Tuhan,Alam dan Manusia Siklus Pengembaraan Spiritual Tiada Bertepi
Tuhan, Alam dan Manusia Siklus Pengembaraan Spiritual Tiada Bertepi
Oleh : Jacob Ereste Wartawan Lepas
Dari perspektif sejarah penciptaan manusia, Tuhan pasti telah menurunkan agama yang dirasakan oleh manusia perlu diselaraskan — untuk tidak disebut menyempurnakan — pada bagian penyelarasan inilah agama dapat dipahami mulai dimasuki oleh budaya yang dapat dipahami sebagai hasil dari tindakan manusia, sehingga agama dapat diterima dan terus berkembang sebagai pedoman, ajaran serta petunjuk bagi hidup dan kehidupan manusia sampai hari ini dengan tetap mempertahankan hal-hal yang prinsip agar tidak membias dan salah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan pemeluknya.
Agama-agama langit yang diturunkan ke dunia pen terus menebar membuktikan kebenaran yang dibawa untuk manusia guna ditekuni dan diyakini dapat menjaga dan memperbaiki pola sikap manusia yang tidak selaras dengan tuntunan Tuhan serta alam yang mengurai ayat-ayat kebesaran Tuhan atas seluruh firman dan hukum-Nya yang kemudian dimengerti dan dipahami oleh manusia sebagai hukum alam.
Behitulah sunnstullah yang tidak terbantah dan tidak boleh dilanggar oleh manusia jika tidak ingin menghadapi bencana.
Hukum Tuhan yang dipahami oleh manusia sebagai sunnatullah ini yang tidak mampu diatasi oleh manusia ini cukup disebut bencana. Lantaran misteri serta kegaibannya dari bencana itu sulit dimengerti oleh akal sehat sejenis apapun. Inilah bagian terpenting dari pendalaman kecerdasan spiritual yang mampu membaca ayat-ayat Tuhan yang tertera dilangit dan di bumi sehingga dalam versi Sri Eko Sroyanto Galgendu selaku Pemimpin Spiritual Nusantara dia sebut ayat-ayat bumi. Sedangkan dalam istilah Prof. Rafik Karsidi dia katakan sebagai ayat-ayat langit.
Ayat-ayat bumi dalam istilah lain acap disebut ayat-ayat buana. Seperti ayat-ayat diri yang terdapat dalam setiap jiwa dan raga manusia yang sesungguhnya menjadi titik sentral pengembaraan spiritual manusia Nusantara yang dapat dipahami memasuki kedalaman jatidiri — jiwa, batin dan ruh — sehingga wujud dari pengembaraan yang bersifat keluar — ziarah ke pemakaman para leluhur misalnya — hanya semacam rekreasi batin untuk mendapatkan kesegaran jiwa, batin dan ruh semata, seperti rekreasi pada umumnya di alam bebas untuk mendapatkan suasana yang indah guna menghiasi suasana jiwa, batin dan ruh agar lebih kaya nuansa spiritual guna menggamit esensi dari inti pokok nilai-nilai spiritual. Kecuali itu, ayat-ayat bumi atau ayat-ayat buana jelas dan pasti memiliki kekuatan supra natural yang menang tidak semua mampu dipahami oleh manusia, kecuali hanya bagi mereka yang membuka diri untuk memasuki wilayah spiritual yang sifatnya sangat pribadi dan tidak penting untuk ditunjukkan kepada orang lain. Sebab pengalaman batin yang diperoleh hanya dapat dinikmati oleh jiwa yang bersemayam di dalam ruh yang berada dalam otoritas ilahiyah.
Karena itu, laku spiritual yang matang akan ditandai oleh sikap ugahari, tidak sombong, rendah hati, tampil sederhana, jauh dari sensasi — apalagi hanya sekedar pencitraan belaka — yang didasari oleh birahi puja-puji. Sehingga sifat dan sikap untuk berbohong, menipu, khianat dan culas untuk membuat orang lain susah akan jauh dari perbuatan yang hendak dikakukan oleh diri sendiri. Sebab batin dan jiwa yang telah tertempa menjadi kuat dan kukuh hanya ingin berbuat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, termasuk alam dan segenap isinya yang telah diyakini dan dipercayai sebagai bagian dari ayat-ayat ilahi rabbi.
Behitulah hakekat Tuhan, alam dan manusia dalam siklus perputaran pengembaraan spiritual yang tak pernah henti, kecuali setelah mati. Karena memang laku spiritual sungguh tiada bertepi.