Banda Aceh – AswinNews.com —
Pascabencana banjir bandang dan longsor yang memporak-porandakan Aceh, masyarakat sebenarnya menunggu dua hal: kepastian keselamatan dan kepastian listrik. Namun sayangnya, harapan kedua ini justru menjadi sumber kekecewaan baru. Ketika Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan pihak PLN melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa pemulihan kelistrikan telah mencapai lebih dari 90 persen, masyarakat di lapangan justru masih berada dalam kegelapan. Pernyataan itu terasa seperti ucapan yang tergesa-gesa—atau lebih tepatnya, asal bunyi.
Sebagai Ketua DPD Aswin Aceh, saya melihat langsung bagaimana warga di Banda Aceh, Aceh Besar, hingga Pidie masih menunggu aliran listrik yang tak kunjung stabil. Di satu sisi pemerintah mengklaim keberhasilan melalui angka—tower darurat didirikan, helikopter diterbangkan, dan 93 persen disebut telah menyala. Namun di sisi lain, masyarakat masih berkutat dengan lilin dan genset seadanya. Ketika fakta dan klaim tidak berjalan seiring, yang tersakiti adalah kepercayaan publik.
Listrik bukan hanya soal lampu yang menyala. Ia adalah denyut nadi UMKM, rumah tangga, hingga layanan publik. Banyak pedagang kecil terpaksa tutup karena mesin pendingin mati, stok barang rusak, bahkan modal hilang. Ironisnya, di masa normal PLN bisa begitu cepat memutus listrik ketika warga telat membayar. Tetapi saat warga menjadi korban bencana dan listrik tidak hadir sebagai hak dasar, tidak ada kompensasi atau bentuk empati yang ditawarkan.
Inilah yang membuat saya mempertanyakan kualitas komunikasi publik pemerintah dan PLN. Bila infrastruktur belum stabil, bila sinkronisasi sistem masih bermasalah, bila perbaikan belum tuntas—mengapa harus tergesa-gesa menyampaikan angka besar kepada Presiden? Apakah kita sedang memoles citra, atau sedang benar-benar bekerja untuk rakyat?
Opini ini bukan untuk menyalahkan upaya para petugas lapangan yang bekerja tanpa lelah. Mereka justru menjadi pihak yang paling layak mendapatkan apresiasi. Kritik ini saya tujukan pada manajemen informasi dan pengambilan keputusan yang tampak lebih memikirkan narasi keberhasilan ketimbang kenyataan pahit warga.
Aceh membutuhkan lebih dari sekadar klaim. Aceh butuh kejujuran, ketelitian, dan empati. Bila pemulihan memang masih 60 persen, katakan 60 persen. Bila belum stabil, akui belum stabil. Rakyat akan mengerti bila pemerintah berkata jujur. Yang sulit diterima adalah ketika laporan berbunyi gemilang, tetapi rumah warga tetap gelap dan UMKM tetap merugi.
Harapan saya, ke depan pemerintah dan PLN dapat menyampaikan kondisi secara transparan, memberikan kebijakan keringanan bagi korban bencana, serta menuntaskan pemulihan hingga benar-benar aman dan stabil. Aceh belum butuh angka-angka manis; Aceh butuh realitas terang.
🖊️ Laporan Jurnalis: Ahmad Yani JR Luthan
✍️ Editor: Abah Roy | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Terpercaya, Berimbang, dan Ter-Update
INDRAMAYU, –aswinnews.com- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya (GRIB JAYA) Kabupaten Indramayu…
Rembang, Aswin News– Suasana semarak kemerdekaan sudah terasa di seluruh penjuru Kota Rembang. Sejak peringatan…
Batam –aswinnews.com- Menindaklanjuti laporan Aliansi Masyarakat Sei Beduk Peduli (AMSBP), Tim Kejaksaan Negeri Batam turun…
Sigli —aswinnews.com- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Anwar Sastra Putra, S.H., yang akrab…
Langkat | Aswin News Memasuki Tahun Ajaran 2026/2027, SMP Negeri 3 Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat,…
PONTIANAK –aswinnews.com- Kepala Bidang Investigasi DPD Asosiasi Wartawan Internasional / ASWIN Kalimantan Barat, Nardi M,…