*Fenomena Guru “Ngonten” di Sekolah bersama Anak-anak dan Distorsi Peran Guru yang sangat Berbahaya*
Oleh : H. Sujaya, S. Pd. Gr.
( Dewan Penasihat DPP Asosiasi Wartawan Internasional – ASWIN)
*A. Fenomena dan Keprihatinan Guru Ngonten bersama Anak-anak di Sekolah*
Semakin banyak Guru ngonten di depan kelas dengan anak-anak yang seharusnya perlu kita hindarkan dari sosial media. Hal tersebut seolah-olah ingin mendekatkan anak agar kecanduan sosial media, padahal hal ini sangat berbahaya karena dapat membunuh masa depan anak-anak.
Kita selayaknya prihatin dan perlu khawatir terhadap peran Guru di era digital dan potensi bahayanya terhadap anak-anak di sekolah.
Konten viral guru dan anak-anak di kelas atau sekolah berjoged di sosial media bukan kejadian tunggal, tetapi berulang dan sangat masif yang sering kita lihat di sosial media.
Apakah ini karena kebodohan atau ketidaktahuan guru tentang bahayanya? Padahal tugas seorang guru sebagai pendidik sebenarnya. Guru harus menciptakan sekolah sebagai ruang bertumbuh yang aman dan kondusif untuk semua anak-anak di sekolah.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan anak di bawah umur 13 tahun tidak dibolehkan menggunakan media sosial secara aktif.
Alasannya yang sangat realistis dan logis ini karena beberapa alasan yaitu :
1.Anak-anak rentan terhadap paparan media sosial yang tidak pantas.
2.Bahaya tekanan sosial di sosial media terhadap psikologis anak-anak.
3.Anak-anak mudah mengalami gangguan psikologis
4.Anak-anak kecanduan validasi online.
Anehnya Guru yang tidak bertanggung jawab, justru ngonten bersama anak-anak dan memperkenalkan panggung digital yang berbahaya dengan cara ngonten di depan anak-anak.
Ini adalah distorsi peran Guru, bukan inovasi yang baik. Walaupun ada yang berkata dengan alasan ingin dekat dengan anak-anak.
Tapi dengan kedekatan tanpa arah yang jelas justru hanya akan menyesatkan anak-anak. Karena mendidik bukan hanya soal disukai tapi soal mengasah logika. Menghidupkan nalar dan menjaga akhlak.
Karena anak-anak belum siap tampil apalagi ditampilkan.
Hal ini karena beberapa alasan, yaitu :
1.Jean Piaget :
Anak usia SD ada di fase operasional konkret, belum bisa menimbang resiko sosial.
2.Unicef dan WHO : Anak usia 6 – 12 adalah masa pembentukan nilai diri dan empati.
Tetapi saat ini oleh Guru diseret ke dunia dewasa yang berbahaya, justru hal itu terjadi oleh Guru yang seharusnya melindungi mereka dari bahaya paparan media sosial dan dan digital yang berbahaya.
*B. Alasan dan Kekhawatiran terhadap Fenomena Ini*
Berikut beberapa poin yang menjadi alasan untuk menyudahi fenomena ini dan kita guru dan orang tua harus segera menghentikannya.
1.Kekhawatiran Terhadap Anak-anak
Memang sangat beralasan untuk menyatakan keprihatinan terhadap dampak negatif sosial media bagi anak usia sekolah. Anak-anak belum siap menghadapi tekanan sosial dan konsekuensi dari media sosial seperti yang Anda uraikan (Johnson, Williams & Brown, 2005).
2.Distorsi Peran Guru
Membuat konten viral di depan kelas dapat dianggap sebagai distorsi peran guru. Guru harus memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial dan teknologi di lingkungan sekolah, serta menjelaskan bahaya yang terkandung.
3.Peran Guru Sebagai Pendidik
Guru harus fokus pada tujuan pendidikan, yaitu membimbing anak agar menjadi individu yang berkualitas dan bertanggung jawab (Smith, Doe & Rowell, 2002).
4.Pentingnya Membangun Keterampilan Digital yang Sehat Anak-anak perlu dibekali dengan keterampilan digital yang sehat untuk menikmati manfaat teknologi tanpa terjebak dalam dampak negatifnya.
**C. Solusi dan Langkah yang Dapat Dilakukan: **
Dalam mengatasi masalah ini perlu langkah-langkah yang harus dilakukan :
1.Mendidik Guru dan Orang Tua
Perlu adanya program pelatihan bagi guru dan orang tua tentang bahaya media sosial bagi anak-anak (Johnson, Williams & Brown, 2005).
2.Membuat Aturan Sekolah
Menerapkan aturan yang jelas tentang penggunaan media sosial di lingkungan sekolah. Misalnya, mencegah anak menggunakan ponsel di dalam kelas.
3.Meningkatkan Literasi Digital Anak-anak
Membekali anak dengan pengetahuan tentang cara memilih konten yang bermanfaat dan menghindari konten negatif.
4.Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif Membangun lingkungan sekolah yang mendukung proses belajar yang menyenangkan, aman, dan sehat (Smith, Doe & Rowell, 2002).
*D. Kesimpulan:*
Memasuki era digital menuntut kita untuk bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Guru memiliki peran penting dalam membimbing anak agar menjadi individu yang berkualitas, tetapi juga harus menjaga anak dari bahaya media sosial yang berpotensi merusak perkembangan mereka (Johnson, Williams & Brown, 2005).
Indramayu. 5/4/202
—
Bendera Indonesia Telah Dihapus Dari Jet Tempur KF-21 Dari Korea SelatanOleh : Amandus DooKetua DPD…
*Refleksi Tanggung Jawab Guru, Orang Tua dan Masyarakat dalam Pendidikan Anak* Oleh : H. Sujaya,…
Ajakan Resmi Aspirasi Indonesia Halal Bihalal di Yogakarta dan Solo Bersama KNPRIOleh : Jacob EresteWartawan…
Waspada Penipuan! Wakil Bupati Kepulauan Meranti H. Muzamil Baharuddin Tegaskan Nomor WA 081226086866 Bukan MiliknyaMERANTI…
https://www.youtube.com/watch?v=pbpjXndwUnA
Memakmurkan Masjid Agar Dapat Menjadi Pusat Pengembangan Peradaban Bagi Manusia Memasuki Masa Depan Yang Lebih…