Menolak Wacana Pilkada Lewat DPRD: Daulat Rakyat Tidak Boleh Diciderai

🖋️ Oleh: Dian Surbakti
(Pengamat Politik & Kebijakan Publik)
🖋️ Jurnalis: Hambali
🖥️ Editor: Kenzo | AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update

Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Sistem demokrasi yang dianut bangsa ini berdiri di atas prinsip kedaulatan rakyat, di mana rakyat memegang kekuasaan tertinggi dan memiliki hak konstitusional untuk memilih pemimpinnya secara langsung melalui pemilihan umum.

Selain hak memilih, rakyat juga dijamin kebebasannya dalam menyampaikan pendapat, berserikat, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan politik. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi fondasi utama demokrasi Indonesia pasca reformasi.

Sebagai warga negara yang berdaulat, sekaligus mewakili pandangan pribadi saya sebagai pengamat politik dan kebijakan publik, saya menyatakan menolak secara keras, bahkan menentang, wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD.

Penolakan ini didasarkan pada satu alasan fundamental: rakyat tidak lagi merasa terwakili apabila hak memilih pemimpin daerahnya dicabut dan dialihkan kepada segelintir elite politik.

Menurut pandangan saya, wacana tersebut justru berpotensi menjadi kemunduran demokrasi. Alih-alih memperbaiki tata kelola pemerintahan, mekanisme Pilkada melalui DPRD membuka ruang yang lebih luas terhadap praktik jual beli jabatan, negosiasi politik tertutup, serta pasar gelap kekuasaan yang rawan terjadi di tubuh pemerintahan maupun partai politik.

Salah satu kemewahan terbesar yang dimiliki rakyat Indonesia pasca reformasi adalah hak untuk memilih sendiri pemimpinnya. Hak ini bukan sekadar prosedur politik, melainkan simbol kemenangan rakyat atas sistem otoritarian di masa lalu.

Alasan mahalnya biaya demokrasi tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mencabut kedaulatan rakyat dan menggantinya dengan daulat elite. Jika itu dilakukan, maka bukan hanya sistem yang dilukai, tetapi juga hati dan kepercayaan rakyat terhadap negara dan demokrasi itu sendiri.

Demokrasi memang tidak murah, tetapi kehilangan demokrasi jauh lebih mahal harganya.

Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan pandangan pribadi narasumber sebagai pengamat politik dan kebijakan publik. Redaksi AswinNews.com menghormati kebebasan berpendapat sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta berkomitmen menghadirkan ruang dialog yang sehat dan berimbang bagi publik.

Kartolo

Recent Posts

DPC PDI Perjuangan Purwakarta Gelar Diskusi Politik Bersama KSB PAC Dan Sayap Partai

Purwakarta, Aswinnews.com – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Purwakarta menggelar kegiatan diskusi politik di Sekretariat DPC…

12 jam ago

Apes! Jalan Raya Citeko Purwakarta Jadi ‘Kubangan’ Abadi: Proyek Tambal Sulam Gagal, Rumah Warga Kebanjiran

Purwakarta – AswinNews.com — Jumat, 15 Mei 2026 — Janji pembangunan infrastruktur kembali menuai sorotan…

12 jam ago

Tambang Galian C Diduga Ilegal di Sungai Cikeruh Kembali Beroperasi, Warga: “Seolah Kebal Hukum”

Majalengka – AswinNews.com — Jumat, 15 Mei 2026 — Aktivitas tambang galian C diduga ilegal…

13 jam ago

Bhabinkamtibmas Polsek Secanggang Tingkatkan Patroli Satkamling, Warga Diajak Aktif Jaga Kamtibmas

Langkat AswinNews,com. - Sebagai bentuk kehadiran Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Bhabinkamtibmas Polsek…

17 jam ago

Membalas Opini dengan Ilmu, Bukan Amarah : Etika Falsifikasi dalam Demokrasi Akademik

Oleh :Prof. Dr. TM. Jamil, M.SiPengamat Politik dan Akademisi Universitas Syiah KualaKetua Dewan Penasehat Assosiasi…

20 jam ago

Impact of the IAI War on Indonesia’s Economic Growth

By : Wiriadi Sutrisno aswinnews.com Source: Googel Image. 2026           The IAI War (Iran vs.…

22 jam ago