Jakarta – AswinNews.com —
Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi dunia sastra Indonesia, menandai 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar dengan lebih dari 50 karya yang telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa dunia. Sejak 1949, tulisan-tulisannya menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan kesusastraan Indonesia.
Dalam rangka peringatan ini, digelar Peluncuran dan Bedah Buku “100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Tokoh Sastra, Politik Narasi dan Kemanusiaan” di Ruang Widya Graha Lantai 1, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (9/12) pukul 10.00 WIB.
Acara tersebut menghadirkan para pakar, di antaranya Prof. Dr. Faruk S.U. dari Universitas Gadjah Mada, Elis Nur Mujiningsih, M.Hum., peneliti dari Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra BRIN, serta dimoderatori oleh Dr. Abdullah Sumrahadi, M.Sc., dari President University & Associate Fellow iKMI IKMAS Universiti Kebangsaan Malaysia.
Dalam pemaparannya, Prof. Faruk menilai Pramoedya sebagai sosok pelaku sejarah yang memiliki peran besar dalam menghidupkan semangat kebangkitan nasional melalui gagasan-gagasannya.
“Tulisan Pram mungkin tidak memiliki perspektif sejarah secara formal, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia pelopor nasionalisme. Cerita-cerita Pram hampir tanpa humor, getir, dan sangat personal. Walau begitu, penggemarnya banyak—ia sosok yang sulit dicari tandingannya,” ujarnya.
Prof. Faruk juga menyoroti keteguhan Pram dalam menulis di tengah dinamika politik budaya era 1960-an.
“Karya-karyanya tidak bisa dijadikan ideologi hidup pada masa pergolakan tersebut, tetapi justru menjadi perspektif yang membentuk cara pandang. Hampir semua tulisannya berakar pada pengalaman pribadi. Teknik menulisnya seperti mencambuk pembaca—contohnya melalui cerpen panjang Jongos plus Babu, yang menggambarkan bagaimana manusia terus terjebak dalam lingkaran sejarah itu. Ia mengajak kita keluar dari sejarah, sekaligus menciptakan sejarah baru,” tegasnya.
Sementara itu, Maemunah Thamrin, istri Pramoedya, memberikan gambaran lebih personal mengenai sosok sang maestro.
“Pram menulis karena sosok ibunya. Ia sangat disiplin dan selalu bekerja sendirian. Hidupnya tak lepas dari membaca buku—perpustakaan adalah tempat tinggalnya. Ia sering berkata: ‘Saya adalah saya’. Namun kelebihan Pram, ia selalu mengangkat orang-orang di sekelilingnya dalam setiap cerita,” ungkapnya.
Acara berlangsung hangat, menghadirkan refleksi mendalam tentang warisan intelektual Pramoedya Ananta Toer serta relevansinya bagi generasi Indonesia saat ini.
🖊️ Laporan Jurnalis: Ine
✍️ Editor: Abah Roy | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
Oleh: Afiyatun Kholifah, M.Pd Karawang – Aswinnews.com Perilaku bullying masih menjadi salah satu persoalan serius…
LANGKAT, Aswinnews com– Pemerintah Desa Perkebunan Pulau Rambung, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, menggelar Musyawarah Perencanaan…
Langkat, AswinNews, com -Komitmen Polres Langkat dalam membangun keamanan yang berlandaskan kolaborasi dengan seluruh elemen…
Tasikmalaya – Aswinnews.comTongkat estafet kepemimpinan di SMA Negeri 7 Tasikmalaya kembali bergulir. Pelaksana Tugas (Plt.)…
Mengibarkan Merah Putih, Menjaga Warisan Kemerdekaan Oleh: Drs. M. Isa AlimaKaperwil Media Aswinnews.com Aceh Bulan…
Langkat – Aswinnews.com Personel Polsek Hinai, Polres Langkat, berhasil mengungkap kasus dugaan pencurian dengan pemberatan…