Categories: umum

Puisi Teaterikal:

Banjir Sumatera, Ketika Hutan Dijarah dan Rakyat Menjadi Korban.

Oleh:
Kang Aceng Tea (*).

Banjir Sumatera bukan sekadar bencana alam, ini adalah bencana ekologis, bahkan kejahatan ekologis yang telah berlangsung bertahun-tahun dan baru sekarang menampakkan wajah aslinya.

Coba kita lihat di Jakarta, ketika banjir datang, kita melihat tumpukan sampah plastik terbawa arus, tetapi di Sumatera, ketika air naik, yang hanyut justru gelondongan kayu.

Ini adalah bukti paling telanjang bahwa hutan kita telah ditebang habis-habisan, bahwa di hulu, tempat air seharusnya diserap oleh akar-akar pohon, justru dipenuhi sawit, tambang dan gelondongan kayu sisa penebangan, bukan hutan lagi, tapi ladang industri rakus yang memeras bumi tanpa menghiraukan masa depan.

Curah hujan tidak menebang pohon, iklim tidak pernah membawa chainsaw, yang melakukan itu adalah manusia—dan lebih menyakitkan lagi, aktivitas itu sering kali dilindungi oleh izin, dilegalkan oleh regulasi yang longgar, dan dibiarkan oleh pengawasan negara yang lemah.

Setiap batang kayu yang hanyut itu adalah bukti kegagalan dalam menjaga ekosistem, setiap rumah yang terseret banjir adalah bukti pembiaran yang sistematis, dan setiap korban jiwa adalah harga yang dibayar rakyat akibat kerakusan segelintir pihak.

Kita tidak boleh lagi menutup mata, tidak boleh lagi menerima alasan-alasan klise seperti “curah hujan tinggi” atau “anomali cuaca global”, alasan itu hanya menutupi fakta bahwa hutan Sumatera dihancurkan secara terstruktur, masif, dan berulang.

Negara tidak boleh kalah oleh mafia hutan, negara tidak boleh tunduk pada kepentingan ekonomi yang menggerus masa depan rakyat, dan negara tidak boleh tinggal diam ketika alam menjerit meminta keadilan.

Sumatera bukan hanya tanah yang luas dan subur, Sumatera adalah rumah jutaan rakyat, tetapi hari ini, rumah itu sedang dilanda banjir bukan karena air, melainkan karena keputusan-keputusan salah yang menebangi hutan tanpa memikirkan generasi mendatang.

Bila hari ini kita tidak bersuara, bila hari ini kita tidak menuntut perubahan, maka banjir ini bukan yang terakhir. Dan yang lebih mengerikan: kita sedang membiarkan Indonesia kehilangan salah satu pilar ekologis terpentingnya.

Banjir Sumatera bukan sekadar air yang meluap—ini adalah peringatan keras bahwa hutan kita sedang sekarat, dan jika hutan sekarat, maka bangsa ini ikut sekarat.[]

*Penulis,
Sang Penyair Jalanan
dari Tatar Sunda.

Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi

Kartolo

Recent Posts

Gerak Cepat Polsek Tanjung Pura Gagalkan Dugaan Peredaran Sabu, Berbagai Barang Bukti Berhasil Diamankan

Langkat – AswinNews.com — Polsek Tanjung Pura jajaran Polres Langkat kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas…

1 jam ago

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bengkulu: Saya Bangga dan Mencintai Keluarga Besar PDI Perjuangan

Bengkulu – AswinNews.com — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Bengkulu menggelar Musyawarah Anak…

2 jam ago

Cegah Konflik Berdimensi Agama, Kepala KUA Salapian Dorong Pembentukan Tim EWS di Kabupaten Langkat

LANGKAT – AswinNews.com — Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Kabupaten Langkat menggelar Rapat Koordinasi (Rakor)…

3 jam ago

Bupati Warsubi di HKG PKK ke-54: Keluarga Kuat Jadi Fondasi Utama Pembangunan Jombang

JOMBANGKAB – AswinNews.com — Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ke-54…

4 jam ago

Ketua Dewan Pembina Pusat ASWIN Desak Prabowo Subianto Selamatkan Jurnalis Tertangkap Israel

TIMUR TENGAH -aswinnews.com- Kasus penangkapan dua jurnalis Indonesia dalam misi kemanusiaan menuju Gaza memang menjadi…

8 jam ago

Chair of ASWIN Central Advisory Board Urges Prabowo Subianto to Rescue Journalists Detained by Israel

MIDDLE EAST -aswinnews.com- The arrest of two Indonesian journalists on a humanitarian mission to Gaza…

8 jam ago