KDM dan HRS: Dua Nada dalam Simfoni Kebangsaan

Oleh Narasumber : Aceng Syamsul Hadie,| Editor Penulis: Abah Rohiman pemerhati budaya

Majalengka,| Aswinnews.com ~ Di tengah dinamika sosial-politik Indonesia yang kerap terjebak dalam polarisasi, dua tokoh kembali menyita perhatian publik: Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Keduanya hadir dengan pendekatan yang berbeda, bahkan sering kali dianggap berseberangan. Namun di balik itu, keduanya sama-sama memainkan peran penting dalam orkestra kebangsaan kita.

Habib Rizieq dikenal sebagai tokoh Islam konservatif yang vokal memperjuangkan syariat dan moralitas publik. Sementara Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang baru saja dilantik, menawarkan wajah politik yang ramah budaya dan menjunjung tinggi kearifan lokal Sunda.

Sebagian publik mungkin melihat keduanya sebagai dua kutub yang saling bertolak belakang. Tetapi benarkah demikian?

Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Wartawan Internasional (ASWIN), Aceng Syamsul Hadie, punya pandangan berbeda. “Antar Kang Dedi Mulyadi dan Habib Rizieq Shihab adalah aset dinamika pluralistik di negeri kita. Maka biarkan keragaman itu tetap terpelihara dan kita tidak perlu menghakimi antar keduanya,” ujarnya dalam wawancara di Majalengka, Minggu (13/7/2025).

Pernyataan tersebut mengandung pelajaran penting: bahwa dalam negara sebesar dan seberagam Indonesia, perbedaan cara pandang adalah keniscayaan. Bahkan, justru perbedaan itulah yang membentuk identitas kita sebagai bangsa yang plural.

Habib Rizieq dengan keberaniannya mengingatkan publik akan pentingnya menjaga akidah dan moralitas Islam. Di sisi lain, Kang Dedi Mulyadi mengajarkan bahwa budaya lokal adalah kekuatan, bukan ancaman. Keduanya punya visi, basis massa, serta konsistensi dalam perjuangan. Keduanya mencintai negeri ini—meski dengan jalan yang berbeda.

Konflik antara keduanya, seperti dalam polemik salam “Sampurasun” yang dipelesetkan menjadi “Campur Racun”, atau dalam kontroversi perubahan nama RSUD Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih, seharusnya dipahami sebagai cerminan dari perdebatan mendasar: antara ekspresi budaya dan ekspresi religiusitas.

Tapi bukan berarti keduanya tak bisa berjalan bersama. Sebab sejatinya, budaya dan agama bisa saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Ketika budaya mengakar, agama akan mudah meresap. Ketika agama membumi, budaya akan terangkat martabatnya.

Saya teringat pada ungkapan sederhana: seperti musik, keindahan tercipta bukan dari satu nada, melainkan dari harmoni berbagai suara. Jika satu nada dipaksakan mendominasi, simfoni berubah jadi kebisingan. Tapi bila dimainkan dalam kesadaran irama, maka melodi kebangsaan bisa terdengar indah.

Begitulah seharusnya kita memandang KDM dan HRS. Bukan untuk dibandingkan atau diadu, tapi dilihat sebagai dua nada dalam satu lagu besar bernama Indonesia. Mereka mewakili dua sisi dari semangat yang sama: ingin membangun bangsa, meski lewat jalur yang berbeda.

Dalam demokrasi, ini bukan ancaman. Ini justru anugerah.

Redaksi Aswinnews.com

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *