Oleh: Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., M.M.
Perang antara Iran dan Israel yang kini menjadi sorotan dunia seharusnya menjadi momen refleksi bagi umat Islam untuk bersatu dalam prinsip keadilan, kemanusiaan, dan ukhuwah Islamiyah, bukan malah terjebak dalam fanatisme mazhab atau sentimen sektarian yang justru memecah belah.
Perbedaan mazhab tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mencurigai, apalagi memusuhi sesama Muslim. Kita harus mampu membebaskan diri dari sikap merasa mazhab sendiri paling benar dan menolak pandangan yang mengunggulkan kelompok sendiri di atas yang lain.
Mengedepankan Prinsip Keadilan
Mayoritas ulama, dari Ibnu Taymiyyah hingga Dr. Yusuf al-Qaradawi, sepakat bahwa umat Islam wajib berpihak kepada pihak yang dizalimi, meskipun berbeda mazhab. Iran, meski bermazhab Syiah, secara nyata telah menunjukkan keberpihakan terhadap Palestina dan menjadi salah satu negara yang konsisten melawan penjajahan Israel.
Ini bukan soal menyetujui seluruh akidah Syiah, melainkan soal keberanian membela yang tertindas. Sikap ini harus ditempatkan di atas sentimen kelompok.
Bahaya Sentimen Sektarian
Narasi Sunni–Syiah sering kali dimanfaatkan oleh kekuatan global untuk memecah belah umat Islam. Dalam sejarah, Sunni dan Syiah pernah hidup berdampingan secara damai dan bahkan saling memperkaya dalam bidang keilmuan.
Hubungan antara Zaid bin Ali (tokoh Syiah Zaidiyah), Abu Hanifah (tokoh Sunni), dan Imam Ja’far ash-Shadiq (tokoh Syiah) menjadi bukti bahwa perbedaan tidak menghalangi mereka untuk saling menghormati dan belajar satu sama lain.
Seruan Ulama Dunia
Beberapa ulama terkemuka, seperti Buya Yahya, menegaskan bahwa ini bukan waktunya memperdebatkan akidah, melainkan saatnya umat Islam bersatu melawan kezaliman dan penjajahan. Bahkan Sheikh Assim al-Hakeem, ulama dari Arab Saudi, menyatakan bahwa umat Islam harus mendukung sesama Muslim yang tertindas, apapun mazhabnya.
Waspadai Perang Informasi
Umat Islam harus cerdas memilah informasi, karena banyak media internasional dan regional yang memperbesar ketegangan Sunni–Syiah untuk kepentingan geopolitik pihak tertentu. Jangan sampai kita menjadi korban narasi pecah-belah yang didesain untuk memperlemah solidaritas umat.
Perlu Solidaritas Islam yang Inklusif
Kini saatnya umat Islam menempatkan kebenaran di atas fanatisme. Dukungan terhadap Palestina dan perlawanan terhadap agresi Israel harus melampaui batas mazhab. Langkah berani Iran dalam menghadapi Israel dan Amerika perlu diapresiasi, karena dalam konteks hari ini, Iran adalah satu-satunya negara Islam yang berani secara terbuka melawan hegemoni Zionis dan sekutunya.
Mari kita membangun solidaritas Islam yang inklusif, berlandaskan kemanusiaan dan nurani bersama.
Editor,abahroy Redaksi
Penulis adalah Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).
![]()
