Di balik ambisi jalan tol, suara rakyat kecil tenggelam. Petani tak butuh aspal mulus—mereka butuh air, bukan ilusi pembangunan yang hanya menguntungkan segelintir orang.
Oleh: Dudung Badrun, S.H., M.H.
Advokat, Tim Penasihat Hukum ASWIN
Indramayu , Aswinnews.com – Ketika Presiden berbicara soal konektivitas nasional, dan Gubernur menekankan pentingnya investasi, rakyat kecil di Indramayu menunduk menatap sawah mereka yang pecah-pecah, kering tanpa air. Di atas tanah yang sama, rencana jalan tol Kertajati–Indramayu digelar dengan gegap gempita. Tapi yang terdengar dari pelosok desa bukan tepuk tangan, melainkan tanya yang menggantung: “Untuk siapa sebenarnya jalan tol ini dibangun?”
Indramayu, kabupaten agraris yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, kini menghadapi ironi pembangunan. Pemerintah Kabupaten di bawah Bupati Luki Hakim dan Wakilnya Saefudin berambisi menjadikan tol ini sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi. Namun suara-suara dari desa berkata lain.
Di Dusun Tegalurung, Kecamatan Kandanghaur, kami menemui Pak Sarto, petani penggarap sejak 1995. Ia menunjuk saluran air yang dulu mengaliri sawahnya. Kini hanya selokan mati dipenuhi lumpur dan sampah plastik.
“Dulu panen dua kali setahun, sekarang sekali pun belum tentu berhasil. Saluran tersier di sini udah mati. Kami bukan butuh jalan tol, kami butuh air,” katanya lirih.
Data yang kami peroleh dari laporan independen LSM Tani Rakyat menunjukkan bahwa lebih dari 80% jaringan tersier di sistem Irigasi Rentang tidak berfungsi optimal. Ratusan hektare sawah terancam gagal tanam.
Tapi di tengah krisis air ini, pembangunan tol justru digadang-gadang menjadi prioritas. Proyek senilai triliunan ini akan menembus beberapa wilayah persawahan aktif. Ironisnya, sebagian lahan yang dibebaskan adalah lahan produktif dengan sistem irigasi rusak. Pertanyaannya, mengapa pemerintah tidak memperbaiki sistem irigasi terlebih dahulu?
Kami menyusuri Pasar Haurgeulis. Ibu Rini, seorang pedagang tempe dan sayur, khawatir pasar tradisional yang sudah sepi akan semakin mati.
“Katanya nanti ekonomi tumbuh. Tapi pembeli kami petani. Kalau sawah mereka gagal, mereka nggak punya uang buat belanja. Jalan tol malah bawa orang ke luar kota, bukan ke pasar ini,” ujarnya sambil menata dagangannya yang belum laku.
Menurut studi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Indramayu tahun 2024, lebih dari 65% kegiatan ekonomi rakyat Indramayu berbasis pertanian dan pasar lokal. Artinya, pertumbuhan berbasis jalan tol dan investasi luar belum tentu menjangkau mayoritas penduduk.
Ada aroma elitisme yang tak bisa disembunyikan. Penelusuran tim investigasi AswinNews menunjukkan bahwa konsorsium pembangunan tol ini melibatkan perusahaan konstruksi besar nasional yang sebelumnya juga menangani proyek Bandara Kertajati—bandara yang hingga kini belum optimal beroperasi.
Kritik publik mengarah pada kemungkinan adanya tumpang tindih kepentingan antara pembuat kebijakan dan pemilik proyek. Proses pembebasan lahan terkesan cepat dan minim sosialisasi. Beberapa warga mengaku ditekan untuk menyerahkan lahan dengan harga murah.
“Kalau nggak setuju, katanya kami akan kena gusur paksa lewat UU. Kami takut. Tapi kami belum tahu ini akan berdampak apa,” ujar seorang warga Desa Sukaperna yang minta namanya disamarkan.
Ardi Nugraha, aktivis muda dari Komunitas Petani Muda Indramayu, menilai proyek ini sebagai “pembangunan simbolik” yang jauh dari kebutuhan riil rakyat.
“Ini bukan anti-pembangunan. Tapi pembangunan yang tak mendengarkan. Di sini, jalan tol bukan solusi. Ia hanya akan jadi simbol kemewahan di tengah kemiskinan.”
Pemerintah daerah seolah menutup telinga. Tidak ada rencana konkret perbaikan sistem irigasi Rentang. Tidak ada stimulus pertanian. Tidak ada bantuan pasca gagal panen. Yang ada hanya peta trase jalan tol, brosur investor, dan peresmian yang glamor.
Pembangunan jalan tol Kertajati–Indramayu seharusnya menjadi peluang. Tapi jika dijalankan tanpa mendengarkan rakyat, ia hanya menjadi jalan menuju ketimpangan yang lebih dalam.
Petani Indramayu tak butuh kendaraan mewah melintas di atas tanah mereka. Mereka butuh air, harga hasil tani yang stabil, dan perhatian tulus dari pemimpinnya. Pembangunan sejati dimulai dari mendengar. Sayangnya, jalan tol ini dibangun dengan menutup telinga.
Penulis Sujaya,
Editor Kenzo,| Redaksi AswinNews – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update.
Banda Aceh – AswinNews.com — Koperasi Konsumen Syariah Garuda Bersatu Aceh sukses melaksanakan Rapat Anggota…
Oleh: Bahrudin El-ShiraazAktivis Intelektual, Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Geopolitik Timur Tengah Setiap perubahan besar…
Cirebon, –AswinNews.com-Kegiatan Kunjungan Kerja (Kunker) Pengawsan Anggota Komisi IV DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) RI (Republik…
BINJAI –Aswinnews.comSatuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Binjai berhasil meringkus dua pelaku pencurian sepeda motor (curanmor)…
Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan salah satu proyek strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto…
JAKARTA -AswiNews.com- Gelombang kritik terhadap Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pasca pernyataan…