MAJALENGKA,Aswinnews.com – Pengukuhan Komite Ekonomi Kreatif Majalengka sekaligus puncak perayaan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) berlangsung meriah dan sarat pesan penting terkait arah pengembangan ekraf di daerah. Ketua Komite Ekonomi Kreatif Majalengka yang baru dikukuhkan, H. Baya, menegaskan bahwa fokus utama ke depan adalah membangun jati diri produk ekonomi kreatif Majalengka agar mampu bersaing sekaligus merepresentasikan kekayaan budaya lokal.
Dalam pernyataannya, H.Baya menyoroti bahwa Majalengka memiliki banyak kreativitas yang tumbuh dari berbagai subsektor, namun masih membutuhkan penyatuan karakter agar memiliki ciri khas yang kuat.

“Di Majalengka itu banyak kreativitas yang harus dikembangkan. Kita harus mempunyai jati diri. Makanya budaya seperti tadi Edelweis dengan bunga matahari dua budaya yang berbeda kita satukan agar menjadi satu ciri jati diri produk Majalengka,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa jika hanya satu produk yang diangkat sebagai ikon, akan muncul rasa kecemburuan dari pelaku subsektor lain karena jumlah produk kreatif Majalengka sangat beragam. Karena itu, pendekatan yang diambil adalah menyatukan berbagai produk dan elemen budaya menjadi satu identitas bersama, yang nantinya mengarah pada konsep produk Pancaleta yang merepresentasikan karakter Majalengka secara lebih luas.

Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Ekraf Majalengka
H. Baya juga menekankan bahwa pengembangan ekraf tidak hanya bertumpu pada generasi muda atau pelaku ekonomi kreatif yang sudah berjalan saja, tetapi harus melibatkan semua unsur budaya dan komunitas seni.
“Harapannya, karena ini bersifat seni dan pembentukan individu pelaku ekonomi kreatif, kita satukan dan berkolaborasi menjadi satu produk yang bisa menceritakan Majalengka. Kita pilih karakternya dan kembangkan dari semua aspek,” jelasnya.
Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem kreatif, apalagi Majalengka memiliki pelaku ekraf dari 17 subsektor yang terus berkembang.

Program Terdekat: Pengembangan Kopi Lokal
Pada kesempatan tersebut, H. Baya juga mengungkapkan program terdekat yang akan digarap oleh Komite Ekraf yang dipimpinnya, yaitu penguatan komoditas kopi khas Majalengka.
“Program terdekat kita mulai dari penanaman bibit kopi, pemilihan bibit, sampai menjadikannya satu produk. Kita sudah ada kopi Ucuk Ibu, yaitu Jahim, itu sudah mulai bergerak,” jelasnya.
Ia berharap dalam beberapa bulan ke depan dapat dilaksanakan panen raya Kopi Ucuk Ibu, salah satu komoditas lokal yang berpotensi menjadi ikon baru ekonomi kreatif Majalengka.
Pelantikan Komite Ekonomi Kreatif dan puncak Hekrafnas tahun ini menjadi momentum penting bagi Majalengka untuk memperkuat identitas, membangun kolaborasi lintas sektor, serta menegaskan komitmen dalam memajukan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berkarakter lokal.***
![]()
