🖊️ Penulis: Harry
📍 Kontributor: Tim Investigasi
🛠️ Editor: Kenzo – Aswinnews.com
Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-update
MERANTI | ASWINNEWS.COM — Bau busuk menyengat dan air yang menghitam pekat kini menjadi pemandangan sehari-hari di Dusun Tanjung Baru, Desa Tanjung Darul Takzim, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Limbah sagu dari salah satu kilang diduga kuat mencemari Sungai Merinding, sumber utama penghidupan warga sekitar.
Warga menyebut, ampas sagu dari kilang milik seorang pengusaha bernama Aciau telah bertahun-tahun dibuang langsung ke sungai tanpa melalui pengolahan limbah.
“Air berubah warna, baunya busuk. Udang dan ikan sudah tidak ada lagi. Sungai sudah mati,” ujar seorang warga, Selasa (28/10/2025).
Pengusaha dianggap sulit ditemui dan terkesan tak peduli terhadap keluhan warga.
“Kalau mau jumpa pemiliknya susah. Dia hanya lewat laut naik sepet. Kami cuma bisa mengadu ke mandor, itu pun tidak ada solusi,” keluh warga lainnya.
Biota Air Punah, Nelayan Kehilangan Nafkah
Ketua RT 5 Dusun Tanjung Baru, Sarjono, membenarkan kerusakan ekosistem semakin parah.
“Mangrove saja sulit hidup. Sungai Merinding sekarang nyaris tak ada kehidupan,” ujarnya, Senin (27/10/2025).
Masyarakat yang bergantung pada hasil tangkapan sungai kini kehilangan sumber penghasilan dan menghadapi beban ekonomi berat.
Diduga Beroperasi Tanpa Izin Lingkungan Lengkap
Ketua Umum Ormas Gerakan Rakyat Kepulauan Meranti, Buyung, menilai operasi kilang tersebut menyalahi regulasi.
“Tidak ada Amdal, UKL-UPL, atau IPAL. Limbah dialirkan langsung ke sungai. Ini pencemaran serius dan melanggar UU No. 32 Tahun 2009,” tegasnya.
Ia meminta Pemkab Meranti bertindak cepat sebelum kerusakan semakin meluas dan memicu konflik sosial.
Pembelaan Pemilik Kilang Dinilai Arogan
Saat dikonfirmasi di kediamannya di Jalan Imam Bonjol, Selatpanjang, pemilik kilang Aciau memberikan pernyataan yang memicu kegeraman warga:
“Semua kilang sagu buang limbah begitu. Pemerintah yang seharusnya cari solusi.”
Pernyataan tersebut dianggap bentuk pembiaran dan ketidakpedulian terhadap lingkungan dan masyarakat terdampak.
“Jika semua kilang buang limbah sembarangan, laut akan jadi kubangan racun,” kata Buyung.
Warga Minta Pemerintah Jangan Tutup Mata
Warga dan berbagai ormas mendesak:
✅ Investigasi lapangan segera
✅ Penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran
✅ Pemulihan lingkungan Sungai Merinding
“Sungai sudah rusak, kami sudah menderita. Jangan tunggu ada konflik dulu baru turun!” tegas Sarjono.
Publik kini menunggu langkah tegas Pemkab Meranti, DLH, dan aparat penegak hukum dalam menindak perusahaan yang terbukti melanggar.
CATATAN REDAKSI
Berita ini disusun berdasarkan keterangan warga, tokoh masyarakat, dan aktivis lingkungan. Aswinnews.com telah menghubungi pemilik kilang untuk memperoleh tanggapan, dan pernyataannya telah dimuat dalam pemberitaan ini.
Aswinnews.com tetap membuka ruang klarifikasi lanjutan dari pihak perusahaan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, maupun DLH untuk menjaga asas keberimbangan informasi sesuai UU Pers.
![]()
