Kemiskinan Dan Kebodohan Membuat Penjajah Terselubung Menjadi- jadi
Kemiskinan dan Kebodohan Membuat Penjajah Terselubung Semakin Menjadi-jadi
Oleh : Jacob Ereste Wartawan Lepas
Sungguh tragis di negeri yang acap disebut kaya raya ini masih banyak rakyatnya yang serba miskin, bahkan super miskin. Sebabnya tak jelas, karena terlalu banyak alasan dan teori tentang kemiskinan yang bergelayut di berbagai plosok negeri. Tudingan pertama lantaran kebodohan, akibat tak cekatan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang justru dominan dinikmati oleh bangsa asing. Lalu bangsa pribumi terus merana, seakan menerima nasib yang sudah tersurat dari langit. Padahal do’a dan usaha pun sudah berulang kali dicoba, tak hanya sekedar untuk menguji peruntungan yang mungkin masih tersisa untuk mengubah nasib. Toh, penghasilan setiap hari hanya dapat mencukupi kebutuhan hidup minimal seperti umumnya pekerja dari kawasan industri yang juga sedang dilanda krisis yang kritid. Tidak sedikit diabtara perusahaan itu sekarang yang ditutup alias tidak sanggup membiayai ongkos untuk terus berproduksi.
Pemutusan hubungan kerja sepihak seperti terpaksa dilakukan tiada pilihan alternatif agar tidak menanggung rugi yang lebih besar, karena data beli masyarakat lokal, nasional bahkan internasional pun mengalami pengetatan seperti pemerintah Indonesia sendiri yang melakukan efisiensi anggaran pengeluaran yang dapat ditekan seminimal mungkin.
Gejala ini kata para pelaku ekonomi adakah resesi, krisis atau bahkan ada diantaranya yang mengatakan sudah bangkrut. Artinya untuk warga masyarakat yang cuma butuh cupak beras setiap hari untuk hidup bersama sejumlah anggota keluarganya yang lain, hanya dapat dianjurkan untuk lebih banyak berdoa serta mengulur kesabaran sampai waktu yang tak jelas kapan akan berakhir.
Bedanya di jaman paceklik dan sejenis kesulitan ekonomi pada masa lalu hingga minyak tanah dan garam dapur juga harus antre, pada hari ini kesulitan ekonomi yang parah sekarang ini, nyaris semua warga berada dalam suasana yang gemerlap. Setidaknya melalui pantulan cahaya telephon genggang yang tidak memiliki pulsa sekalipun.
Setidaknya masih ada peluang yang tersisa untuk menghibur diri untuk sejenak melupakan rasa lapar massal dari satu keluarga yang luput dari perhatian pemerintah yang mengemban amanah konstitusi negara sejak diproklamirkan 80 tahun silam. Dalam rentang waktu selama itu, artinya sudah lebih dari tiga generasi.
Karena itu gaung revolusi belum selesai maknanya adalah upaya untuk mengubah secara cepat kondisi hidup yang nelangsa, hingga dominan tercepat dalam posisi untuk dikasihani. Padahal, hakekat dari manusia merdeka itu meliputi martabat dan harga diri yang boleh dikurangi sedikitpun dengan alasan apapun.
Dalam kontek ini agaknya pekik merdeka yang acap diteriakkan untuk menandai semangat dan gairah yang heroik sering disambut dengan kalimat sinis : belum ! lengkap dengan tanda seru.
Realitasnya mungkin saha benar, karena dimana-mana — dalam berbagai aspek kehidupan — sedang berlangsung penjajahan terselubung dalam bentuk dan modelnya yang terbaru. Mungkin begitulah, ceritanya kemiskinan dan kebodohan membuat penjajahan terselubung semakin berjaya di negeri ini.