oleh: Dr. Hardika Prayudi Styawan, S.Pd., M.Pd., M.M.
Ketua Himpunan Pendidik dan Pengajar Muda Indonesia
✍️ Editor: Kenzo | AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update
Fenomena feodalisme akademik masih menjadi persoalan serius di dunia pendidikan Indonesia, baik di sekolah maupun Perguruan Tinggi. Kultur senioritas yang berlebihan, penghormatan berlapis pada otoritas, hingga dominasi Guru atau Dosen senior seringkali menciptakan jarak sosial yang tidak sehat. Padahal, dalam era transformasi pendidikan yang menuntut kolaborasi, inovasi, dan keterbukaan, praktik feodalisme ini justru bisa menghambat perkembangan pendidik muda maupun kebebasan berpikir peserta didik.
Bagi Guru dan Dosen, tantangan terbesar adalah bagaimana menggeser paradigma relasi “senior–junior” menjadi relasi yang lebih egaliter. Guru atau Dosen senior memang memiliki pengalaman berharga, tetapi jika posisi ini dipraktikkan secara kaku, maka pendidik muda seringkali kehilangan ruang untuk berkreasi. Survei Tanoto Foundation (2023) menemukan bahwa 62% Guru muda di Indonesia merasa terhambat menyampaikan ide inovatif karena tekanan budaya senioritas. Hal serupa juga terlihat di Perguruan Tinggi, di mana Dosen junior kerap “tak berdaya” menghadapi tradisi akademik yang hierarkis, termasuk dalam penelitian maupun pengambilan keputusan.
Dampaknya, peserta didik pun ikut terkena imbas. Ketika suasana akademik lebih menekankan kepatuhan daripada dialog, mahasiswa dan siswa cenderung pasif dan takut mempertanyakan gagasan. Padahal, menurut Freire (1970) dalam konsep pedagogy of the oppressed, pendidikan seharusnya membebaskan manusia dari pola pikir yang mengekang, bukan justru mereproduksi sistem feodal yang membatasi kreativitas. Jika kondisi ini tidak segera direformasi, maka cita-cita pendidikan merdeka belajar hanya akan menjadi jargon tanpa implementasi nyata.
Oleh karena itu, transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan teknologi atau kurikulum baru, tetapi juga dengan membongkar kultur feodalisme akademik. Guru dan Dosen, baik senior maupun junior, perlu membangun ekosistem yang kolaboratif, terbuka pada ide-ide segar, dan menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif pembelajaran. Inilah tantangan besar bagi kita semua yang menjadikan ruang kelas dan ruang kuliah sebagai arena dialog yang setara, di mana ilmu berkembang tanpa terhambat tembok hierarki yang kaku.
Salam Pejuang Pendidikan 🇮🇩
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis yang tidak selalu mencerminkan pandangan resmi redaksi AswinNews.com. Redaksi menilai topik “feodalisme akademik” penting untuk diangkat karena menyentuh akar persoalan pendidikan di Indonesia yang seringkali luput dari perhatian publik. Kritik ini diharapkan menjadi ruang dialog terbuka antara pendidik senior, pendidik muda, dan peserta didik, demi terciptanya ekosistem pendidikan yang benar-benar merdeka, egaliter, dan berkeadilan.
BENGKULU – Aswinnews.com – Seorang warga Kota Bengkulu bernama Miya mengaku tidak mendapatkan pelayanan di…
LHOKNGA – Aswinnews.com – Indonesian Rupiah banknotes that are no longer fit for circulation have…
MERAK, BANTEN | Aswinnews.com – Dalam upaya memperkuat kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, Pro Jurnalismedia…
KEPULAUAN MERANTI | Aswinnews.com – Upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini terus…
BINJAI | Aswinnews.com – Pemerintah Kota (Pemko) Binjai bergerak cepat menangani insiden pohon tumbang yang…
CIREBON | Aswinnews.com – Polresta Cirebon menggelar Upacara Penyerahan Jabatan dan Pelepasan Wakapolresta Cirebon, AKBP…