Mengenal Tradisi Persaudaraan dalam Duka di Mahad Al-Zaytun
🖋️ Penulis: Dr. Ali Aminulloh
🛠️ Editor: Abahroy
📍 Redaksi: AswinNews.com – Tajam, Akurat, Berimbang, Terpercaya dan Ter-Update
Ahad pagi, 13 Juli 2025. Di tengah rutinitas pagi Mahad Al-Zaytun yang biasa diwarnai aktivitas OKeKe (Olah Raga Kebugaran Kaki), kabar duka datang menyapa. Ibunda dari Usthazah Siti Khadijah—guru Madrasah Aliyah dan staf Sekretariat Pendidikan—telah wafat di Balaraja, Tangerang. Seketika, Ketua Majelis Guru, Drs. Purnomo, M.Pd., mengambil langkah cepat: menyiapkan surat ajuan izin takziyah, berkoordinasi dengan sekretariat, dan melaporkan kepada Syaykh. Tak hanya itu, dana santunan pun segera diajukan.
Bagi Al-Zaytun, ini bukan hal baru. Takziyah adalah bagian dari denyut hidup institusi—tradisi yang telah mengakar dan diwariskan sejak lama.
Tradisi yang Menyatukan: Duka sebagai Bahasa Cinta
Banyak yang mengira takziyah hanyalah rutinitas sosial. Namun di Al-Zaytun, ia menjadi wujud nilai spiritual dan kultural. Setiap kali ada civitas atau keluarganya wafat, unit terkait segera melapor. Yayasan bersama unit tersebut kemudian mengutus perwakilan untuk hadir langsung ke lokasi duka. Tak sekadar hadir, tapi juga membawa doa, penghormatan, dan santunan.
Bahkan, tiap unit memiliki kas solidaritas internal, salah satunya khusus untuk kegiatan takziyah. Inilah wajah empati yang terlembagakan—diatur, dijaga, dan dijalankan oleh semua unsur Mahad.
Sebagaimana sabda Rasulullah ď·ş:
“Barang siapa yang menghadiri jenazah sampai dishalatkan, maka baginya satu qirath. Dan barang siapa yang menyaksikannya hingga dimakamkan, maka baginya dua qirath.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Qirath” yang dimaksud, dalam hadits ini, digambarkan sebesar Gunung Uhud—pahala besar bagi siapa pun yang peduli pada duka saudaranya.
Solidaritas Sosial yang Hidup
Sosiolog Emile Durkheim menjelaskan bahwa solidaritas dalam masyarakat tradisional tumbuh dari nilai dan keyakinan yang sama. Di Al-Zaytun, nilai itu hadir dalam tradisi takziyah: menyatukan yang hidup dalam cinta, dan mengantar yang wafat dalam kehormatan.
Takziyah bukan hanya bentuk ibadah, tapi juga perekat sosial. Hadir di saat duka adalah bentuk cinta yang sejati, jauh lebih bermakna daripada hadir saat pesta.
Duka yang Tak Sendiri: Gotong Royong Pemakaman
Di Maqbarah Al-Zaytun, proses pemakaman dilakukan secara kolektif: penggalian kubur, pengkafanan, penguburan, hingga tahlilan—semua dilakukan dengan gotong royong. Tak ada transaksi uang. Tak ada hitungan jasa. Semua hadir dengan hati.
Jika jenazah dimakamkan di luar Mahad, pihak Mahad tetap mendampingi: menyediakan ambulans, sopir, biaya operasional, dan bahkan menjadi wakil keluarga yang tak bisa hadir. Setelahnya, setiap Jumat usai salat Jumat, Mahad rutin menggelar salat ghaib—untuk siapa saja dari keluarga besar Al-Zaytun yang telah wafat.
Epilog: Saat Persahabatan Melewati Batas Hidup
Di Al-Zaytun, kematian bukan akhir segalanya. Ia hanyalah pintu peralihan. Doa dan cinta terus mengalir bahkan ketika nafas telah berhenti.
Seperti firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan sejati bukan hanya saat tertawa bersama, tapi ketika air mata duka menetes, dan tangan-tangan sahabat hadir menguatkan. Takziyah di Al-Zaytun bukan sekadar budaya—ia adalah bukti bahwa cinta bisa tetap hidup, bahkan ketika kematian datang.
📍 Indramayu, 17 Juli 2025
Indramayu – AswinNews.com — Pengurus Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Indramayu masa bakti 2025–2030…
Tasikmalaya – AswinNews.com — Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mendorong pembatasan penggunaan gawai di lingkungan…
Kota Cirebon –AswinNew.com24 Mei - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, suasana penuh kebersamaan…
Cirebon –21 Mei 2026- AswinNews.com — Pondok Pesantren Madinatunnajah Kota Cirebon menggelar kegiatan Haflah Ikhtitam…
Langkat AswinNews,com. - Di tengah situasi gangguan kelistrikan atau black out yang terjadi di sejumlah…
Aceh 24 Mei 2026 –AswinNews.com- Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh, H. Fadhullah, S.E.,…