Aceng Syamsul Hadie: Dua Jalan Berbeda, Satu Cinta untuk Indonesia
Majalengka — AswinNews.com
Di tengah kompleksitas lanskap sosial-politik Indonesia, dua figur menonjol dengan pendekatan kontras namun sama-sama kuat: Habib Rizieq Shihab (HRS), pendiri Front Pembela Islam (FPI) dan kini pemimpin Front Persaudaraan Islam; serta Kang Dedi Mulyadi (KDM), mantan Bupati Purwakarta yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat.
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM., Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional), mengajak publik untuk melihat keduanya sebagai bagian dari kekayaan pluralisme bangsa.
“Antar Kang Dedi Mulyadi dan Habib Rizieq Shihab adalah aset dinamika pluralistik di negeri kita. Biarkan keragaman itu tetap terpelihara dan kita tidak perlu menghakimi di antara keduanya,” ujar Aceng saat ditemui wartawan pada Minggu (13/07/2025).
Habib Rizieq: Ulama Vokal Pejuang Syariat
Lahir di Jakarta, 24 Agustus 1965, Habib Rizieq Shihab dikenal sebagai sosok vokal yang memperjuangkan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan publik. Melalui FPI yang ia dirikan tahun 1998, Rizieq konsisten dalam aksi-aksi penegakan syariat Islam.
Meski FPI dibubarkan pada 2020, ia tetap aktif melalui Front Persaudaraan Islam.
Sebagai pemimpin spiritual, ia memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam konservatif dan tak segan mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Meski pernah terjerat sejumlah kasus hukum, banyak yang mengaguminya karena keberanian dan konsistensinya dalam menyuarakan moralitas.

Kang Dedi Mulyadi: Politikus Budaya dan Penggerak Lokalitas
Berbeda dengan HRS, Dedi Mulyadi, kelahiran Subang, 11 April 1971, dikenal sebagai politisi yang menekankan pentingnya budaya dalam ruang publik. Selama dua periode menjabat Bupati Purwakarta, hingga kini menjadi Gubernur Jabar sejak Februari 2025, Dedi mendorong nilai-nilai lokal sebagai fondasi kepemimpinan.
Simbol budaya seperti salam “Sampurasun”, patung-patung tokoh pewayangan, dan filosofi welas asih menjadi ciri khas gaya kepemimpinannya. Ia meyakini bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan tanpa saling menegasi.
Jejak Perselisihan: Budaya vs Syariat?
Tegangan antara Rizieq dan Dedi mencerminkan konflik lebih luas antara dua pendekatan identitas: syariat Islam vs kearifan lokal.
Salah satu insiden paling dikenang adalah saat HRS memplesetkan salam “Sampurasun” menjadi “Campur Racun” pada 2015, yang dianggap menghina budaya Sunda. Pernyataan tersebut memicu laporan polisi dari Angkatan Muda Siliwangi.
HRS juga menuding Dedi mempraktikkan syirik karena mendukung ajaran Sunda Wiwitan dan membangun patung. Dedi membantah dan menegaskan bahwa penghormatan terhadap budaya bukan berarti penyimpangan dari akidah Islam.
Ketegangan terbaru muncul ketika Dedi mengganti nama RSUD Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih. HRS mengkritik perubahan itu sebagai bentuk islamofobia dan pemborosan anggaran. Dedi menjelaskan bahwa nama tersebut lebih mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang mengedepankan kasih sayang.
Belajar dari Perbedaan, Bukan Menghakimi
Aceng Syamsul Hadie menekankan bahwa publik perlu belajar melihat dua tokoh besar ini secara proporsional dan dewasa:
“Mengagumi dua tokoh yang sering berseberangan bukanlah hal kontradiktif. Justru itu menunjukkan kedewasaan dalam melihat kompleksitas sosial. Habib Rizieq mengajarkan pentingnya menjaga akidah dan moralitas, sementara Dedi Mulyadi mengingatkan kita akan pentingnya merawat akar budaya dan identitas lokal.”
Menurutnya, keduanya adalah cermin Indonesia yang plural — antara Arab dan Nusantara, syariat dan adat, idealisme dan pragmatisme.
“Dalam perbedaan mereka, kita bisa belajar tentang toleransi, dialog, dan pentingnya memahami konteks sebelum menghakimi,” pungkas Aceng.
Sumber: Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM.
Editor: Kenzo,| Team Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Terpercaya, Berimbang dan Ter-Update
![]()
