Oleh: Abdullah Karmadi
Anggota HMI Cabang Ternate.
Setiap usaha yang diawali dengan niat yang tulus diraih dengan jalan lurus dan bertawakal kepada Nya serta ikhlas mengharapkan ridho-Nya yakin
akan sampai kepada-Nya(Slamet).
Memperingati milad, adalah mengkonstruksi ulang perjuangan. HMI yang memasuki usia nya ke 78 benar-benar memasuki usia yang sudah dibilang “baby bomer” dalam pandangan generasi memasuki usia yang sudah tua. Kehadiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sempat menjadi kontraversi di kalangan organisasi muslim saat itu, Masyumi salah satunya.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang lahir pada tanggal 5 Februari 1946 atau bertepatan pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, oleh para mahasiswa tingkat 1 STI, yang dicetuskan dan diprakarsai oleh Lafran Pane, tanpa campur tangan pihak luar, kecuali oleh mahasiswa sendiri dalam ruangan kuliah mereka.
Proses perjalanan mengelola organisasi mendapat begitu banyak tantangan dan hambatan, mungkin karena HMI lahir di STI? Sehingga HMI harus membutuhkan mahasiswa diluar STI itulah mengapa ayahanda Lafran Pane memilih Mintareja salah seorang mahasiswa jurusan hukum Universitas Gaja Mada (UGM). Pesan morilnya adalah “agar HMI besar dan dikenal banyak orang”
Proses perjuangan HMI saat itu benar-benar Aski Nyata (Real Action). Dalam catatan Agus Salim Sitompul memberikan tiga fase perjuangan HMI; Fase Perjuangan Selama 63 tahun usia HMI, telah menjalani 10 fase perjuangan: 1.
Fase konsolidasi spiritual dan proses berdirinya HMI (1946-1947) 2. Fase berdiri dan pengokohan (5 Februari 1947 sampai 30 November 1947) 3. Fase perjuangan bersenjata dan perang kemerdekaan dan menghadapi pengkhianatan PKI I (1947-1949) 4.
Fase pembinaan dan pengembangan organisasi (1950-1963) 5. Fase tantangan I dan menghadapi pemberontakan PKI II (1964-1965) 6. Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang orde baru dan pelopor kebangkitan angkatan 66 (1966-1968) 7. Fase partisipasi HMI dalam pembangunan (1969-sekarang) 8. Fase pergolakan dan pembaharuan pemikiran (1970-1994) 9. Fase reformasi (1995-1999) 10. Fase tantangan II (2000-sekarang).
Kesepuluh fase itu 8 fase di antaranya dapat dilalui dengan baik, walaupun tidak luput dari berbagai kekurangan maupun kesalahan HMI serta dapat memberikan jawaban dan kontribusi yang terbaik kepada bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. (Agus Salim Sitompul, 2004).
Fase perjuangan HMI dari tahun ke tahun selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman, akan tetapi tidak pernah meninggalkan subtansi awal kehadiran HMI berdiri? Memasuki usia 78 Tahun ini, muncul pertanyaan besar fase dan perjuangan apa yang dilahirkan oleh kader HMI?.
HMI harus melahirkan kader-kader visioner, berintelektual dan mempunyai spiritual yang tinggih. Oleh karena itu, kader HMI harus membuat terobosan-terobosan dalam menyongsong kepempinan nasional mendatang.
Hal hasil secara structural HMI, pengurus besar HMI harus mampu memetahkan tiap-tiap local wisdom cabang se-Indonesia, sehingga cabang dan PB HMI berjalan seiramah dalam memberikan respon terhadap stuasi Nasional.
Pemetaan kondisi cabang harus punya kajian strategis, sesuai GBHO organisasi sehingga, kader HMI tidak mengalami disorientasi perjuangan.
Disorentasi banyak terjadi di tubuh HMI, dari pusat (PB) bahkan sampai ke cabang (Daerah/Kota).
Kader yang masih aktif menjadi pengurus dan mulai terlibat politik praktis menuai ketidakstabilan dalam tubuh HMI, kuatnya conflict of interest (konflik kepentingan) membuat marwah Himpunan “memburuk” tidak hanya sebatas itu, HMI telah kehilangan khitta perjuangannya sekalipun tidak serentak di semua cabang.
Kita bisa melacak hal itu dengan menjadikan PB (Pengurus Besar) HMI dalam mengawal agenda keumatan dan kebangsaan, sajauh ini HMI hanya membuat agenda momentum semata, namun bukan berarti HMI harus melapas roh awal kehadirannya. Sempat muncul pro dan kontra lewat bebera tulisan-tulisan opini para senior HMI dan bahkan HMI diminta untuk dibubarkan saja?.
Kita bisa melihat beberapa gerakan HMI beberapa tahun terakhir dinilai semacam dianulir oleh kelompok-kelompok tertentu semata, hal hasil PB HMI tidak lagi menjadi cermin bagi kader HMI. Selanjutnya apa yang telah di ramalkan oleh Agus Salim Situmpul, tentang “44 Indikator Kemunduran HMI” benar-benar terjadi di tahun sebelumnya bahkan menjemput 78 lahirnya HMI.
Polemic-polemic di tubuh HMI menjadikan daya gerak HMI semacam mengalami stagnasi, baik pada tataran besical intelektual maupun pengawalan terhadap masalah-masalah sosial-kebangsaan. Yang harus dibenahi adalah soal-soal posisi HMI dalam melakukan kebijakan yang tidak memihak kepada Masyarakat.
Yang seharusnya dipikirkan HMI adalah bagaimana HMI mempersiapkan kader-kadernya yang multifungsi dan mampu bersaing di teknologi sebagai ruang belajar dan edukatif agar berdampak terhadap Masyarakat.
Perjalanan panjang HMI dalam memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara lewat para kader-kader maupun alumni adalah bukti konkrit bahwa HMI memang masih komitmen terhadap tujuannya. Namun, saya tidak ingin kita sebagai kader HMI hanya bersembunyi di balik kejayaan masa lalu HMI.
Benar kader HMI harus mampu survive, dengan bermodalkan intelektual kader HMI bisa hidup dimana pun, Menurut Gramsci, kaum-kaum terdidik (mahasiswa) seharusnya didorong untuk menjadi kaum intelektual organik. Kaum-kaum yang sadar akan posisinya di dalam kerangka struktur kemasyarakatan. Kaum terdidik yang mampu memberikan kontribusi positif dalam masyarakat.
Kontribusi positif tidak selalu ditunjukkan dengan sikap resistensi terhadap pemerintah. Walaupun pada kenyataannya banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro dengan rakyat (Hasanuddin, & La Ode Nur Slamet).
Instrument untuk menuju Gools HMI adalah membuat GBHO HMI, menciptakan pola perkaderan yang relevasan dengan zaman, melakukan diskusi-diskusi intelektual, berpartisipasi aktif dalam pembuatan kebijakan, ikut mempresure masalah keumatan, dan turut terlibat dalam memberikan edukasi terhadap pelajar.
Apa pun roll model perjuangan HMI intinya mengarah pada gools nya, “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi Yang Bernafaskan Islam dan Bertanggunjawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Di Ridohi Allah SWT” inilah alasan HMI masih eksis di usia yang ke 78 Tahun.
Somaga kader HMI mampuh melahirkan generasi-generasi pemimpin masa depan yang bertanggungjawab atas kondisi umat dan bangsa. Oleh karena itu, 78 Tahun kelahiran HMI, kader HMI harus kembali pada khitta perjuangan. Yakin dengan Iman Usaha degan Ilmu sampaikan dengan Amal Perbuatan.
Ternate Malut. 4 Februari 2025