🖋️ Penulis: Latiyf Ridlo
✍️ Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, dan Ter-Update
📍MATARAM – ASWINNEWS.COM
Ajang bergengsi Festival Olahraga Nasional (FORNAS) VIII tahun 2025 yang dipusatkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat bukan hanya menjadi tempat adu keterampilan antar atlet dari seluruh Indonesia, melainkan juga ruang ekspresi kekayaan budaya bangsa. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian publik adalah keikutsertaan Asosiasi Seni Tarung Tradisional Indonesia (ASTA), yang hadir membawa semangat pelestarian warisan leluhur melalui seni bela diri tradisional dan perpaduannya dengan beladiri modern.
Kegiatan ASTA berlangsung selama dua hari, yakni pada 30–31 Juli 2025, bertempat di Gor Turide, Padepokan Mataram, NTB. Dalam kegiatan tersebut, para pendekar dari berbagai provinsi menunjukkan beragam jurus, teknik, serta nilai-nilai filosofi dari masing-masing aliran seni tarung yang mereka pelajari.
Rony Abdurahman, SP selaku Ketua Umum ASTA Indonesia saat ini, Dan Master Bambang Nugraha selaku Pendiri menyampaikan bahwa ASTA bukan sekadar organisasi olahraga, melainkan rumah besar bagi berbagai aliran seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di tanah air. Berdiri sejak Agustus 2019, ASTA kini telah memiliki kepengurusan resmi di 19 provinsi, dan terus berupaya melebarkan sayap hingga ke seluruh pelosok negeri.
“ASTA adalah simbol dari kekayaan budaya kita yang luar biasa. Di sini, berbagai aliran seni bela diri tradisional seperti pencak silat Surokartanan, pencak Minang, PSHT, dan Kera Sakti bertemu dalam satu wadah. Kami juga membuka ruang bagi kolaborasi dengan aliran bela diri modern seperti Tarung Derajat, Muaythai, Kick Boxing, Jiu Jitsu, Krav Maga, Tae Kwon Do, Karate, hingga Sambo dan Kung Fu,” ujar Master Bambang dalam sambutannya.
Rony Abdurahman, SP (Ketua Umum Asta) menyampaikan kepada awak media Aswinnews.com untuk bisa membangun Inorga ASTA mencapai kesuksesan di Nasional dan Kancah Internasional. Melalui proses pembinaan Atlet dan memperbarui sistem maupun teknis.
Dengan hadirnya Ketua Umum Kormi Nasional Adil Hakim, B.Sc., MPA dan Panlak FORNAS VIII NTB MaPangar Ibnu Rica, bersama Wakil kaPangar Broto semakin menambah Motivasi, semangat dan merupakan kehormatan tersendiri bagi para Atlet serta seluruh official kontingen Inorga ASTA.
Menurut Rony, keberagaman aliran dalam ASTA bukan sekadar teknis, namun juga mencerminkan pluralitas budaya Indonesia yang bisa bersatu dalam semangat sportivitas dan persaudaraan.
Lebih dari sekadar kompetisi, ASTA membawa misi pelestarian seni bela diri tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa. Dalam penampilan yang disuguhkan pada FORNAS VIII, terlihat jelas bahwa setiap gerakan dan jurus bukan hanya mengandung unsur fisik, tetapi juga nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, dan filosofi hidup.
“Kami ingin dunia melihat bahwa Indonesia kaya akan tradisi yang luhur. Seni bela diri bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga menyiratkan kedalaman nilai-nilai budaya. Ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan,” tambah Rony.
FORNAS VIII tidak lepas dari dinamika lapangan. Dua atlet ASTA dari kontingen DKI Jakarta sempat mengalami cedera saat berlaga. Atlet bernama Anjani mengalami cedera pergelangan tangan akibat posisi jatuh yang kurang tepat, sementara Azzizullah mengalami benturan pada tulang ekor akibat tendangan. Namun demikian, berkat kesigapan tim medis yang bersiaga di lokasi, kedua atlet langsung mendapatkan penanganan cepat sehingga kondisi dapat dikendalikan tanpa risiko lanjutan.
“Keselamatan peserta adalah prioritas. Kami sangat mengapresiasi kerja tim medis yang bekerja dengan responsif dan profesional,” ujar salah satu panitia ASTA.
Penampilan ASTA di ajang FORNAS VIII dinilai tidak hanya sebagai ajang unjuk kemampuan, tetapi juga sebagai bentuk diplomasi budaya yang kuat. Para penonton yang hadir, termasuk dari kalangan wisatawan dan komunitas olahraga luar daerah, tampak terpesona melihat berbagai pertunjukan seni bela diri yang dikemas dengan unsur edukasi, seni, dan hiburan.
Selain itu, kehadiran ASTA juga menjadi pengingat bahwa olahraga masyarakat bukan sekadar tentang adu fisik, tetapi juga wadah untuk memperkuat jati diri bangsa melalui ekspresi budaya.
Kehadiran ASTA dalam FORNAS VIII menegaskan pentingnya sinergi antara pelestarian budaya dan pengembangan olahraga rekreasi. Dalam semangat “Kalah Menang Semua Senang” yang menjadi slogan FORNAS, ASTA berhasil menampilkan bahwa olahraga tradisional bisa menjadi alat pemersatu bangsa, sekaligus potensi besar untuk promosi budaya Indonesia ke kancah internasional.
“Semoga keberadaan ASTA dapat terus mendorong tumbuhnya generasi muda yang bangga pada akar budayanya sendiri. Mari kita wariskan seni bela diri ini dengan cinta, hormat, dan semangat persaudaraan,” tutup Bambang.
📌 Catatan Redaksi:
Kegiatan FORNAS VIII NTB menjadi momentum penting untuk mengangkat harkat dan martabat budaya Indonesia melalui jalur olahraga. ASTA membuktikan bahwa seni bela diri bukan sekadar teknik bertarung, melainkan identitas kultural yang bisa menjadi kekuatan lunak bangsa (soft power) dalam membangun citra Indonesia di mata dunia.
📨 Redaksi: aswinnews@gmail.com
Oleh: Bahrudin El-ShiraazAktivis Intelektual, Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Isu Geopolitik Timur Tengah Aswinnews.comTimur Tengah…
BENGKULU, Aswinnews.com – Penyidik Polresta Bengkulu bersama tim dari ATR/BPN Kota Bengkulu melakukan pengecekan langsung…
INDRAMAYU, Aswinnews.com – Alat pengukur pemakaian air (water meter) milik sambungan Perumdam Tirta Darma Ayu…
INDRAMAYU – AswinNews.comDalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, Polres Indramayu bekerja sama…
JAKARTA - Kematian lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) selama mengikuti Latihan Dasar…
AswinNews.com | Garut – Kodim 0611/Garut menggelar Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Lepas Sambut Komandan…