Jhon Kayame Bagikan Tanah Gratis untuk Warga Suku Mee di Nabire: Prioritaskan yang Tak Punya Rumah

Laporan Jurnalis: Alex’s Wayne | Editor: Kenzo_
Aswinnews.com – Tajam, Akurat, Berimbang, Terpercaya dan Ter-Update

NABIRE, Papua Tengah –
Sebuah langkah sosial langka dilakukan oleh Jhon Kayame, putra Samabusa, yang dengan sukarela menyiapkan dan berencana membagikan tanah seluas 2 kilometer secara gratis kepada warga suku Mee yang tinggal di Nabire dan belum memiliki tempat tinggal. Kebijakan ini ditujukan khusus bagi masyarakat yang selama ini hidup menumpang di rumah kerabat, tanpa lahan atau kebun sendiri.

Tanah yang akan dibagikan itu terletak di antara Jalan Utama Kimi, dekat Kompi Senapan, hingga kawasan Samabusa. Pembagian belum ditentukan waktunya secara pasti, namun Jhon memastikan bahwa pendataan dan seleksi calon penerima telah dimulai, dengan kriteria utama adalah warga suku Mee dari Paniai, Deiyai, atau Dogiyai yang berdomisili tetap di Nabire.

“Mereka harus hidup terpisah dan punya rumah serta kebun sendiri. Kita orang Mee adalah pelaku dan perintis di provinsi baru ini, bukan penonton,” tegas Jhon kepada wartawan, Sabtu (8/5), di kediamannya, Samabusa.


🔍 Siapa Jhon Kayame?

Jhon Kayame lahir dan besar di Samabusa. Ayahnya berasal dari suku Mee di pegunungan Paniai, sementara ibunya, Weldemina Waray, adalah bagian dari suku pesisir Wate, pemilik hak ulayat tanah Samabusa. Dalam dirinya mengalir dua identitas budaya Papua yang kuat: gunung dan pesisir.

Meskipun berdarah Mee, Jhon telah sejak lama diterima dan dianggap sebagai panutan oleh warga suku Wate di Samabusa. Kini, ia menggunakan kepercayaan itu untuk menjembatani akses tanah bagi warga Mee yang belum memiliki rumah di ibu kota provinsi baru ini.


🧭 Tanah untuk Siapa dan Mengapa?

Jhon menegaskan bahwa tanah hanya akan diberikan kepada warga Mee yang tidak memiliki rumah, kebun, atau tempat tinggal di Nabire. Mereka yang sudah memiliki aset tanah akan dikeluarkan dari pendataan, sesuai arahan langsung dari Jhon kepada para koordinator di lapangan.

“Kami ingin lahan ini benar-benar menyentuh yang membutuhkan. Tidak boleh ada manipulasi data,” tegasnya.

Lebih dari sekadar bantuan lahan, langkah ini merupakan manifestasi kepedulian, pengorbanan, dan penyesalan Jhon atas situasi warga Mee yang hidup berdesakan dalam satu rumah, bahkan setelah pemekaran provinsi Papua Tengah.


🏡 Harapan: Bangun Rumah, Sekolah, dan Gereja

Jhon berharap setelah tanah dibagikan, para penerima akan mendirikan rumah, membentuk permukiman, membangun gereja, sekolah, dan berkebun secara mandiri.

Namun ia menegaskan, jika ada penerima yang tidak memanfaatkan lahan tersebut secara serius, maka hak penggunaan akan ditarik kembali.

“Kalau hanya datang sebentar lalu pergi, kami tidak pikir panjang—tanah itu kami tarik kembali,” ujarnya.


💬 Tangis dan Tekad

Dalam pernyataannya yang penuh haru, Jhon menyampaikan bahwa langkah ini lahir dari kesedihan yang dalam, melihat bagaimana warga Mee masih belum punya tempat tinggal yang layak di kota tempat mereka turut membangun dari awal.

“Puji Tuhan, saya diberi ruang oleh om-om (kerabat mama saya) untuk menyiapkan tempat ini secara gratis. Ini pengorbanan dan kasih saya untuk masyarakat saya,” ujarnya sambil menangis.


Langkah Jhon Kayame ini bukan hanya soal bagi-bagi tanah. Ini adalah simbol keadilan sosial, panggilan budaya, dan wujud konkret dari solidaritas Papua di tengah realitas pemekaran yang belum sepenuhnya memberi manfaat bagi masyarakat adat.


Redaksi AswinNews.com

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *