🖊️ Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
🖋️ Laporan Jurnalis: Kang Aceng
📍 Editor: Kenzo | Redaksi AswinNews.com – Tajam, Akurat, Berimbang, dan Ter-Update
BANDA ACEH – ASWINNEWS.COM
Aceh kembali terluka, bukan oleh bencana, tapi oleh ketidaksadaran. Sebuah pohon Jeju—dalam istilah ilmiah dikenal sebagai Peltophorum pterocarpum—ditebang secara ilegal di kawasan ikonik Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Tak hanya merusak estetika kota, peristiwa ini menyayat ruang emosional dan ekologis warga.
Jeju Ulee Lheue bukan pohon sembarangan. Ia sempat viral di media sosial karena bunganya yang kuning menawan mirip bunga sakura, hingga dijuluki “Jeju Aceh”. Ia menjadi magnet bagi warga, wisatawan, dan para pencinta fotografi yang menjadikannya latar swafoto. Lebih dari itu, Jeju adalah bagian dari narasi kolektif warga kota: tempat berteduh, bercengkerama, dan bersyukur.
Namun awal Juli 2025, ia tumbang. Bukan oleh badai, tetapi oleh gergaji tak berperikemanusiaan. Pemerintah Kota Banda Aceh menyatakan bahwa penebangan ini melanggar Qanun Kota Banda Aceh Nomor 6 Tahun 2018 tentang Ruang Terbuka Hijau. Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah, bahkan menyebut pelaku sebagai “bukan orang yang sehat jiwanya”. Sebuah ungkapan yang menyimpan kritik dan keprihatinan.
Jejak Dendrophobia: Ketakutan Psikososial yang Merambah Pohon
Apa yang mendorong seseorang menebang pohon yang dicintai publik? Salah satu kemungkinan yang layak dipertimbangkan adalah dendrophobia—fobia terhadap pohon. Dalam kacamata antropologi psikologis, dendrophobia bukan sekadar gangguan mental, tapi bisa mencerminkan trauma ekologis, distorsi ideologi, atau ketakutan terhadap alam yang tidak bisa dikendalikan.
Menurut Schwab (2021), dalam banyak budaya, pohon bukan sekadar organisme. Ia adalah penanda waktu, saksi sejarah, penghubung spiritual antara manusia dan semesta. Maka, memotong pohon—terutama pohon ikonik seperti Jeju—bukan sekadar tindakan fisik, melainkan pembunuhan simbolik terhadap nilai-nilai bersama.
Rival (2021) menulis bahwa pohon memiliki “kehidupan sosial” yang mengikat ruang dan identitas. Penebangan itu bukan hanya kehilangan oksigen atau hijau visual, tapi kehilangan makna, kehilangan sejarah, dan kehilangan pusat ruang hidup.
Krisis Ekologis dalam Cermin Sosial Aceh
Penebangan Jeju bukan insiden tunggal. Di kawasan ekosistem Leuser, hingga kini praktik pembalakan liar terus menghantui. Di satu sisi, masyarakat Aceh berjuang memulihkan lingkungan pasca-tsunami. Di sisi lain, mentalitas eksploitatif masih menggerogoti kesadaran ekologis, bahkan di tengah kota.
Penulis (Chaidar, 2023) mencatat bahwa pembangunan pasca-tsunami justru banyak mengabaikan ruang simbolik masyarakat. Proyek infrastruktur tumbuh, namun akar budaya dan ruang sosial tercerabut. Kasus Jeju Ulee Lheue menandai puncak dari apa yang disebut tragedi kepemilikan bersama—ketika ruang publik dikorbankan demi ego atau kekuasaan tak terlihat.
Butuh Kebijakan Berbasis Budaya dan Psikologi Sosial
Aceh harus menjadikan insiden ini sebagai titik balik. Kebijakan perlindungan pohon tidak cukup hanya dengan qanun atau regulasi administratif. Ia harus menyentuh akar budaya, psikologi masyarakat, dan membangun narasi kolektif tentang pentingnya pohon sebagai sahabat, bukan musuh.
Pendidikan publik, kolaborasi masyarakat, dan peran akademisi sangat penting. Pemerintah daerah perlu mengembangkan sistem pelaporan warga, memperkuat perlindungan terhadap pohon-pohon ikonik, serta membuka ruang partisipasi publik dalam perencanaan ruang kota.
Dari Jeju ke Leuser: Satu Nafas, Satu Jiwa
Kisah Jeju Ulee Lheue adalah cerita kecil tentang luka besar yang masih menganga di hutan Aceh. Dari satu pohon yang tumbang, kita melihat refleksi ketakutan, ketidakpedulian, dan kadang, kebijakan yang lemah.
Namun pohon tidak pernah dendam. Ia tumbuh kembali—di mana pun manusia sadar, bahwa dalam bayangannya, hidup menjadi lebih sejuk.
📌 Catatan Penulis:
Mari kita jaga hutan, lindungi pohon, dan tumbuhkan kembali harapan. Sebab bila semua pohon habis, kepada siapa lagi kita akan berteduh?
![]()
