Seruan Jiwa untuk Menyelamatkan Alam Jawa Barat
🖋️ Oleh: Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)
Bogor, Puncak — Kabut pagi itu turun perlahan, menggantung rendah di lereng-lereng Puncak. Udara dingin menusuk, tapi yang lebih menyayat adalah pemandangan hutan yang tercabik: bukit tandus, sungai keruh, dan pepohonan yang tinggal tunggul. Di tengah lanskap luka itu, berdiri sosok yang dikenal luas: Kang Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta dan eks anggota DPR RI. Dengan mata sembap dan suara lirih, ia mengucap kalimat yang menggetarkan nurani:
“Kita telah berdosa pada alam. Sudah saatnya kita bertobat.”
Bagi Dedi, ini bukan sekadar retorika. Ia menyebutnya sebagai “tobat ekologis”—sebuah ajakan moral dan spiritual untuk mengakui dan memperbaiki dosa kolektif manusia terhadap lingkungan. Konsep ini menjadi ruh perjuangannya dalam menyuarakan keadilan ekologis di tanah Pasundan.
Bukan Sekadar Wacana, Tapi Gerakan
Gerakan tobat ekologis ini bukan berhenti di mimbar. Kang Dedi mewujudkannya dalam aksi nyata: memimpin rehabilitasi hutan, membersihkan sungai, hingga mengorganisir penanaman 50.000 pohon di kawasan kritis. Dalam video YouTube-nya berjudul “TOBAT EKOLOGI | Kang Dedi Bersama Masyarakat Tanam 50 Ribu Pohon”, ia menunjukkan kepemimpinan yang membumi—berpakaian sederhana, menanam sendiri bibit, dan berdialog langsung dengan warga.
Ia juga menggandeng personel TNI dari matra darat, laut, dan udara untuk menjaga kawasan hulu sungai dan konservasi lereng pegunungan. Bagi Dedi, kerusakan alam tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, tapi butuh partisipasi lintas sektor dan perubahan paradigma kolektif.
Melawan Keserakahan dengan Ketegasan
Dedi tak segan turun langsung menghentikan praktik-praktik rakus yang merusak alam. Di Bogor, Parung Panjang, dan wilayah lainnya, ia memimpin penyegelan tambang galian C ilegal, serta bangunan liar di zona hijau. Dalam sebuah video TikTok yang viral, ia terekam menangis di tengah reruntuhan kampung yang ditinggalkan karena aktivitas tambang. Suaranya bergetar saat mengatakan:
“Penderitaan rakyat dimulai ketika gunung dikorbankan demi kota.”
Seruan ini menggugah. Bukan sekadar ekspresi emosional, tapi bentuk kejujuran seorang pemimpin yang menyaksikan sendiri bagaimana tanah airnya ditukar dengan beton dan keuntungan sesaat.
Ajakan Kepada Para Pemimpin
Kang Dedi tak berjalan sendiri. Ia mengajak para bupati, wali kota, hingga pejabat pusat untuk ikut bertobat. Dalam video YouTube bertajuk “Dedi Mulyadi Minta Kepala Daerah Se-Jabar Tobat”, ia mendesak para kepala daerah untuk menghentikan praktik alih fungsi lahan, pencabutan pohon tanpa izin, dan konversi kawasan konservasi menjadi properti.
“Gunung dan sungai bukanlah komoditas. Ia milik semesta dan titipan bagi anak cucu kita,” tegasnya.
Menyebar Melalui Media Sosial
Melalui TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook, Dedi menggaungkan pesan-pesan ekologi dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Ia menyebut pelestarian lingkungan sebagai bentuk ibadah. Di Instagram, ia menulis:
“Tobat ekologis bukan milik pemerintah atau aktivis saja. Ini tanggung jawab kita semua sebagai manusia.”
Krisis Lingkungan, Krisis Kemanusiaan
Banjir, tanah longsor, kekeringan ekstrem, dan pencemaran sungai kini menjadi wajah sehari-hari Jawa Barat. Bagi Dedi, ini bukan sekadar bencana alam, tetapi konsekuensi langsung dari dosa terhadap alam. Ia meyakini bahwa solusi teknis tak cukup; kita perlu pertobatan moral dan pergeseran nilai.
“Kemakmuran sejati tidak bisa dibangun di atas tanah yang rusak. Keseimbangan dengan alam adalah syarat kehidupan,” ucapnya dalam video “Masalah Indonesia Cuma Satu, Dosa pada Alam.”
Penutup: Seruan untuk Seluruh Bangsa
Tobat ekologis bukan sekadar program kerja Kang Dedi, melainkan seruan jiwa—panggilan batin bagi seluruh anak bangsa. Ketika kita menyelamatkan hutan, menyehatkan sungai, dan memulihkan tanah, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan peradaban.
Kini, giliran kita menjawab panggilan itu. Karena bumi yang sakit, tak akan menunggu kita sadar.
![]()
