Di tengah berbagai tantangan hidup, tak sedikit orang tua yang menimbang keputusan menyekolahkan anak dari sisi biaya. Apalagi jika sekolah memerlukan partisipasi berupa infak, iuran komite, atau sumbangan sukarela. Pertanyaan pun bermunculan: “Apakah ini memberatkan?” atau “Untuk apa ikut menyumbang kalau sekolahnya katanya gratis?”
Pandangan seperti ini wajar, terlebih dalam situasi ekonomi yang tidak selalu mudah. Namun, mari kita renungkan bersama: apakah pendidikan anak-anak kita pantas ditakar hanya dengan untung rugi? Bukankah seharusnya kita memandangnya sebagai bagian dari ibadah dan investasi jangka panjang — dunia dan akhirat?
Pendidikan adalah Ladang Amal
Setiap rupiah yang kita keluarkan untuk pendidikan anak — jika diniatkan karena Allah — adalah sedekah. Apalagi jika dana itu digunakan untuk mendukung kegiatan belajar, memperbaiki fasilitas, membayar honor guru, atau menunjang kebutuhan sekolah. Itulah ladang amal yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah kita tiada.

Sekolah yang baik — termasuk yang swasta — bukanlah tempat mencari untung. Banyak di antaranya justru berjuang keras untuk bertahan hidup, membayar guru dengan layak, dan menjaga kualitas pembelajaran. Di sinilah peran komite dan partisipasi orang tua menjadi sangat penting. Infak dan dukungan bukan beban, melainkan “nafas tambahan” bagi keberlangsungan pendidikan.
Gratis Bukan Berarti Bebas Tanggung Jawab
Sekolah negeri memang disubsidi pemerintah melalui kebijakan pendidikan gratis. Tapi ‘gratis’ tidak selalu berarti semua kebutuhan siswa terpenuhi. Masih ada keperluan-keperluan lain yang tak tercover APBN: kegiatan keagamaan, pembinaan karakter, kebersihan, hingga ketahanan pangan kantin sekolah.
Adapun sekolah swasta, yang mandiri tanpa dana pemerintah, tetap menjunjung tinggi nilai pengabdian. Mereka memahami kondisi sebagian orang tua, namun tanpa dukungan kolektif, upaya menjaga kualitas pendidikan sulit dijalankan secara maksimal.
Menanam untuk Menuai Kebaikan
Anak-anak kita bukan hanya akan tumbuh menjadi manusia produktif, tapi juga akan menjadi penyambung doa, ladang amal jariyah, dan penerus nilai-nilai kebaikan. Maka menyekolahkan mereka — dengan niat yang tulus dan hati yang lapang — adalah wujud kesungguhan kita dalam menanam kebaikan, yang akan kita tuai bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Jangan pernah anggap infak pendidikan sebagai beban. Anggaplah itu sebagai tabungan tak terlihat, yang kelak akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih besar dan lebih mulia.
Penulis:
Drs. Rohiman
Pemerhati Pendidikan Formal
Editor:
Abah Roy
Redaksi Aswin News.Com
![]()
