✍️ Penulis: Hayat
Ketua DPC ASWIN Pringsewu
🖋️ Editor: Kenzo – Redaksi
📍 Pringsewu | ASWINNEWS.COM — Tajam, Akurat, Berimbang, Terpercaya dan Ter-update
Pringsewu — Aswinnews.com
Di tengah status Lampung sebagai lumbung singkong, masyarakat Pringsewu hari ini seolah diminta menikmati kemeriahan digital ketimbang penyelesaian masalah yang lebih mendesak. Lubang-lubang menganga di jalan kabupaten, atap sekolah yang nyaris runtuh, hingga persoalan sanitasi dan sampah yang menggunung mendadak seolah bukan lagi prioritas.
Sebab akhir pekan ini, SMPN 1 Gadingrejo berubah menjadi studio konten kreator raksasa, menjadi lokasi acara “Masak Besar Bersama” yang menghadirkan selebritas internet Willie Salim. Ratusan pelajar dan warga berdesakan menyaksikan gelaran yang mempromosikan mimpi menjadi viral sebagai jalan pintas menuju sukses.
Acara itu juga dihadiri Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas dan Wakil Bupati Umi Laila. Pesannya jelas: kamera dan tayangan layar tampak menjadi simbol kemajuan baru Pringsewu.

Infrastruktur bisa menunggu—yang penting live streaming jalan terus.
Ketika Ponsel Dianggap Jalan Keluar dari Semua Masalah
Acara ini dirayakan sebagai edukasi kreatif untuk menjadi konten kreator hanya dengan bermodalkan HP. Sebuah visi yang terdengar futuristik, namun pada saat bersamaan menyingkirkan isu-isu pendidikan yang lebih mendasar: mutu guru, fasilitas sekolah, dan akses air bersih.
Bupati memang sempat menyentuh isu singkong—komoditas utama Pringsewu—yang harganya belum bersahabat dengan petani. Jenis isu yang muncul seolah sekadar selingan, bukan urgensi. Di panggung tersebut, petani hanyalah catatan kaki, sementara like dan share menjadi tokoh utamanya.
GAPOKTAN diminta untuk aktif, lomba memasak mocaf dijanjikan, namun harga singkong tetap rendah, irigasi tetap rusak, jalan angkut tetap berbahaya.
Prioritas yang Terkubur dalam Gemerlap Konten
Saat influencer menjadi bintang utama pembangunan daerah, pertanyaan kritis pun menyeruak:
Mengapa kesehatan masyarakat masih kalah penting dari konten hiburan?
Mengapa penanganan sampah dan ancaman banjir musiman masih terabaikan?
Mengapa isu pertanian hanya muncul saat kamera menyala?
Alih-alih bergerak pada persoalan yang menyentuh langsung keberlangsungan hidup masyarakat, kebijakan yang diambil justru seolah mengejar popularitas semu.
Sukses di Medsos, Tetapi Gagal di Meja Kebijakan
Kisah sukses Lilis Putri sebagai Tiktoker lokal kembali dijadikan simbol keberhasilan generasi muda Pringsewu. Tetapi:
Apakah ukuran sukses satu daerah kini sebatas viral di media sosial?
Kapan datang masa di mana kita bisa bangga karena masyarakat:
dapat berobat tanpa harus ke luar kota?
dapat bersekolah di gedung yang layak dan aman?
dapat membawa hasil panen tanpa takut jalan memakan korban?
Kesimpulan: Kamera Tidak Bisa Menambal Lubang Jalan
“Masak Besar Bersama” mungkin berhasil menciptakan euforia sesaat. Namun ia gagal menyajikan menu yang paling publik butuhkan: tanggung jawab pembangunan dan solusi konkret.
Jika wajah Pringsewu di layar tampak cerah, realitas di darat tetap membayangi:
Di Pringsewu, tampaknya nyawa di jalan berlubang masih lebih murah daripada wajah yang tersenyum di depan kamera.
![]()
