Terapi Hortikultura Untuk Pemulihan Korban Pasca Gempa
Sumedang-aswinnews.com-Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil langkah tanggap bencana, melalui pendekatan inovatif yang melibatkan terapi hortikultura.
Program ini, dirancang untuk membantu pemulihan fisik dan mental korban, dilaksanakan di Desa Cipamengpeuk, Kabupaten Sumedang.
Ketua Penelitian dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)-ITB, Dr. Eka Ramadhani Putra menjelaskan, bahwa terapi hortikultura merupakan metode komplementer yang menggunakan kegiatan berkebun untuk meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraan mental.
Menurut Dr. Eka, aktivitas berkebun memiliki manfaat fisik yang signifikan.
“Kegiatan ini sangat penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama dalam memperkuat tubuh, memperbaiki keseimbangan, dan meningkatkan ketahanan fisik. Hal ini mendukung produktivitas dan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya,Jum’at (22/11/2024) di Sumedang.
Pendekatan ini juga mengintegrasikan pengolahan limbah organik melalui budidaya larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF). Larva BSF mampu mengurai limbah organik menjadi pupuk berkualitas tinggi yang digunakan dalam program pertanian organik.
“Budidaya BSF menawarkan solusi efisien untuk pengelolaan limbah organik dan menghasilkan pupuk organik yang meningkatkan kesuburan tanah. Dalam konteks terapi hortikultura, ini memberikan manfaat ganda mengurangi limbah lingkungan dan mendukung pertanian berkelanjutan,” tambah Eka.
Ia menambahkan, Program ini merupakan hasil kolaborasi tim gabungan dari ITB dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN) Bandung. Selain manfaat fisik, program ini juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat tentang pertanian berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.
Dr. Eka menambahkan bahwa hasil terapi menunjukkan peningkatan mobilitas, kekuatan otot, dan fungsi kardiovaskular peserta. Selain itu, terapi ini memperbaiki keseimbangan tubuh, meningkatkan daya tahan fisik, dan membantu mengurangi risiko penyakit akibat gaya hidup pasif.
Selain manfaat fisik, terapi hortikultura memberikan efek positif terhadap kesehatan mental dan hubungan sosial.
“Melalui kegiatan berkebun, peserta dapat merasakan relaksasi mental sekaligus mempererat ikatan sosial dengan sesama. Hal ini berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia berharap, dengan hasil yang menjanjikan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB berharap pendekatan terapi hortikultura ini dapat diterapkan di berbagai daerah lainnya. Program ini diharapkan menjadi solusi inovatif untuk masalah kesehatan masyarakat sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan melalui pengelolaan limbah organik.
Herman