Ketika Dunia Membisu, Kita Menanti Isa Al-Masih

Oleh: Abahroy | Redaksi Aswinnews.com

Setiap anak yang gugur di Gaza, setiap rumah yang hancur di Rafah, dan setiap fajar yang disambut oleh jeritan ibu-ibu Palestina, adalah luka kemanusiaan yang seharusnya mengguncang nurani seluruh dunia. Tapi mengapa dunia tetap diam? Mengapa banyak negara Muslim seperti kehilangan lidah, sementara kekuatan Barat terus menyokong penjajahan?

Palestina bukan sekadar cerita tentang tanah yang direbut atau konflik agama. Ia adalah simbol pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan, antara keadilan dan penindasan. Ia adalah medan di mana kita diuji: di pihak mana kita berdiri?

Sementara itu, Iran tampil sebagai negara yang paling vokal membela Palestina, meskipun tak lepas dari kontroversi ideologis dan kepentingan geopolitik. Bagi sebagian kalangan, Iran adalah harapan dalam perlawanan terhadap dominasi Zionisme dan imperialisme Barat. Namun di sisi lain, muncul pula narasi-narasi yang menuduh Iran sebagai bagian dari skenario Dajjal—fitnah akhir zaman yang terus mengacaukan arah dan persatuan umat Islam.

Dajjal bukan semata satu figur. Ia adalah sistem—sistem yang menormalisasi kebohongan, menindas kebenaran, memanipulasi opini, dan menciptakan ketakutan demi melanggengkan kekuasaan. Bukankah hari ini kita melihatnya menjelma dalam wajah diplomasi palsu, media yang dikendalikan, dan lembaga internasional yang tak berdaya atau berpihak?

Dalam kesunyian yang menyesakkan inilah, umat menanti Isa Al-Masih. Bukan sekadar sosok penyelamat apokaliptik, melainkan simbol cahaya keadilan yang sejati. Hadis-hadis Nabi menjanjikan bahwa Isa akan menghancurkan Dajjal, menegakkan perdamaian, dan membebaskan manusia dari sistem kebatilan. Namun pertanyaannya: apakah kita layak menyambutnya, jika kita sendiri masih berpangku tangan?

Menanti Isa Al-Masih bukan berarti pasrah. Ia harus menjadi panggilan untuk menghidupkan kembali nurani kita, berdiri membela kebenaran meski sendirian, dan bersuara bagi mereka yang dibungkam. Turunnya Isa tak akan berarti jika umat masih mencintai dunia dan takut mati. Karena sebelum Isa turun, kitalah yang seharusnya naik—naik ke level keberanian, kepedulian, dan keteguhan iman.

Maka jangan hanya sibuk menunjuk siapa Dajjal dan siapa Mahdi, siapa Syiah dan siapa Sunni, siapa yang benar dan siapa yang salah. Selagi darah anak-anak Palestina masih membasahi tanah suci mereka, pertanyaannya hanya satu:
Di pihak siapa kita berdiri?

Cirebon, 20 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *