Ketulusan Dan Keikhlasan Dalam Laku Dan Perjalanan Spiritual Yang Mwnhaayikan


Ketulusan Dan Keikhlasan Dalam Laku Dan Perjalanan Spiritual Yang Mengasyikkan


Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas


Tulus dan ikhlas itu bermula dari rasa cinta, kasih dan sayang tanpa pamrih. Karenanya, cinta tidak terbalas pun, tidak akan menjadi persoalan. Karena ketulusan itu adalah kerelaan tiada berbatas, tiada sesal, tiada kalkulasi untung dan rugi karena ikhlas diberikan atau dilakukan tiada pamrih imbalan.

Karena tulus dan ikhlas tiada pernah menimbulkan sesal. Kecewa bisa saja terjadi dalam ketulusan dan keikhlasan, tapi tiada sesal. Resikonya memang hanya akan menghentikan untuk sementara waktu dari pemberian atau apa pun bentuk yang dilakukan itu, untuk kemudian akan melakukan hal yang sama dengan penuh tulus dan ikhlas seperti yang pernah dilakukan atau diberikan.

Karena pada dasarnya dalam ketulusan dan keikhlasan itu memiliki nuansa dan getaran cinta dengan kualitas kasih dan sayang yang sudah teruji tanpa pamrih. Hingga dengan sendirinya siap dan sanggup menerima segala resiko dengan pasrah tanpa beban apapun.

Tulus dan ikhlas yang palsu, bisa pasti akan menimbulkan rasa kekecewaan yang sulit untuk ditolerir dan susah untuk dimaafkan. Lantaran pamrih yang tidak terbalas, entah dalam bentuk apapun yang menjadi harapan dalam memberi atau melakukan sesuatu yang penuh harapan mendapat imbalan itu, menjadi semacam pengganjal di dalam hati.

Harapan orang tua yang tulus dan ikhlas memberikan sesuatu dan melakukan banyak hal untuk anak-anaknya, jika dilakukan dengan sepenuh hati yang tulus dan ikhlas, apapun hasilnya tidak pernah akan menimbulkan kekecewaan. Apalagi dasarnya dapat dipahami memiliki keterkaitan dengan keyakinan tentang nasib dan suratan tangan.

Begitu juga dengan pemahaman setiap orang yang percaya dengan nasib dan jodoh itu, jelas tidak sepenuhnya dapat menjadi bagian dari otoritas manusia yang bersangkutan. Sebab kekuasaan Tuhan yang mutlak dapat dimengerti tidak mungkin dapat dimiliki atau bahkan dikudeta dengan cara apapun dari kekuasaan Tuhan oleh manusia.

Proses pemahaman dan pengertian serupa ini untuk banyak diyakini orang sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang berada di dalam jiwa. Maka itu, hakekat spiritual itu dapat dimengerti sebagai proses kesadaran diri yang selalu bersifat ke kedalaman hati dan jiwa. Bukan perjalan batin yang bersifat ke luar. Jika pun ada batin yang bersifat keluar itu dapat disebut atau dipahami semacam proses perjalan batin yang acap disebut semacam rekreasi spiritual semata, sekedar untuk memperoleh warna dalam perspektif yang memperkaya wawasan atau seperti pandang mata dalam pencernaan indra untuk sekedar dapat menyegarkan jiwa. Lantaran itulah, ziarah, mencari keheningan di alam terbuka dan rekreasi spiritual dalam bentuk yang lain bisa dipahami bukanlah klenik yang acap menjadi pergunjingan banyak orang, hingga tidak jarang ada yang mengkategorikannya dengan sebutan musyrik, lantaran menganggap telah menyekutukan Tuhan. Padahal, keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa — seperti termaktub dalam falsafah bangsa Indonesia, yaitu Pancasila — tidak mungkin mendua dalam keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu.


Sumur Batu, 26 Februari 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *