Birahi Korupsi Di Indonesia Telah Menjadi Penyakit Maniak Yang Akut


Birahi Korupsi Di Indonesia Telah Menjadi Penyakit Maniak Yang Akut

Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas


Korupsi di Indonesia sudah mencapai titik akut. Sehingga tiada lagi ada sektor yang tidak terjamah oleh koruptor. Mulai dari lembaga keagamaan sampai bidang usaha swasta milik negara dijarah. Terakhir pada pekan ini adalah Pertamina yang terkenal basah dan melimpah keuntungan yang memberi peluang besar bagi pelaku korupsi mengambil kesempatan dari berbagai celah yang dapat dimanfaatkan. Tak hanya yang bisa merugikan negara, tapi yang terkait dengan kepentingan rakyat pun digasak.

Di bidang asuransi dan penghimpun dana pensiun dilibas seperti dana haji yang yang tak lagi jelas juntrungan dari penyelesaian masalah yang merundunginya. Ketika masih dianggap kurang pun hukum dan peradilan hingga perijinan untuk mengkapling laut dikomersialkan juga. Jadi tindak pidana korupsi sudah menjarah wilayah yang lagi berujud benda. Karena jabatan sampai peluang untuk masuk menjadi aparatur sipil negara militer terkesan seperti tidak lagi pamali untuk dilakukan oleh siapa saja yang memiliki peluang dan kesempatan melakukannya.

Perilaku korupsi telah menjadi budaya yang dianggap wajar dilakukan. Meski taruhannya tidak cuma sekedar nama baik, tapi reputasi dan karier pun dipertaruhkan hanya untuk cepat menjadi kaya raya. Pelakunya pun tak sembarang orang yang menjadi aktor utamanya. Mulai dari mereka yang memiliki tingkat intelektual, hingga mereka yang mempunyai jabatan dan pangkat tinggi di negeri ini harus mengakhiri masa hidupnya mendekam di penjara. Meski secara ekonomi pun strata kemewahan sudah mereka reguk semua yang terbilang enak di dunia.

Begitulah ketamakan dan kerakusan yang tidak terkendali lewat etika, moral dan akhlak mulia manusia yang telah diberikan oleh Tuhan untuk selalu mengingat-Nya dan perduli sesama manusia serta ramah dan santun terhadap alam, utamanya segala sumber yang ada di muka bumi hingga yang terkandung di dalamnya.

Kekayaan alam dan kerentanan budaya di Indonesia boleh juga ikut memanjakan bangsa Indonesia yang merasa baru terbebas dari penjajahan, meski republik Indonesia sendiri sudah nyaris berusia seabad diproklamasikan yang berhimpun dari berbagai negeri suku bangsa Nusantara dengan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Makna persatuan pun dalam geopolitik serta geobudaya seakan lapuk di telan jaman, sejak filsafat bangsa dan ideologi negara berpagut dengan kapitalisme yang merangsang birahi materialistik hingga kemudian berpenampilan gagah disebut neoliberal yang mengumbar kebebasan untuk memperoleh dan menikmati semua kemudahan yang bisa dirasakan di dunia, tanpa perlu percaya pada alam akhirat.

Itulah sebabnya gerakan kebangkitan dan kesadaran spiritual perlu dikibarkan untuk tampil dari Timur hingga dunia Barat, agar kendali ketamakan dan kerakusan bisa dilakukan oleh setiap orang utamanya bagi para pengambil kebijakan di negeri ini. Sebab hanya dengan begitu dunia ini akan lebih baik, karena memang tidak mungkin ditata sendiri oleh seorang yang paling berkuasa sekalipun di negeri ini dan di dunia ini. Sebab ketamakan dan kerakusan pun telah diwujudkan dalam bentuk kekuasaan, cawe-cawe dengan cara menanamkan bom waktu yang siap diledakkan dari masing-masing tokoh yang dianggap sebagai pesaing atau mereka yang hendak merintangi birahi bejatnya. Maka itu dalam budaya korupsi — yang tamak dan rakus — telah melahirkan Sandra politik yang dapat diperjualbelikan atau tukar guling dengan Kadus yang lain. Semua bernilai milyaran dollar, sehingga harga diri rupiah menjadi terhina dan terpuruk.


Petojo, 27 Februari 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *