Ketupat Palsu Yang Menjadi Masalah Dalam Acara Halal Bi Halal Aspirasi Indonesia
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Ketupat palsu itu mulanya disebut lontong, karena bungkusnya tidak dari daun kelapa muda, tapi hanya di buntel dengan daun pisang. Lebih palsu lagi jika ketupat dibuat dengan bungkus plastik, seperti tempe di perkotaan yang tidak lagi membuat tempe dengan daun pisang. Meskipun di kampung-kampung ada juga tempe yang dibungkus dengan daun waru.
Bedanya tempat yang dibuat dengan daun pisang, bisa dibuat panjang hingga 10 meter panjangnya, tergantung dari meja tempat menggelar tempe itu saat dibuat. Itulah sebabnya tempe yang dibuat dengan bungkus daun pisang harus dipotong-potong pendek agar dapat lebih mudah diangkut ke pasar. Karena bagaimana mungkin jika tempat sepanjang 10 meter itu bisa dipukul ke pasar. Soalnya, bukan saja akan terkesan aneh, tapi bisa dikira orang banyak kita sedang menjual batang bambu yang memang begitu adanya untuk dijadikan barang dagangan. Sebab batang bambu akan sulit lalu kalau dipotong-potong pendek seperti saat menjual tempe di pasar.
Jadi, menang masalah ketupat palsu seperti yang dipromosikan oleh Emak-emak Aspirasi Indonesia yang telah kesohor sebagai pelaku aksi dan unjuk rasa atas penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat ini, jadi panjang ceritanya. Padahal masalahnya, baru pada lebaran tahun ini ada masalah ketupat palsu yang menjadi topik pembicaraan. Padahal, masalah ijazah palsu saja sudah dianggap basi karena sudah ada gelar palsu yang bisa dibeli dengan harga yang lebih murah. Tingkatannya pun lebih tinggi dari gelar sarjana dari Fakultas Kehutanan. Sebab gelar yang asli dan lebih tinggi sudah bisa dibeli dengan harga yang lebih murah. Boleh jadi gelar yang second pasti lebih murah karena sudah dijajakan di pasar loak bersama barang bekas lainnya.
Bahkan beberapa diantara gelar itu kayaknya milik saya yang sudah dibuang di tempat sampah. Lalu mengapa masalah ketupat palsu harus dipersoalkan, sementara tak hanya gigi palsu yang menjadi hasrat banyak orang, duit palsu tidak sedikit yang beredar dalam masyarakat kita. Artinya, ketika berbelanja pun kita mesti waspada, jangan-jangan duit yang ada di dalam dompet kita juga palsu semua.
Soalnya, kalau barang palsu itu tetap dianggap laku dan berlaku seperti duit palsu dan ijazah palsu, apa masalahnya kemudian yang mesti dipersoalkan. Karena masalahnya yang gawat, kalau duit yang kita belanjaan itu itu palsu lantas tertangkap basah oleh penjualnya yang melaporkan kepada aparat penegak hukum karena dianggap penipuan, itu baru celaka buat kita. Apalagi uang itu sendiri kita dapatkan dari jerih payah kerja di tengah ancaman PHK dimana-mana. Karena memang ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Jadi masihkah ketupat palsu jadi begitu penting untuk dipersoalkan ?
Yang penting, asalkan gulai opor atau rendangnya tidak palsu juga. Sebab ketika mengunyah makanan sesedap itu, pasti tidak akan enak juga rasanya bila gigi palsu kita pun sudah terbilang renta.
Banten, 5 April 2025
—
Bendera Indonesia Telah Dihapus Dari Jet Tempur KF-21 Dari Korea SelatanOleh : Amandus DooKetua DPD…
*Refleksi Tanggung Jawab Guru, Orang Tua dan Masyarakat dalam Pendidikan Anak* Oleh : H. Sujaya,…
Ajakan Resmi Aspirasi Indonesia Halal Bihalal di Yogakarta dan Solo Bersama KNPRIOleh : Jacob EresteWartawan…
Waspada Penipuan! Wakil Bupati Kepulauan Meranti H. Muzamil Baharuddin Tegaskan Nomor WA 081226086866 Bukan MiliknyaMERANTI…
https://www.youtube.com/watch?v=pbpjXndwUnA
Memakmurkan Masjid Agar Dapat Menjadi Pusat Pengembangan Peradaban Bagi Manusia Memasuki Masa Depan Yang Lebih…