update
BENGKULU – Aswinnews.com – Seorang warga Kota Bengkulu bernama Miya mengaku tidak mendapatkan pelayanan di…
LHOKNGA – Aswinnews.com – Indonesian Rupiah banknotes that are no longer fit for circulation have…
MERAK, BANTEN | Aswinnews.com – Dalam upaya memperkuat kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, Pro Jurnalismedia…
KEPULAUAN MERANTI | Aswinnews.com – Upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini terus…
BINJAI | Aswinnews.com – Pemerintah Kota (Pemko) Binjai bergerak cepat menangani insiden pohon tumbang yang…
CIREBON | Aswinnews.com – Polresta Cirebon menggelar Upacara Penyerahan Jabatan dan Pelepasan Wakapolresta Cirebon, AKBP…