Banda Aceh-aswinnews.com- Kepala Staf Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kasdam IM), Brigadir Jenderal TNI Ayi Supriatna, S.I.P., M.M., bersama sejumlah tokoh Aceh berpartisipasi dalam program Tanam Hijaukan Nanggroe (Tahiroe) yang digelar untuk memperingati 20 tahun tragedi Tsunami Aceh. Kegiatan simbolis ini berlangsung di halaman Kompleks Wali Nanggroe, Banda Aceh, Selasa (24/12/2024), dengan menanam pohon khas Aceh, yakni jeumpa dan seulanga.
Dalam sambutannya, Kasdam IM menyampaikan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai wujud penghormatan kepada alam dan upaya bersama untuk membangun Aceh yang lebih hijau dan berkelanjutan.
“Penanaman pohon ini tidak hanya simbol, tetapi langkah nyata kita untuk melestarikan lingkungan dan mengenang para korban Tsunami Aceh yang telah menjadi bagian dari sejarah kita,” ujar Brigjen TNI Ayi Supriatna.
Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di Banda Aceh, tetapi juga dilakukan secara serentak melalui konferensi video (vicon) ke seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Hal ini menunjukkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan TNI dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan hidup di wilayah Aceh.
Di setiap kabupaten/kota, perwakilan masyarakat bersama pemerintah daerah turut menanam berbagai jenis pohon lokal, termasuk jeumpa dan seulanga yang memiliki nilai budaya tinggi bagi masyarakat Aceh. Penanaman ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Acara ini juga menjadi momen refleksi bersama untuk mengenang 20 tahun tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004. Wali Nanggroe Aceh, yang hadir dalam acara tersebut, menyampaikan pesan tentang pentingnya menjadikan tragedi tsunami sebagai pelajaran untuk memperkuat persatuan, solidaritas, dan komitmen bersama dalam menjaga alam.
“Melalui program Tahiroe ini, kita tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan dan optimisme untuk Aceh yang lebih baik. Jeumpa dan seulanga yang kita tanam hari ini menjadi simbol kebangkitan dan kelestarian budaya Aceh,” ungkap Wali
Puspendam
Bejo