🖋️ Oleh: Ali Aminullah, | Jurnalis: Sujaya
🛠️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang dan Ter-Update
INDRAMAYU – Di tengah gempuran modernisasi yang lekat dengan kendaraan bermotor, Mahad Al-Zaytun justru memilih jalur berbeda. Di kompleks pendidikan terpadu seluas 1.300 hektare yang terletak di Indramayu, Jawa Barat, bersepeda bukan sekadar pilihan transportasi, melainkan filosofi hidup dan bagian dari pendidikan karakter.
Kendaraan bermotor hanya diperbolehkan di tepi kawasan. Selebihnya, roda dua tanpa mesin menguasai ruang gerak—dari dosen, santri, pelajar ekstrakurikuler pertanian hingga anak-anak PAUD, semuanya mengayuh sepeda dalam kesederhanaan yang tertib dan penuh makna.
Budaya bersepeda di Al-Zaytun bukan semata urusan teknis atau logistik, tapi buah dari desain besar yang mengintegrasikan kesehatan fisik, ketertiban sosial, hingga pembentukan karakter. Setiap pagi, ratusan sepeda melintasi jalur khusus yang dilengkapi rambu-rambu, parkiran rapi, dan zona larangan kendaraan bermotor.
Menurut Harvard Health Publishing (2020), bersepeda memperkuat jantung, otot, dan mencegah penyakit kronis. Sementara penelitian Pucher & Buehler (2017) menunjukkan bahwa sistem ramah pesepeda mampu menciptakan masyarakat yang lebih aktif dan sehat. Di Al-Zaytun, teori ini hidup dalam praktik nyata.
Anak-anak PAUD yang terbiasa mengayuh sejak dini tak hanya membentuk otot kaki, tapi juga otot disiplin. Ini adalah pendidikan karakter sejak usia emas—tanpa slogan, tanpa retorika.
Yang membuat Al-Zaytun berbeda bukan hanya budaya internalnya, tetapi juga bagaimana sepeda menjadi alat diplomasi sosial dan nasionalisme. Melalui Asosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun (ASSA), sejak 2008 digelar berbagai tur jarak jauh: 2.000 km keliling Jawa-Madura, pra-Sumatera, dan Tur Tiga Negara (Malaysia, Singapura, Thailand) pada 2009. Pada 2017, sebanyak 405 peserta menyelesaikan tur keliling Pulau Jawa sejauh 2.727 km.
Dalam setiap etape, lagu Indonesia Raya dikumandangkan dua kali sehari. Bahkan di Gedung DPR RI. Inilah ekspresi nasionalisme melalui keringat dan jarak tempuh, bukan hanya melalui teks dan pidato.
Bersepeda di Al-Zaytun juga merupakan sistem pendidikan tak langsung. Setiap warga kampus tunduk pada aturan jalur sepeda dan zona parkir. Dalam kacamata Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991), ini merupakan hasil kombinasi dari sikap positif, norma sosial, dan kemudahan akses. Ketika tiga unsur ini terpenuhi, terbentuklah perilaku kolektif yang ajeg dan lestari.
“Budaya sepeda di sini tidak hanya mengantar tubuh, tetapi juga menyemaikan nilai dalam jiwa,” ujar salah satu pengurus pendidikan kepada AswinNews.com.
Di era yang dijejali kendaraan dan polusi, Al-Zaytun mengingatkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari gerakan kecil yang konsisten. Sepeda di Al-Zaytun bukan sekadar alat gerak, tetapi alat ajar, alat atur, dan alat diplomasi.
Masyarakat luar mungkin melihatnya sebagai kebiasaan unik. Tapi bagi civitas Al-Zaytun, ini adalah jalan hidup—cara membentuk masyarakat yang sadar ruang, sadar aturan, dan sadar masa depan bumi.
INDRAMAYU – AswinNews.com — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Wiralodra…
Indramayu Aswinnews.com – Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat dari , , S.H., M.M.,…
Rembang Aswinnews.com— Fenomena maraknya konten provokatif, ujaran kebencian, hingga perundungan siber (cyberbullying) di media sosial…
Pidie Aswinnews,com-Sarjani Abdullah (Bupati Pidie) menghadiri Rapat Koordinasi Pencegahan Korupsi Wilayah Aceh yang berlangsung di…
Langkat – AswinNews.com — Polsek Tanjung Pura jajaran Polres Langkat kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas…
Bengkulu – AswinNews.com — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Bengkulu menggelar Musyawarah Anak…