Oleh Ali Aminulloh
aswinnews.com
Dalam lanskap pemahaman keagamaan dan kebangsaan Indonesia yang kaya, seringkali kita dihadapkan pada istilah-istilah yang memicu silang pendapat. Salah satunya adalah kata “Thawaf”, terutama ketika ia dikaitkan dengan istilah yang digunakan dalam kampus Al-Zaytun. Reaksi terkejut, bahkan tuduhan miring seperti “ngeres” yang menganggap Al-Zaytun melarang haji atau memindahkan kiblat ke Indonesia, kerap muncul. Fenomena ini, yang kita saksikan berulang kali, sejatinya merupakan cerminan minimnya literasi dan pemahaman kontekstual yang mendalam. Padahal, makna di balik istilah-istilah tersebut jauh lebih kaya dan beralasan, sebagaimana yang diterapkan dalam praktik di Al-Zaytun. Ketika pemandu tamu di Al-Zaytun menawarkan “thawaf”, sebagian orang mungkin terkejut, bahkan ada yang menuduh Al-Zaytun “melarang haji” atau menganggap “hajinya cukup di Al-Zaytun”. Persepsi-persepsi ini, yang seringkali bersifat menghakimi, berangkat dari pemahaman yang sempit dan kurangnya eksplorasi makna yang holistik.
“Thawaf” dalam Bingkai Etimologi dan Konteks Qur’ani: Memperluas Cakrawala Makna
Untuk memahami mengapa Al-Zaytun menggunakan istilah “thawaf” dalam konteks kunjungan kampus, kita perlu kembali ke akar kata dan ragam penggunaannya. Secara etimologi, kata “Thawaf” (طواف) berarti “berkeliling” atau “mengelilingi”. Makna dasar ini tidak bisa dimonopoli hanya untuk konteks mengelilingi Ka’bah sebagai salah satu rukun haji. Mengutip pandangan linguistik dan semantik, makna sebuah kata bersifat dinamis dan kontekstual. Sebuah kata dapat memiliki makna denotatif (harfiah) dan konotatif (asosiatif), serta makna yang berkembang sesuai dengan konteks penggunaannya dalam suatu wacana.
Dalam Al-Qur’an sendiri, kata “yathufu” dengan arti berkeliling atau dikelilingi dapat ditemukan dalam beberapa ayat dengan makna yang beragam. Misalnya, dalam Surat Al-Waqi’ah (56):17, disebutkan tentang “pemuda-pemuda yang senantiasa berkeliling untuk melayani ahli syurga.” Demikian pula dalam Surat Al-Insan (76):19, digambarkan “pemuda-pemuda yang tetap muda berkeliling di antara mereka.” Kedua ayat ini jelas menunjukkan makna “thawaf” sebagai aktivitas berkeliling secara umum, yang menggambarkan pelayanan atau pergerakan, bukan hanya terbatas pada ibadah haji. Barulah dalam konteks rukun haji, seperti di Surat Al-Baqarah (2):125 dan Al-Hajj (22):26, “thawaf” secara spesifik merujuk pada ritual mengelilingi Ka’bah. Hal ini menegaskan bahwa makna sebuah kata dapat bervariasi sesuai konteks penggunaannya, sebuah prinsip linguistik yang fundamental namun sering terabaikan dalam diskursus publik. Keterbatasan literasi, khususnya dalam memahami keragaman makna dan konteks historis-lingustik, seringkali menjadi pangkal tuduhan yang mudah dilontarkan, tanpa upaya mendalam untuk memahami konteks dan sejarah di balik suatu istilah. Ini adalah tantangan literasi yang perlu kita hadapi bersama.
“Thawaf” di Al-Zaytun: Menelusuri Ekosistem Pendidikan Terpadu dan Kemandirian Bangsa
Di Al-Zaytun, kata “thawaf” digunakan untuk menamakan kegiatan kunjungan berkeliling kampus yang terencana dan edukatif bagi para tamu. Ini adalah cara Al-Zaytun memperkenalkan visi, misi, dan ekosistem pendidikan mereka secara komprehensif, sebuah pendekatan yang dapat dikategorikan sebagai “edutourism” atau wisata edukasi. Kegiatan “thawaf” tamu ini diawali dengan penerimaan di Wisma Tamu Al-Islah, di mana petugas memberikan pengantar tentang sejarah, program, hingga sistem pemakanan di Al-Zaytun, menciptakan fondasi pemahaman sebelum eksplorasi lebih lanjut.
Setelah itu, tamu diajak berkeliling kampus dengan rute yang telah ditetapkan, mencakup berbagai aspek kehidupan dan pendidikan di sana, menunjukkan bagaimana teori dan praktik terintegrasi secara holistik:
Epilog: Merajut Toleransi, Membuka Cakrawala
Maka, ketika kita mendengar istilah-istilah yang familiar namun digunakan dalam konteks yang berbeda, janganlah terburu-buru menghakimi. Ada baiknya kita bertanya, mencari tahu, dan mencoba memahami perspektif yang berbeda. Pengalaman “thawaf” di Al-Zaytun adalah undangan untuk memperluas cakrawala pemahaman kita tentang pendidikan, kemandirian, dan interpretasi makna.
Ini adalah kisah tentang sebuah institusi yang berani bermimpi besar, berani berbeda, dan berani mewujudkan visinya tentang kemandirian dan kontribusi nyata bagi bangsa. Di tengah hiruk pikuk informasi dan disinformasi, Al-Zaytun mengajarkan kita bahwa literasi adalah kunci untuk membuka pintu pemahaman yang lebih dalam. Bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi juga tentang bagaimana itu diimplementasikan, dan apa dampaknya bagi pembentukan karakter dan kemajuan sebuah peradaban kecil yang bernama Al-Zaytun, yang sesungguhnya adalah miniatur dari harapan besar untuk Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Marilah kita belajar untuk melihat lebih dari sekadar permukaan, meresapi esensi, dan menghargai setiap upaya yang bertujuan untuk kebaikan bersama. Karena pada akhirnya, keberanian untuk memahami yang berbeda adalah jembatan menuju harmoni dan kemajuan.
Rembang,-aswinnews.com- PT Indoseafood (ISF) resmi kembali beroperasi setelah menyelesaikan seluruh proses perbaikan yang disyaratkan oleh…
MERANTI –aswinnews.com- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti kembali melakukan penyegaran birokrasi dengan melantik lima pejabat Administrator…
Kutambaru – ASWINNEWS.COM- Pemerintah Desa Namotongan, Kecamatan Kutambaru, Kabupaten Langkat, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa…
Kota Langsa – Aswinnews. com- Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana S. Putra, S.E., turun langsung…
Effort to Increase Protection for Workers in 5 Sectors in Lampung Province under the HUKATAN…
BANDAR LAMPUNG – Aswinnews.com – Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Kehutanan, Industri Umum, Perkayuan,…