Oleh Abah Roy
Ketua DPC Aswin Kota Cirebon
Cirebon – Juli 2025
Sebagai bentuk respons aktif atas launching Kurikulum Merdeka Berbasis RME (Rohani, Moral, dan Etika) oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, MI Madinatunnajah Kota Cirebon mengambil langkah nyata dengan menerapkan pendekatan khas bernama Kurikulum Cinta (Kurcin).

Kurikulum ini dirancang bukan hanya sebagai penyesuaian administratif terhadap KMA 450 Tahun 2024, melainkan sebagai roh pendidikan yang lebih membumi, lembut, dan menyentuh hati siswa.
Menurut Kepala MI Madinatunnajah, Drs. Rohiman, Kurcin merupakan bentuk konkret dari semangat RME yang digaungkan oleh Kemenag. “Kami tidak ingin Kurikulum Merdeka hanya berhenti di dokumen atau pelatihan. Maka kami memilih untuk menghidupkannya dengan pendekatan cinta, adab, dan kesadaran batin,” ujarnya.

Dari Konsep ke Aksi: Kurcin dalam Praktik
Kurikulum Cinta yang diterapkan di Madinatunnajah membawa misi sederhana namun dalam: menjadikan setiap proses belajar sebagai momen untuk menumbuhkan kasih dan menanam akhlak.
Setiap hari dibingkai dengan tema nilai:
Senin: Cinta kepada Allah
Selasa: Cinta kepada Sesama
Rabu: Cinta kepada Ilmu
Kamis: Cinta kepada Alam
Jumat: Cinta kepada Diri
Siswa tak hanya diminta memahami pelajaran, tetapi juga merefleksikan tindakan dan perasaannya. Ada jurnal syukur harian, proyek kepedulian sosial, serta pembiasaan akhlak dalam rutinitas kelas.
Sinergi dengan Visi Kemenag
Kurikulum Cinta sejalan penuh dengan pesan Menteri Agama bahwa madrasah harus menjadi rumah pembentukan karakter dan moral spiritual. Bila RME menekankan roh pendidikan berbasis keislaman dan etika, maka Kurcin adalah jawabannya dalam bentuk aktivitas harian dan relasi guru-siswa yang penuh kasih.
“Dengan Kurcin, kami ingin menjadi madrasah yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga menenangkan,” ujar Hj. Upi Supiah, S.Pd.I, Ketua Tim Kurikulum Madinatunnajah.
Dari Madinatunnajah untuk Madrasah Indonesia
MI Madinatunnajah tidak hanya menjadikan Kurcin sebagai internalisasi nilai, tapi juga siap membagikannya sebagai inspirasi. Kurcin tidak bertentangan dengan Kurikulum Merdeka maupun RME — justru menjadi pelengkap yang membumi dan kontekstual.
“Kalau RME adalah semangatnya, maka Kurcin adalah caranya,” pungkas Drs. Rohiman.
Editor Abahroy redaksi Aswin News.Com
![]()
