Gaza Berdarah, Mekkah Membisu: Sukses Haji atau Gagal Nurani?

Penulis: Abah Roy
Redaksi: Aswinnews.com

Dunia Islam baru saja menyelesaikan rangkaian ibadah haji dengan penuh khidmat. Jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci, mengenakan pakaian ihram, bertalbiyah, wukuf di Arafah, dan menyempurnakan rukun Islam kelima. Dari sisi teknis, pengelolaan haji disebut sukses — tertib, aman, dan lancar.

Namun, ada kegagalan besar yang luput dari sorotan — kegagalan nurani umat Islam.

Saat jutaan Muslim bertakbir dan berdoa di Mekkah, saudara mereka di Gaza justru bertakbir sambil menahan luka, kehilangan rumah, dan kehilangan nyawa. Genosida oleh Zionis Israel terus berlangsung. Bayi-bayi syahid, ibu-ibu ditimbun puing, para pejuang diserbu tanpa ampun.

Lalu pertanyaannya: Apakah ini yang kita sebut sebagai kesuksesan haji?

Haji: Antara Ritual dan Realitas

Ibadah haji bukan sekadar seremonial spiritual, tetapi puncak dari kesadaran kolektif umat Islam akan tauhid, persaudaraan, dan keadilan. Nabi Ibrahim bukan sekadar sosok pengorbanan, tapi juga simbol perlawanan terhadap tirani.

Maka, bagaimana bisa umat Islam berdiri di Arafah, menyebut nama Ibrahim, tapi membiarkan Gaza dibantai seperti binatang buruan?

Mekkah Sunyi, Gaza Menjerit

Mengapa tak ada seruan resmi dari Tanah Suci mengecam kejahatan Israel? Mengapa khutbah-khutbah di Masjidil Haram begitu steril dari penderitaan Palestina?

Apakah kita telah menjadikan haji sebagai rutinitas ibadah yang kehilangan nyawa perjuangan?

Sementara darah kaum Muslim di Gaza mengalir tanpa henti, umat Islam dunia justru sibuk mengunggah foto-foto selfie ibadahnya, dengan caption manis dan doa-doa pribadi, tapi tak satu pun tangis untuk Gaza.

Gagal Nurani Umat

Haji kita boleh sukses menurut dunia — tetapi gagal di hadapan langit jika umat ini lebih peduli pada kemewahan fasilitas hotel daripada pada reruntuhan masjid dan rumah di Gaza.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka.” (HR. al-Hakim)

Apakah kita benar-benar telah menjadi umat yang satu tubuh — atau hanya satu barisan foto bersama?

Kesimpulan: Antara Talbiyah dan Tanggung Jawab

Umat Islam harus sadar: haji sejati tidak berhenti di Mina, Arafah, atau Ka’bah, melainkan dilanjutkan dalam perjuangan membela kaum tertindas, di Gaza, di Rohingya, di Uighur, dan di manapun Islam dipijak-pijak.

Tanpa keberpihakan kepada Gaza, haji hanyalah ritual tahunan yang kehilangan ruh.
Tanpa keberanian mengecam penjajah, talbiyah hanyalah gema kosong tanpa makna.

Cirebon,15 Juni. 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *