ATAMBUA – aswinnews.com -Di tengah hiruk-pikuk zaman, Republik Indonesia baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya, Septinus Hugo. Lahir di Nualain pada 31 Desember 1955, veteran pejuang kemerdekaan ini telah mengukir jejak dedikasi yang tak terhapuskan dalam lembaran sejarah bangsa. Sebagai anggota Legium Veteran Republik Indonesia dengan kartu tanda anggota 247/09/VI/1992, Septinus Hugo adalah potret nyata pengabdian tanpa batas, yang kini kisahnya menjadi lentera bagi generasi penerus.

Septinus Hugo adalah seorang pria beragama Katolik yang sederhana namun memiliki semangat luar biasa. Bersama keluarga tercintanya, ia menghabiskan masa purnabakti di Fatubanao B, RT/RW 022/002, Kelurahan/Desa Fatubanao, Kecamatan Kota Atambua. Meski menyandang status pensiunan, jiwa patriotnya tak pernah lekang. Dengan pangkat/golongan D dan Nomor Pensiun Veteran (N.P.V) 13.009.695, namanya harum di kalangan masyarakat dan rekan seperjuangan. Perjalanannya sebagai veteran bukan sekadar catatan birokrasi, melainkan sebuah ikrar hidup yang diisi dengan pengorbanan dan komitmen teguh terhadap nilai-nilai kebangsaan serta kemanusiaan. Septinus Hugo adalah bukti bahwa pengabdian tulus mampu melampaui batas waktu dan jabatan.
Pada saat-saat terakhirnya, negara memberikan penghormatan tertinggi kepada Septinus Hugo. Upacara pemakamannya diselenggarakan dengan khidmat, dipimpin langsung oleh Komandan Kodim 1605/Belu, Kapten Inf Jemri E Mamengko. Kehadiran seorang perwira tinggi sebagai Inspektur Upacara menjadi penanda betapa besar apresiasi dan penghargaan negara atas segala jasa yang telah ditorehkan Septinus Hugo. Momen haru ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah pengingat kolektif bahwa bangsa ini berhutang budi pada para pahlawan yang rela berkorban demi tegaknya Sang Saka Merah Putih.

Kepergian Septinus Hugo memang menyisakan duka, namun warisan yang ia tinggalkan jauh lebih besar dari sekadar kenangan. Dedikasi, komitmen, dan pengabdiannya yang tak pernah pudar adalah cerminan sejati seorang patriot. Kisah hidupnya mengajarkan kita bahwa perubahan positif yang berkelanjutan dimulai dari individu yang memiliki cinta tulus pada tanah air.
Semoga semangat Septinus Hugo terus menyala, menjadi mercusuar bagi generasi muda untuk tidak pernah lelah mencintai dan mengabdi kepada bangsa, menjaga persatuan, serta meneruskan estafet perjuangan para pahlawan dalam membangun Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat. Selamat jalan, Bapak Septinus Hugo. Jasamu abadi dalam sanubari kami.
Penulis: Raphael Fahik
![]()
