Siti Khadijah Sosok Pejuang Sejati Yang Menjadi Idola Aktivis Perempuan Indonesia
Siti Khadijah Sosok Pejuang Sejati Yang Menjadi Idola Aktivis Perempuan Indonesia
Oleh : Jacob Ereste Wartawan Lepas
Paparan Yudha Gemin tentang Sosok Siti Khadijah, Istri Nabi Besar Muhammad SAW yang setia dan ikhlas mendampingi Nabi berjuang untuk membela umat Islam dan agama Islam sungguh patut diapresiasi sebagai penulis yang sebelumnya terkesan angop-angopan, tak serius dan cenderung haha hihi saja dalam hampir semua kesempatan. Utamanya acap terkesan suka ikutan latah memberi komentar kepada yang sering dia sebut “meling-meling” dan “bening” sehingga saya sering salah menduga seperti batu akik atau bangkoang yang terkelupas kulitnya siap untuk disantap.
Maka itu wajar kalau dia pun merumuskan revolusi bisa meletus hanya dengan tiga gabungan item yang melekat erat, katanya. Yaitu JBS (Jenius, Berani dan Simpatik) atau JBM katanya dalam rumus yang lain, yaitu Jenius, Berani dan Simpatik). Tapi sejujurnya pun saya tak paham untuk mengartikan dari rumusannya itu. Karenanya, bagus di lain kesempatan Yudha Gemin mau menguraikan relevansinya dari kedua rumusan untuk revolusi yang dianggap sukses bila bisa terjadi ledakan yang dia maksudkan itu.
Namun yang lebih patut dipuji adalah referensinya untuk mengacu kepada sosok Siti Khadijah seorang yang dia pahami sangat kaya sebagai konglomerat pada jamannya, tidak setengah hati untuk berjuang dan membiayai perjuangan Nabi Muhammad SAW. Konteks dari paparan ini Yudha Gemin menyandingkan langsung dengan para pejuang di Indonesia hari ini yang tampak setengah hati.
Artinya, memang Yudha Gemin fokus menyoroti mereka yang kasmaran pada revolusi tapi penjirih, takut terutama untuk menghibahkan harta dan kekayaannya yang ketika mati, mungkin menjadi biang keributan bagi para ahli warisnya, karena harta yang melimpah itu memang tak mungkin ikut dibawa ke liang kubur.
Sergahan Yudha Gemin ini perlu di apresiasi — pertama karena mutu referensi ulasannya seorang tokoh perempuan — sementara Yudha Gemin sendiri justru lebih banyak relasi berjenis perempuan dibanding yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi jelas paparan dia Ikhwal sosok perempuan sekaliber Siti Khadijah itu patut dijadikan tauladan, bukan sekedar figur yang cuma dikagumi saja, tapi harus dicontoh hingga ke perbuatan serta tindakannya yang tulus dan ikhlas penuh kesetiaan, tak hanya kepada Nabi, tapi juga konsisten terhadap komitmen perjuangan bersama untuk umat dan tegaknya agama yang diridhai Allah SWT.
Saya senang dengan paparan Yudha Gemin ini karena semakin bernas dan bermutu. Sehingga harapan kepada pemuda yang energik seperti Yudha Gemin bisa diharap munculnya secercah harapan menjadi penulis handal yang kritis, melihat dunia disekelilingnya yang paling dekat untuk kemudian menatap jauh sampai ke langit dengan beragam pelik meniknya yang lebih rijit dan lebih ruet.
Dan semua itu saya lihat sudah mulai dilakukannya dari hal-hal yang paling dasar dan paling dekat dengan diri dan jiwanya sendiri yang tak sedikit diidolakan oleh kawan-kawannya yang berlawanan jenis kelamin itu. Dan semoga saja kelak, dia pun menemukan tambatan hatinya yang selalu bergolak, memberontak hingga bisa teduh seperti Nabi yang juga diidolakannya. Yang pasti, daya abstraksi Yudha Gemin mengedepankan sosok pejuang sejati sekaliber Siti Khadijah merupakan kemajuan yang menakjubkan pada sosok aktivis Yudha Gemin yang tetap gigih — meski tertatih-tatih terus mengusung gerakan perlawanan dari Rumah Kedaulatan Rakyat “Guntur 49” ke Caffe Bintang, kembali lagi ke “Guntur 49”.
Evaluasi Dan Pembekalan Mahasiswa Prodi Keperawatan Di Polindra IndramayuINDRAMAYU-ASWINNEWS.COM- Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) menggelar evaluasi…