Nilai-Nilai Spiritual Dari Pemberi Dan Pihak Penerima THR Serta Bingkisan Lebaran
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) dan bingkisan untuk ikut merayakan hari raya keagamaan, sungguh indah karena menandai rasa peduli, perhatian, simpati atau empati dari pemberi kepada yang diberi. Meski begitu, tidak lantas yang memberi memiliki kelebihan dari yang diberi, kecuali keikhlasan bagi si pemberi dan rasa syukur bagi yang diberi. Sehingga nilai manfaatnya memiliki impak yang positif bagi kedua belah pihak dalam perspektif spiritual yang mempunyai keterkaitan erat dalam pelaksanaan ibadah puasa dan perayaan hari raya lebaran.
Nilai keikhlasan dari yang memberi THR dan bingkisan lebaran itu pasti memiliki unsur kepuasan, kebahagiaan seperti yang menerima THR dan bingkisan lebaran itu dengan penuh rasa syukur bahwa nikmat yang dirasakan oleh orang lain pun — meski sedikit atau sekedarnya saja — telah mendatang kebahagiaan serta kegembiraan pula.
Dalam pemahaman dimensi spiritual, begitulah muatan nilai pemberian THR dan bingkisan lebaran yang menggetarkan rasa syukur bagi pihak yang menerima. Bahwa perhatian, kepedulian serta semacam rasa solidaritas sosial yang bernuansa spiritual mampu menumbuhkan sekaligus memelihara ras syukur atas segala nikmat yang dapat dirasakan, tak hanya dalam arti fisik, tetapi juga psikologis yang bersemayam di dalam hati, seperti vibrasi spiritual lainnya yang tidak terucapkan.
Setidaknya, dengan berkirim dan menerima THR serta bingkisan lebaran itu ikatan perlawanan, mitra dan jalinan persaudaraan jadi semakin langgeng dan kuat dari deraan derita yang mungkin sangat terasa ketika kondisi ekonomi nasional sedang memburuk. Sebab bagi yang memberi THR dan bingkisan lebaran itu dapat dilakukan dalam kondisi ekonomi nasional yang sedang sulit sekarang ini merupakan hal yang terpuji, jika tidak bisa dikatakan pilihan sikap yang luar biasa.
Sementara bagi si penerima, dapat menimbulkan rasa haru dan takjub, bukan hanya karena bisa ikut menikmati kegembiraan dan kebahagiaan pada hari raya lebaran, tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah kesetiaan – kawan, perikatan persaudaraan yang jauh berada di luar kalkulasi ekonomi atau sikap pamrih, kecuali semata-mata adanya getaran cinta dan kasih yang tak terlukiskan oleh kata-kata-kata.
Rangkaian peristiwa spiritual serupa itu, mungkin saja tidak akan pernah terjadi dalam tradisi maupun budaya masyarakat yang lain, misalnya yang untuk mereka yang terlanjur memiliki sikap materialistik dan individual seperti fitrah bawaan dari paham kapitalisme yang telah bermetamorfosa menjadi neo-lib sebagai bagian dari gesekan budaya yang juga telah melanda Indonesia.
Inilah bagian dari resume diskusi informal rutin mingguan Senin-Kamis di Sekretariat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat, hari Senin, 24 Maret 2025.
Karena itu, tradisi atau budaya memberi dan menerima THR maupun bingkisan lebaran dapat dipahami sebagai upaya menjaga dan mengembangkan budaya bangsa agar tidak melupakan falsafah Pancasila yang kini acap dikatakan oleh banyak orang sekedar slogan belaka. Setidaknya, pemberian dan penerimaan THR dan bingkisan lebaran dapat disadari sebagai wujud dari bagian dari keyakinan sistem berbangsa dan bernegara kita yang sesungguhnya penuh nilai-nilai kekeluargaan. Gotong royong yang tidak ada dalam sistem sosial bangsa-bangsa lain.
Banten, 25 Maret 2025
—
Abu Kasim Nahkodai FW RPG Bengkalis, Siap Majukan Organisasi Dan Jurnalisme LokalBENGKALIS – ASWINNEWS.COM -…
Inauguration of Senden Village Apparatus, Peterongan Sub-district Head: Ready to Carry Out the MandateJOMBANG-ASWINNRES.COM- The…
Pelantikan Perangkat Desa Senden, Camat Peterongan: Siap Jalankan AmanahJOMBANG-ASWINNRES.COM- Pemerintah Desa Senden, Kecamatan Peterongan, resmi…
* All Leaders & Members and the Extended Family of the Secretariat of the Purwakarta…
* Segenap Pimpinan & Anggota Serta Keluarga Besar Sekretariat DPRD Kabupaten Purwakarta *Mengucapkan," Selamat Merayakan…
Perayaan Hari Raya Lebaran Di Kampung Dahulu Yang Kini Tidaklah Mungkin Terulang Keindahan dan KeasyikannyaOleh…