Universitas Bukan Mesin: Kritik atas Narasi Status Quo di UIN Ar-Raniry

Oleh :
Prof. Dr. Drs. TM. Jamil, M.Si
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh
Ketua Dewan Penasehat Assosiasi Wartawan Internasional (ASWIN) DPD Provinsi Aceh.

Kota Sabang – AswinNews.com —
Di tengah dinamika pemilihan rektor UIN Ar-Raniry, mulai berkembang narasi bahwa kampus ini sebaiknya tidak dipimpin oleh figur baru karena institusi dianggap sedang berada dalam kondisi “baik-baik saja”.

Bahkan ada yang menganalogikan UIN Ar-Raniry sebagai “mesin yang sedang panas” sehingga pergantian nahkoda dinilai berpotensi mengganggu laju kampus.

Sekilas, narasi tersebut terdengar rasional dan aman.

Namun sesungguhnya cara berpikir seperti ini menyimpan problem mendasar dalam dunia akademik.

Universitas diposisikan sekadar sebagai mesin birokrasi yang cukup dijaga agar tetap berjalan, bukan sebagai ruang intelektual yang harus terus diperbarui melalui regenerasi gagasan, keberanian kritik, dan kepemimpinan visioner.
Cara berpikir yang terlalu menekankan stabilitas sering kali lahir dari ketakutan terhadap perubahan.

Dalam banyak kasus, stabilitas bahkan dijadikan dalih untuk mempertahankan kenyamanan kelompok tertentu.

Akibatnya, perguruan tinggi kehilangan daya kritisnya dan perlahan berubah menjadi institusi birokratik yang miskin imajinasi akademik.

Di sinilah pentingnya membedakan antara continuity dan stagnation.

Kesinambungan kelembagaan memang penting, tetapi kesinambungan tidak identik dengan mempertahankan figur yang sama. Universitas yang sehat seharusnya memiliki sistem yang kuat, bukan ketergantungan pada individu tertentu.

Jika kemajuan kampus hanya diyakini bisa bertahan melalui satu figur, maka sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan kekuatan institusi, melainkan lemahnya proses kaderisasi akademik.
Pemikir Perancis, Michel Foucault, pernah mengingatkan bahwa kekuasaan bekerja bukan hanya melalui aturan formal, tetapi juga melalui produksi narasi dan pembentukan persepsi publik. Dalam konteks pemilihan rektor, narasi “mesin yang sedang panas” bukan sekadar metafora administratif yang netral, melainkan konstruksi wacana yang secara halus menggiring opini bahwa perubahan identik dengan ancaman, sementara mempertahankan status quo dianggap sebagai pilihan paling rasional.

Padahal sejarah universitas-universitas besar dunia menunjukkan hal berbeda. Regenerasi kepemimpinan justru sering menjadi titik lahirnya energi baru, inovasi baru, dan keberanian akademik baru. Kampus yang terlalu lama nyaman dengan pola lama biasanya perlahan kehilangan daya adaptasi terhadap perubahan global.

Memang harus diakui bahwa UIN Ar-Raniry dalam beberapa tahun terakhir mencatat berbagai capaian penting: akreditasi institusi unggul, bertambahnya jumlah guru besar, meningkatnya publikasi internasional, serta penguatan reputasi akademik. Semua itu layak diapresiasi secara objektif. Namun capaian institusi tidak boleh dipersonalisasi secara berlebihan seolah seluruh kemajuan lahir dari satu tangan.

Perguruan tinggi tumbuh melalui kerja kolektif:

dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, budaya akademik, dukungan negara, dan dinamika intelektual yang terus bergerak.

Ketika keberhasilan institusi terlalu dipusatkan pada satu figur, maka kultur akademik perlahan bergeser menjadi kultur patronase.

Dan patronase adalah musuh utama universitas modern.

Akademisi sejati seharusnya menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan, bukan larut menjadi bagian dari orkestrasi pujian.

Tradisi intelektual lahir dari keberanian berpikir independen, bukan dari kebiasaan membangun legitimasi melalui retorika akademis yang miskin objektivitas.

Dalam perspektif teori organisasi modern, institusi yang matang justru ditandai oleh kemampuannya melakukan transisi kepemimpinan secara elegan tanpa rasa takut kehilangan arah.

Pergantian kepemimpinan bukan ancaman, melainkan mekanisme normal untuk mencegah stagnasi ide dan konsentrasi pengaruh yang terlalu lama.

Selain itu, pemilihan rektor PTKIN tidak semata-mata berbasis evaluasi administratif.

Menteri Agama tentu mempertimbangkan banyak aspek strategis:

kebutuhan jangka panjang institusi, kemampuan membaca tantangan global pendidikan Islam, kapasitas membangun jejarin internasional, integritas moral, hingga kemampuan menjaga keseimbangan antara tradisi keislaman dan modernitas akademik.
Karena itu, publik perlu berhenti melihat pergantian kepemimpinan sebagai bentuk penolakan terhadap capaian sebelumnya.

Pergantian dapat dimaknai sebagai fase pembaruan orientasi, penyegaran visi, dan penyesuaian terhadap tantangan zaman yang terus berubah.

Apalagi UIN Ar-Raniry hari ini tidak miskin kader intelektual.

Banyak figur potensial memiliki kapasitas akademik, pengalaman struktural, jaringan internasional, dan legitimasi moral yang layak dipertimbangkan.

Kehadiran banyak kandidat berkualitas justru menunjukkan bahwa regenerasi di tubuh UIN Ar-Raniry berjalan sehat.
Tantangan pendidikan tinggi ke depan jauh lebih kompleks:

internasionalisasi kampus, kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, disrupsi digital, kompetisi publikasi global, penguatan riset interdisipliner, hingga krisis moral generasi digital.

Semua itu membutuhkan kepemimpinan visioner yang tidak hanya mampu menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga berani membuka arah baru.

Pada akhirnya, rektor bukan sekadar operator birokrasi yang memastikan mesin tetap menyala.

Rektor adalah nahkoda intelektual yang menentukan ke mana kapal besar bernama UIN Ar-Raniry akan berlayar.

Dan dalam dunia akademik, keberanian melakukan regenerasi sering kali bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa institusi tersebut cukup dewasa untuk tidak bergantung pada satu figur semata.
Kota Sabang, 10 Mei 2026

🖊️ Penulis: Prof. Dr. Drs. TM. Jamil, M.Si

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *