Sholat Dalam Ajaran Syekh Siti Jenar : Antara Syariat Dan Hakikat
“Sholat Dalam Ajaran Syekh Siti Jenar: Antara Syariat Dan Hakikat”
Penulis : Abah Roy Ketua DPC Aswin Kota Cirebon
Syekh Siti Jenar dikenal dengan ajarannya yang mendalam tentang Manunggaling Kawula Gusti, yaitu penyatuan manusia dengan Tuhan. Salah satu aspek yang paling kontroversial dalam ajarannya adalah pandangannya terhadap syariat, terutama sholat. Banyak yang salah paham dan menganggap bahwa ia menolak sholat dalam bentuk ritual. Namun, jika dipahami lebih dalam, ajaran beliau bukan menolak sholat, melainkan menekankan makna hakikinya.
1. Sholat sebagai Jalan Menuju Kesadaran Ilahi
Dalam Islam, sholat adalah perintah Allah yang wajib dilakukan sebagai bentuk ibadah dan penghambaan. Al-Qur’an menyebutkan:
Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…”. (QSAl-Ankabut: 45)
Bagi Syekh Siti Jenar, sholat bukan sekadar gerakan fisik dan bacaan, tetapi harus menjadi sarana untuk mencapai kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri manusia. Ia mengajarkan bahwa sholat tidak hanya dilakukan lima kali sehari, tetapi setiap saat, dalam setiap tarikan napas dan dalam setiap tindakan.
Dalam ajaran tasawuf, konsep ini dikenal sebagai sholat daim (sholat yang terus-menerus), yaitu keadaan di mana hati selalu terhubung dengan Tuhan, bukan hanya dalam ritual, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.
2. Syariat vs. Hakikat dalam Sholat
Syekh Siti Jenar sering dianggap kontroversial karena ia berbicara tentang dua dimensi ibadah:
Syariat: Sholat dalam bentuk fisik sesuai dengan aturan Islam.
Hakikat: Sholat sebagai kesadaran jiwa yang selalu berada dalam kehadiran Tuhan.
Menurut beliau, seseorang yang masih berada dalam tahap syariat wajib menjalankan sholat secara lahiriah. Namun, jika sudah mencapai tingkat makrifat (kesadaran penuh akan Tuhan), maka ia telah berada dalam kondisi sholat daim, di mana dirinya selalu dalam keadaan ibadah tanpa terikat waktu dan tempat.
Hal ini mirip dengan ajaran tasawuf yang diajarkan oleh para sufi seperti Al-Hallaj dan Ibnu Arabi, yang menekankan bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang kesadaran ilahi yang melebur dalam diri manusia
3. Kontroversi dan Kesalahpahaman
Pandangan Syekh Siti Jenar ini dianggap berbahaya oleh sebagian ulama pada zamannya, karena dikhawatirkan bisa membuat orang meninggalkan sholat dengan alasan sudah mencapai kesadaran hakiki. Padahal, ajaran beliau tidak serta-merta menolak syariat, tetapi menekankan bahwa syariat harus mengantarkan seseorang kepada pemahaman yang lebih dalam, bukan hanya sebatas ritual kosong.
Beliau mengkritik orang-orang yang sholat hanya sebatas gerakan tanpa memahami maknanya. Baginya, seseorang yang hanya melakukan sholat secara fisik tetapi hatinya jauh dari Tuhan, maka ia belum benar-benar menjalankan sholat. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai dalam sholatnya.” (QS Al-Ma’un: 4-5)
4. Bagaimana Menerapkan Ajaran Ini?
Agar tidak terjadi kesalahpahaman, ada beberapa cara memahami hubungan antara syariat sholat dan hakikatnya:
1. Menjalankan sholat secara fisik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
2. Meningkatkan kesadaran dalam sholat, sehingga tidak hanya sekadar gerakan, tetapi benar-benar menjadi komunikasi dengan Tuhan.
3. Menjadikan hidup sebagai ibadah, sehingga di luar waktu sholat pun hati tetap terhubung dengan Allah dalam setiap tindakan.
Kesimpulan
Syekh Siti Jenar tidak menolak sholat, tetapi mengajarkan bahwa sholat sejati adalah kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap momen kehidupan. Syariat adalah jalan menuju hakikat, bukan tujuan akhir.
Bagi orang awam, sholat fisik tetap wajib dilakukan sebagai bentuk ibadah. Namun, bagi mereka yang telah mencapai tingkat spiritual tinggi, sholat bukan hanya ritual, melainkan kondisi jiwa yang selalu berada dalam ketundukan dan kebersamaan dengan Tuhan.
Dengan memahami ajaran ini, seseorang tidak akan meninggalkan sholat, tetapi justru semakin mendalami makna ibadahnya, sehingga sholat tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan dan kenikmatan spiritual.
Artikel ini merupakan hasil analisis dari berbagai sumber tentang ajaran Syekh Siti Jenar, terutama terkait konsep Manunggaling Kawula Gusti dan pemahaman tentang sholat dalam perspektif tasawuf Jawa. Beberapa referensi utama yang digunakan meliputi:
1. Kitab-kitab Serat Jawa – Seperti Serat Siti Jenar, Serat Wirid Hidayat Jati, dan Serat Cabolek, yang membahas ajaran-ajaran kejawen dan mistisisme Islam di Nusantara.
2. Ajaran Tasawuf Islam – Pemikiran tokoh-tokoh sufi seperti Al-Hallaj, Ibnu Arabi, dan Al-Ghazali yang memiliki kesamaan dengan filsafat Syekh Siti Jenar dalam memahami hubungan manusia dengan Tuhan.
3. Kajian Sejarah Islam Jawa – Studi dari sejarawan dan peneliti seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Dr. Agus Sunyoto yang meneliti peran tasawuf dalam penyebaran Islam di Jawa.
4. Al-Qur’an dan Hadis – Sebagai dasar utama dalam memahami konsep ibadah dan spiritualitas Islam.
Artikel ini bukan hasil cukilan langsung dari satu kitab tertentu, tetapi merupakan sintesis dari berbagai pemikiran yang berkaitan dengan ajaran Syekh Siti Jenar dan konsep sholat dalam mistisisme Islam dan kejawen.