Memahami Agama & Budaya Tidak Perlu Digunjingkan Seperti Ayam Dengan Telur

Memahami Agama & Budaya Tidak Perlu Digunjingkan Seperti Ayam Dengan Telur


Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas


Ulasan Dr. Budhy Munawar Rachman yang membedah teori Denny JA soal agama dan relevansinya bagi pembangunan berkelanjutan yang termuat secara meluas melalui media sosial pada 15 Februari 2025 cukup menarik untuk dicermati dikritisi agar membuat pencernaan pemikiran jadi sembelit, terpuruk dan tersesat di jalan yang terang.

Pertama klaimnya tentang pengetahuan kita dan banyak orang lain bahwa agama telah lama menjadi bagian integral dari peradaban manusia. Boleh saja klaim ini benar dari argumen akademis, namun bisa jadi tidak dalam pengertian serta pemahaman praktis yang bersandar pada pengalaman empiris.

Bisalah dipahami bila agama telah menyertai segenap aspek kehidupan manusia sejak jaman prasejarah. Artinya, agama sudah ada jauh sebelum sejarah dimulai. Lalu dalam perjalanan waktu, pemahaman tentang agama pun berkembang, tidak hanya sebagai Wahyu ilahi atau sistem kepercayaan yang kaku, tetapi sebagai warisan kultural yang dimiliki bersama oleh seluruh umat manusia.

Lantas masalah yang muncul dari paparan teori agama sebagai warisan kultural milik bersama, membuat keraguan tentang agama itu sendiri sebagai kepercayaan dan keyakinan yang mendahului budaya. Sehingga agama disebut sebagai produk budaya yang dinamis, berkembang melalui interaksi sosial dan historis.

Sehingga dengan keyakinan bahwa agama sebagai warisan kultural (budaya), kita tidak hanya dapat mengapresiasi keanekaragaman nilai spiritual yang ada, tetapi juga bisa menemukan cara-cara baru untuk menyelaraskan peran agama sesuai dengan tantangan jaman. Jadi meneropong keberadaan agama sebagai bagian dari peradaban manusia yang disebut Budhy Munawar Rachman sebagai teologi inklusif. Mencegah konflik dan membangun perdamaian serta kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tengah arus benturan budaya yang semakin kuat melampaui batas-batas tradisi yang memisahkan satu agama dengan agama yang lain. Hingga nilai-nilai spiritual pun menjadi tidak terbatas dalam agama tertentu saja atau dalam tradisi agama tertentu. Dan gerakan kebebasan serta upaya untuk memasuki wilayah spiritual yang sesungguhnya bersifat universal dapat menjadi perekat budaya dan agama yang beragam sebagai kekayaan waena peradaban manusia indah di menyinari bumi.

Peran agama dalam membentuk tatanan sosial — etika dan moral — sangat besar pengaruhnya terhadap manusia untuk tidak sekedar menggenggam orientasi pada hal-hal yang bersifat duniawi. Agaknya, pada persilangan budaya inilah peran agama yang lebih luas mampu memasuki wilayah inklusif yang acap menjadi inti pokok kegaduhan antara agama dan budaya yang saling mengisi antara yang satu dengan yang lain.

Temuan-temuan arkeologis telah ikut membuktikan peran agama terhadap peradaban manusia sehingga memposisikan agama menjadi warisan budaya. Meski budaya sendiri dapat diduga lebih dominan beranjak dari nilai-nilai keagamaan yang ada di bumi maupun yang berasal dari langit. Sehingga Denny JA memastikan pandangan terhadap agama sebagai warisan yang saling terhubung dan bersifat dogmatis dan ekslusif perlu ditelaah ulang untuk didekati dengan cara yang lebih inklusif dan kontekstual, sehingga agama pun dapat dipahami sebagai bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia di bumi. Dan peluang baru untuk dapat mendalami dinamika keagamaan sangat dimungkinkan untuk dimasuki lewat pintu artificial intelligence sebagai alat bantu, kendati harus dalam kehati-hatian agar tidak sampai tersesat di jalan terang. Seperti google map yang justru acap menimbulkan masalah yang tak perlu terjadi sekiranya dapat ditempuh dengan cara konvensional.

Yang lebih penting untuk memahami agama dan budaya tidaklah lebih perlu digunjingkan seperti ayam dan telur. Yang penting saripati dari kedua menu yang bisa dilahap ini dapat menambah energi lahir dan batin agar tidak kropos digerus jaman yang semakin memanjakan serta lebih canggih membuai diri bahwa pada akhirnya semua akan berakhir, ketika hakekat mati terjadi, bahwa semuanya tiada yang abadi.


Banten, 16 Februari 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *