🖊️ Reporter: Harry
📍 Kontributor: Pemkab Bengkalis
🗞️ Editor: Kenzo | ASWINNEWS.COM – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
BENGKALIS –
Pernyataan optimistis yang dilontarkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bengkalis, dr. Ersan Saputra, tentang kondisi keuangan daerah yang “stabil dan baik-baik saja” menjadi polemik baru di tengah keresahan publik. Di sela kegiatan MTQ ke-43 Provinsi Riau di Taman Andam Dewi, Senin (23/6/2025), sang Sekda menyampaikan pernyataan yang justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.
🔎 Realita di Lapangan: “Kami Bertahan Hidup, Bukan Sekadar Bertugas”
Di balik kalimat “semua baik-baik saja”, masyarakat justru mencatat banyak hal yang tidak berjalan semestinya. Honor pegawai non-ASN tertunda berbulan-bulan, jasa pelayanan tenaga kesehatan belum dibayarkan sejak pertengahan 2024, bansos tak kunjung cair, dan harga bahan pokok terus merangkak naik.
“Kami hidup di bawah tekanan, tapi pejabat bilang semua baik-baik saja? Itu bukan solusi, itu pelecehan terhadap derita rakyat,” tegas Pian, warga Bantan, dengan nada kecewa.
Seorang perawat RSUD Bengkalis, yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan, juga menyuarakan hal serupa:
“Sudah lebih dari setahun kami kerja tanpa dibayar. Tapi mereka bilang anggaran aman? Kami bukan mesin. Kami juga punya keluarga yang harus makan.”
🧾 Transparansi Anggaran Dipertanyakan
Pernyataan Sekda yang menyebut kondisi fiskal daerah aman justru menimbulkan pertanyaan lebih dalam dari publik. Jika anggaran benar-benar “aman”, mengapa hak-hak dasar rakyat tidak terpenuhi?
Kritik tajam muncul dari berbagai tokoh masyarakat yang mulai gerah dengan narasi “penghiburan” yang dianggap tidak berdasarkan realita.
“Kalau memang stabil, buka datanya! Tunjukkan ke publik ke mana anggaran dialirkan. Jangan cuma main kata-kata,” tantang salah satu tokoh masyarakat Bantan.
🎭 Narasi Stabilitas dan Kepentingan Politik?
Di tengah perhelatan akbar MTQ dan tahun politik yang semakin dekat, sejumlah warga mencurigai bahwa narasi “stabilitas keuangan” yang digaungkan Sekda tidak lebih dari upaya menjaga citra pemerintahan.
Situasi ini menambah luka lama publik akan minimnya transparansi anggaran daerah. Sebagian publik menduga, ada prioritas yang salah dalam pengelolaan keuangan—lebih fokus pada seremoni ketimbang substansi kebutuhan dasar warga.
📢 Rakyat Butuh Bukti, Bukan Retorika
“Stabil” bukan soal ucapan, tetapi tentang gaji yang dibayarkan, bansos yang dicairkan, dan pelayanan publik yang berjalan. Bila tidak, kepercayaan publik hanya akan semakin tergerus oleh jargon-jargon yang kosong makna.
🛑 Pesan dari Masyarakat Bengkalis
Masyarakat tidak menolak pembangunan, juga tidak antipati terhadap kegiatan keagamaan seperti MTQ. Tapi, mereka menolak ketimpangan prioritas dan pengabaian terhadap kebutuhan dasar rakyat. Bengkalis tidak butuh penghiburan dari balik meja ber-AC, tetapi kejujuran, keberanian, dan solusi nyata.
Dan hingga hari ini, satu pertanyaan masih menggema di telinga rakyat:
“Di mana stabilnya Bengkalis?”
![]()
