Refleksi 79 Tahun Syaykh Panji Gumilang: “Mimpi Besar untuk Indonesia Abadi Lewat Revolusi Pendidikan”

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME
🖋️ Jurnalis: Sunjaya
✍️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Berimbang, Terpercaya dan Ter-Update


INDRAMAYU, 1 Agustus 2025 — Dalam usia yang ke-79 tahun, Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang memilih momen kelahiran sebagai ajang refleksi mendalam, bukan sekadar perayaan. Melalui forum bertajuk “Bincang Bersama sebagai Manifestasi Doa Usia 79 Tahun Syaykh Al-Zaytun”, beliau mengajak tokoh pendidikan, akademisi, jurnalis, dan masyarakat umum untuk menyelami perjalanan hidupnya serta menanam gagasan masa depan: Indonesia Abadi melalui investasi pendidikan.

Jejak Masa Kecil yang Membentuk Jati Diri

Panji Gumilang kecil tumbuh dalam keluarga sederhana di desa. Ia mengenang masa ketika sekolah dianggap mewah. Didikan keras dan bijak dari orang tuanya membentuk karakter kepemimpinan sejak dini. Sang ayah mengajarinya mandiri, dan sang ibu menanamkan nilai amanah dan kecermatan sejak dini—mulai dari berdagang jagung hingga menyimpan uang di celengan bambu.

Kisah-kisah sederhana seperti ditolak masuk SD karena belum cukup umur, hingga mengajar orang tua dalam program Pemberantasan Buta Huruf saat ia masih kelas tiga, menunjukkan ketekunan dan semangat keikhlasan dalam mendidik. “Guru itu yang penting apa yang dibisa, disampaikan dengan ikhlas,” ujarnya, mengenang ajaran sang ibu.

Perjalanan Spiritual, Politik, dan Ekonomi: Pilar Visi Nasionalis-Religius

Didikan spiritual dan nasionalisme yang kuat menjadikannya pemikir unik. Ia mengidolakan Bung Karno dan Soeharto secara bersamaan: “Madzhabku Karno dalam perjuangan, dan Pak Harto dalam ekonomi.” Sebuah sintesis ideologis yang ia bawa sepanjang hidupnya.

Ia juga menegaskan pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa, dengan pengalaman dari Gontor hingga IAIN Jakarta, yang ia tempuh dengan perjuangan finansial dan ideologis. Buku pertama yang dibelinya, Di Bawah Bendera Revolusi, menjadi kompas hidupnya.

Gagasan Pendidikan Revolusioner: 500 Kampus Asrama untuk Indonesia Abadi

Bagi Syaykh Panji Gumilang, kunci kebangkitan Indonesia bukan pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi melalui investasi dalam manusia. Ia menawarkan solusi konkret: membangun 500 kampus berasrama di seluruh Indonesia, masing-masing di atas lahan 3.000 hektare. “Bukan untuk sawit, tapi untuk menanam pelajar yang kelak jadi pemimpin,” ujarnya.

Dengan estimasi biaya Rp10 triliun per kampus, proyek ini membutuhkan 2,5 periode kepemimpinan nasional untuk rampung. “Jepang bangkit dalam 15 tahun pasca-perang. Indonesia bisa, asal kita mulai dari sekarang,” tegasnya.

Mengubah Narasi Bangsa: Dari “Harga Mati” Menjadi “Indonesia Abadi”

Syaykh mengkritik istilah “NKRI harga mati” dan menggantinya dengan visi “Indonesia Abadi”. Menurutnya, istilah “harga mati” adalah bentuk stagnasi. “Indonesia tidak boleh mati. Ia harus abadi, dan itu dimulai dari pendidikan,” katanya.

Al-Zaytun menjadi bukti bahwa sistem pendidikan mandiri dan berasrama bisa diwujudkan tanpa APBN. Maka menurutnya, negara tak punya alasan untuk tidak memimpin transformasi ini.

Penutup: Mengukir Abadi dari Nol

Syaykh Panji Gumilang adalah contoh hidup bahwa dari “nol” bisa lahir tokoh besar jika diberi pendidikan dan nilai luhur. Di usia ke-79, ia mengajak bangsa Indonesia untuk berhenti berdebat, dan mulai membangun.

“Kalau nol itu masih berharga. Justru nol lah yang paling berharga di dunia ini,” katanya dengan penuh filosofi.

Refleksi ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi seruan nasional: bahwa hanya lewat revolusi pendidikan, Indonesia bisa menjadi bangsa yang abadi.


Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya reflektif dan dokumentatif. Redaksi menilai penting untuk menerbitkan pemikiran Syaykh Panji Gumilang sebagai bagian dari literasi pendidikan nasional. Segala bentuk interpretasi merupakan tanggung jawab pembaca sepenuhnya.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *