Makna Ketupat Dan Lebaran Serta Filosofisnya
Oleh : H. Sujaya, S. Pd. Gr.
(Dewan Penasihat DPP ASWIN)
Ketupat adalah hidangan khas yang identik dengan perayaan IdulFitri di Indonesia.
Ketupat, yang terbuat dari beras dan direbus yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda (janur), memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Nusantara, khususnya di kalangan masyarakat Jawa dan Melayu.
*A. Makna Filosofis Ketupat*
1.Simbol Kesucian dan Keikhlasan
Kata “ketupat” dalam bahasa Jawa disebut kupat, yang merupakan akronim dari ngaku lepat (mengakui kesalahan). Ini melambangkan momen Lebaran sebagai waktu untuk saling memaafkan dan kembali suci setelah menjalani puasa Ramadan.
2.Anyaman sebagai Simbol Kehidupan
Bentuk anyaman daun kelapa mencerminkan kompleksitas kehidupan manusia yang penuh dengan lika-liku. Namun, setelah dikupas, ketupat menunjukkan isi yang putih bersih, yang melambangkan hati yang kembali suci setelah menjalani ibadah Ramadan.
3.Simbol Kebersamaan dan Kedermawanan
Ketupat sering disajikan dan dibagikan kepada tetangga serta sanak saudara, mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat.
4.Makna Berkelimpahan dan Berkah
Bentuk ketupat yang padat dan mengembang setelah dimasak melambangkan rezeki yang melimpah dan keberkahan yang diberikan setelah menjalankan ibadah puasa.
*B. Ketupat dalam Tradisi Lebaran*
Selain dihidangkan bersama opor ayam, rendang, dan sambal goreng ati, ketupat juga digunakan dalam berbagai ritual tradisional, seperti Syawalan di Jawa dan Lebaran Ketupat di beberapa daerah seperti Madura dan Lombok, yang dirayakan seminggu setelah IdulFitri.
Secara keseluruhan, ketupat bukan hanya sekadar makanan khas Lebaran, tetapi juga memiliki nilai budaya, spiritual, dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Indonesia.
*C. Filosofi Lebaran dan Maknanya*
Lebaran, yang dirayakan sebagai Idulfitri, memiliki makna yang sangat mendalam, baik dari segi spiritual, sosial, maupun budaya. Kata “Lebaran” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang memiliki beberapa interpretasi filosofis:
1.”Luberan” (Melimpahnya Rahmat dan Keberkahan)
Lebaran melambangkan limpahan rahmat dan keberkahan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Umat Islam percaya bahwa di hari Idulfitri, mereka kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru lahir.
2.”Lebar” (Terbukanya Pintu Maaf)
Tradisi saling bermaafan (halalbihalal) menjadi bagian penting dari Lebaran. Ini menunjukkan bahwa Idulfitri bukan hanya tentang kemenangan spiritual tetapi juga tentang memperbaiki hubungan sosial dan menyucikan hati dari kesalahan masa lalu.
3.”Laburan” ( Mensuci
kan Diri)
Dalam tradisi Jawa, labur berarti putih atau bersih. Lebaran menjadi simbol pembersihan jiwa setelah menjalani puasa dan meningkatkan keimanan kepada Tuhan.
4.”Lebar-an” (Akhir dari Perjuangan Puasa)
Puasa selama sebulan penuh diibaratkan sebagai perjalanan panjang penuh ujian. Lebaran menandai keberhasilan melewati ujian tersebut dan kembali kepada fitrah (kesucian).
Indramayu. 25/3/2025
—