Categories: umum

WAWANCARA EKSKLUSIF

Prof. T.M. Jamil: Surat Mualem ke Presiden Sudah Tepat, Namun Aceh Butuh Diplomasi Politik yang Lebih Kuat untuk Perjuangkan Hilirisasi Gas Andaman

Banda Aceh – AswinNews.com — Langkah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), yang menyurati Presiden Prabowo Subianto agar hilirisasi gas Andaman dilakukan melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe mendapat apresiasi dari kalangan akademisi.

Akademisi dan Pengamat Politik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si, menilai surat tersebut merupakan langkah yang tepat dan strategis. Namun menurutnya, perjuangan Aceh tidak boleh berhenti pada pengiriman surat semata.

Dibutuhkan diplomasi politik yang lebih kuat melalui komunikasi langsung dengan Presiden serta konsolidasi seluruh kekuatan intelektual Aceh agar cita-cita menjadikan Aceh sebagai pusat hilirisasi gas Andaman dapat terwujud.

Berikut petikan wawancara eksklusif AswinNews.com bersama Prof. T.M. Jamil.
AswinNews.com:

Bagaimana Prof. melihat langkah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), yang menyurati Presiden Prabowo Subianto agar gas Andaman dihilirisasi melalui KEK Arun Lhokseumawe?

Prof. T.M. Jamil:
“Saya menilai surat yang dikirimkan Mualem kepada Presiden Prabowo merupakan langkah yang sangat tepat, strategis, dan patut diapresiasi oleh seluruh rakyat Aceh.

Ini menunjukkan adanya kesadaran politik bahwa sumber daya alam Aceh tidak boleh lagi hanya menjadi objek eksploitasi yang manfaat utamanya dinikmati oleh daerah lain.
Gas Andaman merupakan salah satu temuan energi terbesar Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Secara geografis, historis, ekonomi, bahkan secara moral, Aceh memiliki alasan yang sangat kuat menjadi pusat hilirisasi dan industri turunannya.

Karena itu saya mendukung penuh langkah tersebut. Surat itu bukan sekadar dokumen administratif, tetapi merupakan representasi aspirasi masyarakat Aceh agar tidak kembali menjadi penonton di atas kekayaan alamnya sendiri.”

AswinNews.com: Apakah surat tersebut sudah cukup?

Prof. T.M. Jamil:
“Menurut saya belum cukup. Dalam politik nasional, terutama ketika menyangkut proyek strategis bernilai ratusan triliun rupiah, surat hanyalah pintu masuk.

Setelah itu diperlukan advokasi politik yang kuat, komunikasi yang intensif, serta diplomasi langsung pada level pengambil keputusan tertinggi.

Saya berpandangan bahwa Mualem perlu segera bertemu langsung, face to face, dengan Presiden Prabowo Subianto.

Saya memiliki keyakinan bahwa Presiden akan memberikan perhatian serius terhadap kepentingan Aceh apabila memperoleh informasi yang utuh dan objektif mengenai urgensi hilirisasi gas Andaman di KEK Arun.

Dalam teori kebijakan publik sering terjadi apa yang disebut information gap, yaitu kesenjangan informasi antara kondisi riil di lapangan dengan informasi yang diterima pengambil keputusan di pusat.

Karena itu komunikasi langsung menjadi sangat penting.

Tidak semua persoalan strategis dapat diselesaikan melalui surat-menyurat birokratis. Terkadang satu pertemuan yang jujur dan substansial jauh lebih efektif dibandingkan puluhan surat yang beredar di meja birokrasi.”

AswinNews.com: Mengapa Prof. menekankan pentingnya bertemu langsung dengan Presiden?

Prof. T.M. Jamil:
“Karena pengalaman politik Aceh telah memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Kita masih mengingat polemik empat pulau yang sempat menimbulkan kegelisahan masyarakat Aceh.

Ketika persoalan tersebut berputar di level kementerian dan birokrasi, penyelesaiannya tidak kunjung menemukan titik terang.

Namun ketika komunikasi politik berlangsung langsung dengan Presiden Prabowo, situasi berubah secara signifikan.

Hal ini menunjukkan bahwa Presiden memiliki perspektif yang lebih luas mengenai keadilan, integrasi nasional, dan kepentingan strategis daerah.

Karena itu saya melihat pola yang sama dapat dilakukan dalam isu gas Andaman.

Jangan sampai keputusan yang menentukan masa depan Aceh puluhan tahun ke depan hanya didasarkan pada laporan-laporan teknokratis yang belum tentu menggambarkan realitas secara utuh. Presiden harus mendengar langsung dari Aceh.”

AswinNews.com: Apakah Prof. kurang percaya kepada kementerian terkait?

Prof. T.M. Jamil:
“Saya tidak mengatakan tidak percaya. Namun dalam praktik pemerintahan kita harus realistis.

Setiap kementerian memiliki kepentingan sektoral, paradigma pembangunan, dan pertimbangan teknokratisnya masing-masing.

Sering kali yang disampaikan kepada Presiden hanyalah ringkasan kebijakan yang belum tentu memuat seluruh dimensi ekonomi, sosial, politik, historis, bahkan psikologis yang hidup di daerah.

Karena itu Aceh tidak boleh hanya bergantung pada komunikasi melalui kementerian. Aceh harus memiliki jalur komunikasi politik langsung kepada Presiden.

Saya percaya Presiden Prabowo memiliki komitmen kuat terhadap pemerataan pembangunan nasional.

Jika Presiden memperoleh gambaran utuh mengenai kesiapan KEK Arun, sejarah industri LNG Arun, infrastruktur yang telah tersedia, serta dampak ekonomi bagi masyarakat Aceh, saya optimistis beliau akan berpihak pada pilihan yang paling rasional dan paling berkeadilan.”

AswinNews.com: Apa yang perlu dilakukan Mualem selanjutnya?

Prof. T.M. Jamil:
“Mualem perlu membangun knowledge coalition atau koalisi pengetahuan.

Isu gas Andaman terlalu besar jika hanya diperjuangkan oleh pemerintah daerah dan lingkaran politik tertentu.
Mualem harus mengajak akademisi, pakar energi, ekonom, tokoh masyarakat, KADIN, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, serta para profesional Aceh yang memahami industri migas.

Saya ingin menegaskan bahwa perjuangan ini tidak boleh dibatasi hanya pada orang-orang yang dianggap dekat secara politik ataupun pernah menjadi tim sukses.
Gas Andaman adalah milik masa depan Aceh, bukan milik kelompok politik tertentu.

Karena itu gagasan, data, dan argumentasi terbaik harus dihimpun dari seluruh putra-putri Aceh yang memiliki kapasitas.

Dalam teori pembangunan modern, kebijakan yang sukses adalah kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), bukan kebijakan berbasis kedekatan politik.”
AswinNews.com: Apa dampaknya jika hilirisasi dilakukan di Aceh?

Prof. T.M. Jamil:
“Dampaknya sangat besar. Aceh tidak hanya memperoleh penerimaan fiskal, tetapi juga menciptakan multiplier effect berupa lapangan kerja, investasi, industri petrokimia, pendidikan vokasi, pertumbuhan UMKM, transportasi, pelabuhan, perumahan, hingga lahirnya pusat-pusat ekonomi baru.
Aceh selama ini terlalu lama mengekspor bahan mentah dan mengimpor nilai tambah.

Model pembangunan seperti itu membuat daerah kaya sumber daya tetap miskin secara struktural.

Karena itu hilirisasi merupakan jalan untuk memutus kutukan sumber daya (resource curse) yang selama ini banyak terjadi di daerah kaya energi.”

AswinNews.com: Apa pesan terakhir Prof. kepada Pemerintah Aceh?

Prof. T.M. Jamil:
“Saya mengajak seluruh masyarakat Aceh mendukung langkah Mualem dalam memperjuangkan hilirisasi gas Andaman melalui KEK Arun Lhokseumawe.

Namun perjuangan ini tidak boleh berhenti pada pengiriman surat.

Harus ada diplomasi politik yang lebih kuat. Harus ada pertemuan langsung dengan Presiden.

Harus ada konsolidasi seluruh kekuatan intelektual Aceh.

Dan harus ada narasi bersama bahwa gas Andaman bukan sekadar proyek energi, melainkan momentum kebangkitan ekonomi Aceh setelah puluhan tahun kehilangan berbagai peluang strategis.

Saya yakin Presiden Prabowo Subianto akan memberikan perhatian serius terhadap aspirasi Aceh apabila memperoleh informasi yang lengkap, objektif, dan komprehensif.

Kini yang dibutuhkan adalah keberanian politik, keteguhan advokasi, dan persatuan seluruh elemen Aceh untuk memastikan sejarah tidak kembali mengulang dirinya: Aceh kaya sumber daya, tetapi miskin manfaat.

Sudah saatnya kekayaan Aceh memberikan kemakmuran bagi rakyat Aceh.”

Wawancara ini menegaskan bahwa keberhasilan memperjuangkan hilirisasi gas Andaman tidak hanya bergantung pada kebijakan administratif, tetapi juga pada kekuatan diplomasi politik, sinergi seluruh elemen masyarakat, serta kemampuan menghadirkan argumentasi yang berbasis data dan kepentingan rakyat Aceh. Dengan kekompakan tersebut, peluang menjadikan KEK Arun sebagai pusat industri hilirisasi nasional diyakini akan semakin terbuka.

🖊️ Laporan Jurnalis: Ahmad Yani
✍️ Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Abah Roy / Rohiman

Recent Posts

Festival Santri Kota Langsa Meuseuraya ke-2 Resmi Dibuka, Perkuat Sinergi Ulama dan Umara dalam Syiar Islam

Kota Langsa – Aswinnews. comGema lantunan Dala'il Kairat iringi pembukaan Festival Santri Kota Langsa Meuseuraya…

48 menit ago

ASKLIN Indramayu Gelar Pembinaan Klinik dan Rakercab, Perkuat Mutu Pelayanan Kesehatan

Indramayu – AswinNews.com — Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN) Cabang Kabupaten Indramayu menggelar kegiatan Pembinaan Klinik…

2 jam ago

TK Bustanul Athfal Gelar Pelepasan Angkatan Pertama, Pentas Seni Meriahkan Momen Perpisahan

Indramayu – AswinNews.com — TK Bustanul Athfal menggelar acara Pelepasan dan Perpisahan Peserta Didik Angkatan…

3 jam ago

Penyerahan Rapor Semester Genap SMAN 1 Sindang Berjalan Lancar, Program GEMAR Dapat Sambutan Positif

Indramayu – AswinNews.com — Penyerahan Hasil Belajar Siswa (Rapor) Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 di…

3 jam ago

SITA BARANG, TAPI DI MANA TERSANGKANYA? Penegakan Hukum Bea Cukai Kalbar Diuji, Publik Menanti Kepastian, Bukan Sekadar Seremoni

Pontianak – AswinNews.com — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Wartawan Internasional (DPD ASWIN) Kalimantan Barat,…

3 jam ago

235 KK Warga Desa Sematar Terima Bantuan Beras Bulog dan Minyak Goreng

Langkat – AswinNews.com — Pemerintah Desa Sematar, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, menyalurkan bantuan pangan berupa…

3 jam ago