Al Zaytun Menyemai Bibit Toleransi: Memanen Kesetaraan Dan Perdamaian

Penulis: H. Sujaya
Narasumber: DR. Ali Aminulloh (Dosen IAI Al-Zaytun)
Editor: Abahroy | Redaksi AswinNews.com

Dalam pusaran dunia yang semakin bergejolak, di mana perbedaan kerap menjadi sumber perpecahan, Mahad Al-Zaytun berdiri tegak sebagai mercusuar harapan dan perdamaian. Sejak awal berdirinya, institusi ini mengusung visi besar: menjadi pusat pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Bukan sekadar slogan, tetapi visi yang ditanamkan dan dihidupkan dalam keseharian.

Menurut DR. Ali Aminulloh, Dosen Institut Agama Islam (IAI) Al-Zaytun, toleransi adalah kunci utama menjaga keberagaman Indonesia yang sangat kompleks: agama, suku, budaya, dan bahasa. Ia mengutip definisi toleransi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai sikap menghargai perbedaan pandangan dan keyakinan, meski bertentangan dengan diri sendiri. Dalam ranah keagamaan yang sangat sensitif, toleransi beragama menjadi ujian paling berat sekaligus parameter moralitas sosial seseorang.

Lebih lanjut, kata DR. Ali Aminulloh, pendiri Mahad Al-Zaytun, Syaykh Panji Gumilang, sangat menyadari bahwa tanpa fondasi toleransi, keberagaman bisa menjadi bara dalam sekam yang mudah menyala. Oleh karena itu, moto “Toleransi dan Perdamaian” dihidupkan dalam sistem pendidikan dan kehidupan santri. Para pelajar ditempa bukan hanya menjadi manusia cerdas, tapi juga manusia yang siap hidup berdampingan dalam perbedaan.

Sebagai bentuk praktik nyata, Al-Zaytun rutin menerima kunjungan tokoh lintas agama, bahkan memberikan mereka ruang untuk berbicara di Masjid Rahmatan Lil Alamin. Menurut DR. Ali, ini merupakan pesan kuat bahwa semua manusia setara sebagai ciptaan Tuhan. Bukan hanya toleransi yang dibangun, melainkan ukhuwah insaniyah — persaudaraan kemanusiaan.

DR. Ali juga menyebut pendekatan simbolik dan psikologis sangat penting. Di lingkungan kampus Al-Zaytun, hampir di setiap sudut terpampang moto dan lambang perdamaian. Simbol delapan mata angin, misalnya, menggambarkan keterbukaan terhadap semua arah dan pandangan. Yang tak kalah penting adalah lagu-lagu bertema toleransi seperti Mars Al-Zaytun, Mars IAI, Mars Pandu Pembela Umat dan Kemanusiaan (PPUK), Mars dan Hymne Masyarakat Indonesia Membangun (MIM), hingga Keroncong Perdamaian. Liriknya penuh nilai damai dan persatuan, dinyanyikan secara rutin, dan menjadi bagian dari pendidikan karakter berbasis pengulangan (classical conditioning) ala Ivan Pavlov.

Model seperti inilah, menurut DR. Ali Aminulloh, yang mampu membentuk karakter toleran dan damai bukan hanya di pikiran, tapi dalam sikap dan tindakan. Ketika dunia luar banyak dihantui intoleransi dan ujaran kebencian, Al-Zaytun justru membentangkan jalan kasih sayang.

Ketika senja merayap di atas kubah Mahad Al-Zaytun, pesan diam itu terus bergaung: bahwa dari pesantren, benih-benih perdamaian bisa ditanam. Dari ruang pendidikan, toleransi bisa dijadikan tradisi. Dan dari Al-Zaytun, cita tentang bangsa yang harmonis dapat dirawat—hari demi hari, jiwa demi jiwa.

AswinNews.com – Tajam, Akurat, Berimbang, Terpercaya
📍 Indramayu | 18 Juli 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *