Oleh : Abah Roy
Ketua DPC ASWIN Cirebon
Dalam perjalanan menuju bulan suci Ramadhan, Sya’ban memiliki peran penting sebagai bulan persiapan. Rasulullah ﷺ banyak berpuasa di bulan ini, menandakan bahwa Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk melatih diri dalam ibadah sebelum memasuki bulan penuh berkah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Aisyah r.a., beliau berkata:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa lebih banyak dalam satu bulan selain Sya’ban.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Sya’ban bukan sekadar bulan biasa, tetapi momentum untuk memperbanyak amal dan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.
Menghubungkan Amalan Sya’ban dan Ramadhan
Beberapa amalan yang dilakukan di Sya’ban sebaiknya tetap dilanjutkan di Ramadhan, sehingga ibadah menjadi lebih ringan dan istiqamah:
1. Puasa Sunnah Menuju Puasa Wajib
Berpuasa di Sya’ban melatih tubuh dan jiwa agar lebih siap menghadapi kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Orang yang sudah terbiasa akan lebih mudah menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan.
2. Meningkatkan Tilawah Al-Qur’an
Jika di Sya’ban kita sudah mulai membiasakan diri membaca Al-Qur’an, maka di Ramadhan kita bisa meningkatkan intensitasnya. Ramadhan dikenal sebagai “Syahrul Qur’an” atau bulan Al-Qur’an, sehingga membaca dan mentadabburinya menjadi amalan yang sangat utama.
3. Memperbanyak Dzikir dan Doa
Sya’ban adalah waktu yang baik untuk memperbanyak istighfar, shalawat, dan doa, termasuk meminta ampunan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Konsistensi dalam dzikir akan membantu menjaga hati agar tetap tenang dan dekat dengan Allah SWT.
4. Menjaga Sedekah
Jika seseorang sudah gemar bersedekah di Sya’ban, maka bersedekah di Ramadhan—bulan yang penuh keberkahan dan pahala berlipat ganda—akan menjadi lebih ringan. Rasulullah ﷺ sendiri adalah orang yang paling dermawan, dan di bulan Ramadhan kedermawanan beliau semakin meningkat (HR. Bukhari & Muslim).
5. Membiasakan Shalat Malam
Sya’ban bisa menjadi latihan untuk membiasakan shalat malam atau qiyamul lail, sehingga ketika masuk Ramadhan, ibadah tarawih dan tahajud terasa lebih ringan dan penuh kekhusyukan.
Melanjutkan Konsistensi Setelah Ramadhan
Ramadhan bukanlah puncak dari ibadah, melainkan titik awal bagi seorang Muslim untuk terus menjaga kebaikan. Rasulullah ﷺ menganjurkan puasa 6 hari di bulan Syawal sebagai penyempurna Ramadhan (HR. Muslim). Begitu pula dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga akhlak yang baik, sebaiknya tetap berlanjut setelah Ramadhan agar menjadi kebiasaan hidup.
Kesimpulan
Kesinambungan amalan dari Sya’ban ke Ramadhan, dan bahkan setelahnya, menunjukkan keistiqamahan seorang Muslim dalam beribadah. Jangan sampai kita hanya semangat beribadah di Ramadhan, lalu kembali lalai setelahnya. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk terus istiqamah dalam kebaikan dan menjadikan Ramadhan sebagai titik perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Cirebon, 13 Februari 2025
—