Jombang-aswinnews.com- KH Abdul Mun’im DZ,sejarawan NU dan Penulis berbagai Buku Nahdatul Ulama,termasuk buku tentang ‘Benturan NU Dengan PKI 1948-1965’ mengatakan, bahwa, gagasan menghidupkan tradisi kajian keagamaan (NU) sebagaimana yang dilakukan Cak Anam (almarhum Drs H Choirul Anam), adalah sangat penting dan strategis.
“Tidak terasa, sudah satu tahun Cak Anam meninggalkan kita. Saya termasuk yunior yang banyak dikader Cak Anam. Cak Anam itu sosok lengkap. Menjadi idola anak muda saat itu. Otaknya berisi, pikirannya berisi, perut pun terisi,” demikian disampaikan Kiai Mun’im DZ saat berbicara di depan keluarga Cak Anam, Minggu (20/10/24).
Kiai Mun’im mendukung penuh upaya keluarga melestarikan pemikiran Cak Anam lewat Halaqah Rutin di Rumah Gedhe Cak Anam, di Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
“Betapa senang beliau, ketika menyaksikan dzuriyah ikut meneruskan rekam jejak perjuangannya. Saya yakin, gagasan ini akan menjadi amal jariyah Cak Anam yang tak terputus,” tambahnya.
Ia kemudian menjelaskan kisah panjang perjuangan Cak Anam yang tidak tertulis di media. Sebagai wartawan Majalah Tempo, nama Cak Anam begitu moncer di pelataran kampus. Apalagi kemudian memimpin PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Jawa Timur dan GP Ansor Jatim.
“Kedekatannya dengan Gus Dur membuat Cak Anam semakin terkenal. Gus Dur kalau ke Jawa Timur, pasti apa kata Cak Anam,” tegasnya.
Yang sulit dilupakan dari sosok Cak Anam, katanya, adalah kepeduliannya membimbing generasi penerus. Bukunya berjudul ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’, menjadi pembuka jagat intelektual nahdliyin. Sebelum buku Cak Anam itu terbit, warga NU sulit sekali menemukan referensi ke-NU-an yang lengkap.
“Saya mengenal banyak tentang NU, cinta dengan NU dari buku Cak Anam,” tegasnya.
Masih menurut Kiai Mun’im, Cak Anam bukan sekedar menemani generasi muda NU bergerak, tetapi juga mambantu kesulitan-kesulitannya. Termasuk lobi-lobi pejabatnya begitu kuat.
Ini membuat gerakan perjuangan nahdliyin muda, berjalan dengan baik.
“Saat itu, semua acara harus izin pemerintah. Kedekatan Cak Anam dengan pejabat membuat acara berjalan lancar,” tegasnya.
Ia juga mengisahkan saat bedah sosok KH Zainul Arifin, yang mendapat bantuan Cak Anam. Seperti diketahui, Kiai Zainal Arifin ini merupakan salah satu tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia, terlebih jika mengingat jasanya yang melindungi Presiden Soekarno dari percobaan pembunuhan pada saat salat Idul Adha.
Zainul Arifin merupakan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di era kemerdekaan Indonesia. Ia terkenal akan kemampuan debat dan pidatonya. Bahkan sukses menduduki jabatan Ketua Cabang NU hanya dalam waktu beberapa tahun saja setelah bergabung. Cak Anam sangat peduli dengan perjuangan.
“Saat itu, bedah buku sosok Zainul Arifin, ketika ada kesulitan, Cak Anam yang turun tangan,” tegasnya.
Karenanya, Kiai Mun’im berharap gagasan menghidupkan tradisi halaqah di Rumah Cak Anam ini, patut diapresiasi. Menjadikan rumah singgah Cak Anam di Jombang sebagai pusat kajian ke-NU-an, sangat diperlukan.
“Di samping sebagai basis pesantren besar, ada Pesantren Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, Darul Ulum Rejoso, muassis NU juga banyak dari pesantren Jombang. Apalagi ada Taswirul Afkar dari keluarga Kebondalem, Surabaya yang bisa melengkapi kajian ini,” tegasnya.
Hadir dalam pembukaan kajian ‘Revitalisasi Komite Hijaz’ adalah Dr (HC) Drs KH Hasib Wahab (putra muassis NU almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah), Kiai Abdul Mun’im DZ (sejarawan NU), Bu Nyai Hj Hasib Wahab, Dr Hj Chumaidah dari STIT, UW Jombang, Hj Emi Syamilah Saadah MpD (istri Cak Anam) dan seluruh keluarga Cak Anam.
Juga tampak hadir, Dr Muhammad Mukhrojin, Ketua MUI Sukolilo Surabaya, KH Mahmudi Syafaat, Pengasuh PP Darus Sholihin, Palurejo, Sumbersewu, Muncari Banyuwangi, serta sejumlah aktivis NU Jombang seperti Mohammad Faizuddin, Hartono dan teman-teman Banser GP Ansor Jombang.(*)