Pemudik Mulai Antre Sejak Subuh Meski Diguyur Hujan,Demi Giliran Lebih Awal di Roro Air Putih
Pemudik Mulai Antre Sejak Subuh Meski Diguyur Hujan, Demi Giliran Lebih Awal di Roro Air Putih
BENGKALIS – ASWINNEWS.COM – Meski hujan mengguyur kawasan Pelabuhan Roro Air Putih sejak dini hari, semangat para pemudik untuk mendapatkan giliran penyeberangan lebih cepat tidak surut. Sejak pukul 04.30 WIB, Sabtu (5/4/2025), antrean kendaraan kembali memadati akses menuju pelabuhan, menandai lanjutan dari kemelut yang belum juga terselesaikan sejak sehari sebelumnya.
Dengan tubuh menggigil dan kondisi kendaraan yang basah, para pemudik tetap bertahan demi bisa menyeberang ke seberang daratan. Banyak dari mereka bahkan tidak sempat pulang, memilih tidur di dalam mobil atau di bawah terpal seadanya semalaman.
“Hujan dari tadi malam, tapi kami tetap bertahan. Takut kalau telat, makin tertinggal antrean. Ini perjuangan demi bisa pulang Lebaran,” ujar Rudi, sopir travel asal Duri.
Ayu, seorang ibu rumah tangga yang membawa dua anak kecil, terlihat sibuk menenangkan anak-anaknya yang mulai rewel karena dingin dan kelelahan. “Anak saya demam karena kehujanan. Tapi kami tidak punya pilihan lain selain tetap di sini,” keluhnya sambil mengusap kepala anaknya.
Ironisnya, di tengah situasi penuh penderitaan ini, belum ada tindakan atau penyataan resmi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Bengkalis. Kepala Dinas Perhubungan, Muhammad Adi Pranoto, tetap bungkam meski sudah berkali-kali dihubungi wartawan dan masyarakat.
“Kami hanya butuh kepastian, bukan janji-janji. Sistem yang katanya canggih ternyata tidak menyentuh kebutuhan dasar kami sebagai pemudik,” ujar warga lainnya dengan nada kecewa.
Kondisi ini membuat banyak pihak mendesak agar Pemkab Bengkalis segera turun tangan langsung ke lapangan. Selain persoalan teknis, cuaca buruk juga dinilai dapat memperburuk situasi dan meningkatkan risiko keselamatan di area pelabuhan.
Jika tidak ada perubahan signifikan dalam beberapa jam ke depan, para pemudik mengancam akan melakukan aksi spontan sebagai bentuk kekecewaan terhadap sistem yang dinilai gagal.